Selasa, 11 Februari 2020

Spasi diantara waktu

Menikmati musim gugur dipulau Nami, menyaksikan ribuan daun-daun kemerahan gugur dari tangkainya, dan bersenda gurau diatas kain yang tergelar dengan makanan-makanan ringan bersama orang yang berharga. Seharusnya itu yang dilakukan Jihyun saat berada disana. Namun, berbeda dari bayangannya, ia malah berdiri sendiri diujung keramaian itu, tersingkir dari sekumpulan orang yang tengah tertawa bahagia.

Jihyun mengangkat salah satu sudut bibirnya, tersenyum miris ke arah mereka. Selalu, sejak dulu ia bagai bayangan tak kasat mata untuk mereka, ia seperti tidak ada kaitan apapun. Tidak ada kata keluarga yang disematkan untuknya.

Itu memang menyakitkan, membuat Jihyun terisolasi dari lingkungannya. Perempuan yang memiliki lesung pipi setiap kali tersenyum itu, selalu merasa tak memiliki tempat berlindung lagi semenjak ayah dan ibunya memutuskan berpisah. Cinta sempurna yang ia lihat dan kagumi dari keluarganya hilang tak berbekas. Itu ikut menghempaskannya dalam lubang hitam yang tak Jihyun tahu jalan keluarnya.

Keserakahan ayahnya tentang wajah cantik setiap wanitalah yang menjadi pemicunya. Niat yang hanya mencari kesenangan sementara berkembang menjadi kecanduan yang tak bisa dielakkan. Hingga disatu waktu, ibunya memergoki kelakuan busuk pria itu. Tentu, sebagai wanita ia tak menerimanya. Semua waktu dan pengorbanan yang ia berikan menjadi sia-sia.

Tanpa adegan drama dengan berbagai keributan dan teriakan, ibunya hanya memberikan surat gugatan yang tinggal disetujui ayahnya. Wanita itu tidak meninggalkan sedikitpun jejak airmata diwajah cantiknya.

Awalnya, Jihyun sangka wanita itu menyembunyikan lukanya. Ia kira ibunya adalah sosok pemaaf paling hebat dalam dunianya sehingga dia tidak berpikir dua kali untuk ikut dalam hak asuhnya. Tapi terkadang, kenyataan lebih menyakitkan dari apa yang diduga. Karena tepat satu minggu setelah sidang perceraian selesai, ibunya menikah lagi dengan pria yang merupakan kekasihnya dimasalalu. Dan mereka sudah kembali menikmati cinta yang telah berlalu itu sebelum ibunya bercerai, sebelum ayahnya begitu gila mencari beribu wajah cantik untuk memuaskannya. Itu sangat menjijikan untuk Jihyun.

Sejak itu Jihyun semakin menutup diri, tidak banyak tawa cerita dan rengekan manja seperti sebelumnya. Ia banyak merenung dan kecewa pada keadaan yang ada, membuatnya tak banyak bergaul dengan anak sebayanya disekolah.

Sampai ditahun kedua setelah perpisahan orangtuanya, ibunya melahirkan bayi laki-laki untuk keluarga itu. Semua cinta yang pudar makin tak berbekas untuknya karena semua perhatian kecil dari ibunya hanya tercurah untuk bayi itu. Tidak ada lagi yang mendengarkannya untuk berkeluh kesah.

Jihyun tumbuh menjadi remaja yang cantik dan berprestasi, meski aura dinginnya masih membuatnya tak mendapatkan teman sama sekali. Dan itu tak membuatnya terlepas dari para penindas dikelasnya. Karena wajah cantiknya, seringkali para lelaki kurang ajar itu mencegatnya, membelai wajahnya dengan sesuka hati mereka lalu meludahi wajahnya dan menyeringai dengan bualan jika dia adalah perempuan paling tidak berguna didunia. Jihyun benci, namun ia tak bisa melawan. Dia terlalu lemah untuk melawan anak pemilik sekolah itu, yang ada dia yang mungkin ditendang dari sekolahnya.

Sampai suatu waktu, tindakan mereka sudah diluar batasnya. Para pemuda itu mempermalukannya dikelas, dipuluhan pasang mata para siswa baik dari kelasnya atau dari kelas lain. Jihyun sudah terkapar tidak berdaya dari beberapa pukulan yang ia dapat dari mereka. Masalahnya sepele, hanya karena Jihyun membalas tatapan tajam mereka dan menampar ketua dari biang rusuh itu karena dengan tidak sopan menyentuh tubuhnya sembarang.

Yang didapat Jihyun lebih parah, tamparan dan tendangan telak ditubuhnya yang lemah. Bahkan tanpa ampun sedikitpun, pemuda itu menjambak rambut panjang Jihyun dengan keras. Tangannya yang kurang ajar kembali menggerayangi bagian tubuh Jihyun. Banyak yang menatap gadis itu kasihan, tapi tidak ada yang membantu. Mereka tak mempunyai nyali untuk berurusan dengan orang yang memiliki kuasa disekolah itu.

Jihyun menangis dalam ringisannya, hatinya sakit, harga dirinya sakit. Ia hampir ditelanjangi didepan umum jika saja tidak ada kepalan tangan yang menghantam rahang si pria kurang ajar. Sementara mereka berkelahi, Jihyun beringsut ke pojok kelas, bajunya yang sudah sobek ia benahi untuk menutupi tubuhnya. Ia menangis dengan pilu disana.

Dan setelah pertikaian selesai, sosok itu menghampiri Jihyun. Menyampirkan jaket hangatnya untuk menutupi tubuh gadis itu. Tanpa mempedulikan tatapan heran oranglain, dia membawa Jihyun keluar dari kelas dan berlalu dari pandangan rasa terkejut semua siswa. Begitu heroik, sama seperti prontagonis pria dalam drama televisi kebanyakan.

Jaehyun, pemuda jangkung berkulit putih pucat itu yang menolongnya. Pria yang telah lama hilang dari pandangan Jihyun karena sejak mulai duduk disekolah menengah telah terbang ke negara lain untuk melanjutkan pendidikannya. Rasanya seperti mimpi bertemu lagi dengan pria itu. Jihyun pikir, tidak akan ada kesempatan lagi bertatap dengan wajah tampannya.

Takdir bagai pisau tajam yang terus diasah untuk selalu menusuk Jihyun. Setelah kejadian disekolah kala itu, seperti semua perkiraan pemilik sekolah marah besar. Namun bukan untuk mengasihani Jihyun, dia murka karena anaknya babak belur sampai lengan kirinya patah. Jihyun pun tak terlepas dari disalahkan dan dikeluarkan saat itu juga. Tak ada murid yang berniat menjadi pembicara atas pelecehan Jihyun, padahal dari awal hingga akhir mereka menyaksikan semuannya. Sedang Jaehyun, ia tak tahu kemana pria itu kembali pergi.

Ibunya kecewa, ia lebih mempercayai penjelasan sekolah dari pada ucapan anaknya sendiri. Jihyun mengalami kesedihan yang lebih dalam lagi.

Seakan tak cukup sampai disana, luka yang didapat Jihyun makin perih terasa saat ayah tirinya mencoba untuk melecehkannya juga. Ada sedikit keberuntungan ia bisa melepaskan diri dari cengkramannya. Namun tetap saja sandiwara tetap menjadi pemenang daripada kebenaran, karena pada akhirnya ibunya pun lebih percaya pada pria itu, pria yang hampir merenggut masa depan putrinya. Dan seakan tak cukup dengan luka karena dua kepercayaan yang telah ia hempaskan, wanita yang selama ini Jihyun jadikan acuan hidupnya mengusirnya, seakan tidak ingat jika dia masih darah dangingnya sendiri.

Jihyun hanya pergi dengan hati yang hampa. Tidak ada yang ia bawa bersamanya, entah itu uang, ponsel atau pakaian sedikitpun. Pikirannya terlalu kacau untuk semua yang telah dia alami.

Disaat terombang-ambingnya itu takdir menyeretnya kembali pada Jaehyun. Laki-laki itu telah lama berdiri didepan pagar rumah mewah itu, berdiri dengan wajah yang tidak yakin. Dan setelah melihat Jihyun keluar dengan wajah yang begitu berantakkan, pria itu tidak bisa diam. Dia langsung melangkah dan mendekap gadis itu dengan hangat. Ikut merasakan sesak yang terpancar dari sepasang mata coklat milik Jihyun.

"Mama bukan lagi Mama ku.."

Kalimat dengan nada putus itu yang pertama terlontar dari bibir tipis Jihyun. Jaehyun tertegun, melihat sorot tak berdaya itu dari wajah Jihyun yang ia ketahui selalu ceria, membuat hatinya berdenyut sakit. Jaehyun lupa berapa waktu yang ia lewatkan untuk pergi dari sisi gadis itu.

Semenjak itu, Jaehyun yang menjaga Jihyun. Dia yang membiayai pendidikan gadis itu dan kebutuhan hidupnya. Jaehyun tidak pernah mengungkit apapun lagi tentang keluarga Jihyun. Mereka menjalani hidup dengan normal dan menyenangkan. Bahkan senyuman Jihyun yang hilang, perlahan kembali dan semakin merekah setiap harinya. Tapi sepertinya takdir tak membiarkannya untuk bahagia lebih lama. Karena kemudian Jihyun mendapatkan rasa yang salah.

Gadis itu menemukan Jaehyun sebagai cinta pertamanya.

Jihyun tidak pernah berani mengatakannya. Ia lebih memilih untuk menekan rasa dan menikmati rindu bercampur pilu itu. Karena sampai kapanpun cinta itu tak akan mungkin terbalas untuknya. Sama seperti senja yang mengharapkan bertatap dengan rembulan. Terlalu mustahil. Apalagi Jaehyun sendiri sudah memiliki gadis yang dicintainya, yang ia simpan sepenuhnya dalam hatinya.

"Bukankah tak baik melamun dihari bahagia seperti ini?"

Suara familiar itu membuyarkan lamunan Jihyun. Dia menoleh dan tersenyum kearah Jaehyun, menutupi luka yang semakin perih terasa.

"Kenapa kau disini?" Jihyun berkata tenang, suaranya seindah gemuruh ombak yang menghantam karang. Tak akan bosan jika didengarkan.

"Apa aku tak boleh duduk bersamamu?"

Jihyun tersenyum kecut. Bagaimana ia bisa mengubur semua cintanya jika lelaki itu terus mendekatkan diri padanya, walau sebenarnya tidak ada yang salah tentang itu.

"Kau sudah memiliki istri saat ini."

"Apa yang salah? memangnya ada aturan jika menikah aku tidak boleh dekat denganmu?"

Jihyun menggedikkan bahunya acuh, meski dalam hati ia ingin berteriak jika sikap pria itu malah semakin membuatnya terjatuh saat ini.

Jaehyun merangkul bahu sempit Jihyun, matanya mengelana ke arah kumpulan orang yang diperhatikan Jihyun sejak tadi. "Setidaknya kau harus ikut bergabung dengan mereka dan mulai berdamai."

Jihyun tertawa, merasa lucu dengan perkataan pemuda itu. Meski sekarang ayahnya sudah berhenti mencari wanita pemuas seperti dulu, dan ibunya sudah berpisah dengan si brengsek yang ternyata seorang bandar pengedar narkoba. Dan meski mereka meminta maaf atas semua kesalahan besarnya pada Jihyun dengan tulus, itu tak membuat setiap bayangan kelam terhapus dari ingatan gadis itu. Hati Jihyun sudah terlanjur mati untuk menerima mereka kembali. Bahkan hidupnya makin tak berarti karena kehilangan cinta lelaki disampingnya itu.

"Kau tahu pasti jawabanku."

Jaehyun menghela nafasnya berat, sebelah tangannya mengusap surai sewarna mahoni milik Jihyun. "Tidak bisakah kau mencoba lagi?"

"Jika karena kau sudah tak bisa disampingku karena pernikahanmu ini, berhentilah memintaku untuk menerima mereka kembali. Jangan khawatir, karena saat ini aku sudah bisa menjaga diriku sendiri. Aku bukan Jihyun yang lemah seperti dulu." Jihyun kembali tersenyum, lesung pipinya menambahkan keindahan wajahnya. Serupa dengan sakura yang mengiasi musim semi. Sangat cantik.

Jaehyun membawa gadis itu dalam pelukannya, memberikan gambaran permintaan maaf dalam benak Jihyun karena tak bisa membalas perasaannya.

"Jangan berpikiran seperti itu. Aku akan selalu melindungimu kapanpun Jihyun-ah, meski aku sudah memiliki istri, anak atau cucu sekalipun. Karena kau tetap adikku sampai kapanpun."

Jihyun tersenyum pilu didalam dekapan lelaki itu, karena benar yang diucapkan Jaehyun. Sampai kapanpun dia adalah adiknya, tidak akan ada yang berubah dari itu.

Seandainya bisa, Jihyun ingin menciptakan ruang dalam waktu, menghentikan detik dan menit yang berputar menjadi satu kesatuan. Ia ingin menghentikan kepahitan yang ia tuai saat ini. Mungkin dengan kembali menyeret waktu dimasa ia menyadari ketergantungannya berubah menjadi romansa pada Jaehyun, atau setidaknya kemasa ia terkurung dalam kesedihan dan mengabaikan uluran tangan Jaehyun, atau mungkin kemasa harusnya ia terlahir kedunia, ia memiliki orang tua yang berbeda. Bukan berbagi darah yang sama dengan pria yang kedepannya akan membuatnya jatuh cinta.

Jaehyun kakaknya, saudara kandungnya dari orangtua yang sama. Dan selamanya, tak akan pernah ada kesempatan untuk saudara mengikat jalinan percintaan. Itu telalu gila dan melawan kehendak Tuhan.

Jihyun pun tahu itu, ia sangat mengerti pada kata ketidakmungkinan. Namun kembali, bagaimana ia harus menyudahi perasaan itu pada Jaehyun jika yang selama ini yang membawanya dalam kenyamanan hanyalah Jaehyun.

"Lepaskanlah, aku sudah tidak tahan dengan badanmu yang semakin bau, Okay." Jihyun mendengus sebal. Wajah manisnya tertekuk semakin menggemaskan untuk Jaehyun.

Jaehyun tertawa, ia menjentikkan jarinya didahi gadis itu. Menggoda adiknya selalu menjadi hal kesukaannya sejak mereka kecil dulu.

"Enak saja, bagaimana orang tampan sepertiku menjadi bau?"

"Sudahlah kak, bukankah ini waktunya berfoto, kenapa kau masih disini?"

Jaehyun merengut, "Kau juga harus ikut berfoto kalau begitu."

Tangan Jaehyun menggenggam pergelangan tangan Jihyun dan beranjak, namun Jihyun masih duduk dengan tenang tanpa berniat sedikitpun mengikuti sang kakak. Alis Jaehyun terangkat. "Ayo." ajaknya lagi.

Jihyun menggeleng pelan, tangannya melepaskan genggaman Jaehyun. "Kau bisa duluan, aku akan menyusul setelah mereka selesai."

Jaehyun mendesah kecewa, namun dalam beberapa detik senyuman kembali tergambar dalam wajahnya. Hanya senyuman tipis yang membuat lesung pipinya muncul sedikit. Ia mengerti berada dekat orang yang menyebabkan masalalu kelam masih sangat menyiksa untuk Jihyun, dia tidak bisa memaksakannya lagi.

"Tapi kau harus janji untuk kesana juga, Okay."

Jihyun hanya mengangguk pelan. Pandangannya mengikuti langkah mantap Jaehyun ke arah pengantin wanita. Melihat semerbak kebahagiaan yang terpancar diwajah keduanya, membuat satu sisi dihati Jihyun berdenyut sakit. Cinta yang Jaehyun bagi untuk perempuan itu berbeda dengan cinta yang diberikan padanya. Semua sudah jelas menunjukkan mustahil yang seharusnya Jihyun pahami, mungkin memang Jihyun mengerti itu, hanya saja ia menutup mata dan telinganya. Menghiraukan kebenaran yang ada untuk mempertahankan cintanya yang semakin dalam pada Jaehyun. Sampai terlambat untuk dia pergi darinya saat ini.

Jihyun menengadahkan wajahnya, menatap hamparan daun-daun kemerahan yang sedang berguguran. Mereka terombang-ambing terbawa angin, sama seperti perasaannya sejak dulu sampai sekarang. Tidak pernah ada landasan, tidak ada pemberhentian untuk hatinya berlabuh dan menetap hingga maut menjemput. Itu hanya menjadi mimpi dan angan-angan Jihyun yang tidak berkesudahan.

Semilir angin yang kembut ikut membelai wajahnya, seolah sedang menghapus airmatanya yang tak terlihat jejaknya. Jihyun memejamkan netra coklatnya, menikmati kedamaian sesaat yang ia rasa. Jihyun membuka mata hanya untuk kembali melihat ribuan daun yang semakin bersemangat meninggalkan tangkai. Berkorban begitu besar agar pohon itu tetap hidup. Tidak heran, daun mapel yang gugur melambangkan kesetiaan yang mendalam.

"Apa aku juga harus seperti mereka untuk membuatmu bahagia, kak Jaehyun?"

Rabu, 22 Mei 2019

How to setting of Gmail to be connected to outlook? ( UAS Office3 )



How to setting of Gmail to be connected to outlook?


  •          First, log in your e-mail.
  •          Select setting
  •          Select account and import
  •          Select ‘setelan akun google lainnya’

Aisyah Risma Juliani 1 till Aisyah Risma Juliani 3

  •         Select security / keamanan
  •      Turn on ‘ Akses Aplikasi yang kurang aman'

Aisyah Risma Juliani 2 till Aisyah Risma Juliani 3

  •   Log in outlook with your e-mail address
  • Congratulations you connected the outlook with your e-mail






Aisyah Risma Juliani 3 till Aisyah Risma Juliani 3





Thank you So much for your attention, I hope you can enjoy with my blog.




Sabtu, 27 April 2019

How to set up email outlook?







Assalamualaikum guys, come back with Moonais blog !
now i will share about How to set up email outlook?

so, let's start !!


1. Log in your e-mail



2. Select setting 




3. Select account and import


4. Click keamanan tools


5. Enabling Akses aplikasi




6. You will get a notification message





7. Click settings and select penerus and POP/IMAP, and enabling POP





8. Open outlook and enter your e-mail address




9. Enter your e-mail password


10. Click OK




11. And outlook is connected with your e-mail





Thank you for look to this tutorial
If you like this tutorial, you can download it !!





Selasa, 05 Maret 2019

Tutorial about File Sharing


  •  Make folder in your computer (D:)
  • Click you folder and choose Give Access to, then click Speciffic people
 
  • Choose "Everyone" in a list table and click Add



  • Click Share 

  • Click done 


CLICK HERE FOR DOWNLOAD THIS TUTORIAL download


 
 

Selasa, 26 Februari 2019

Bagaiamana cara Sharing File dalam komputer ?

Dijaman yang serba canggih ini semua kegiatan sudah didukung dengan fasilitas Teknologi, termasuk dalam kegiatan pembelajaran pun. Dan dalam kesempatan ini saya akan membagikan sedikit ilmu yang telah dipelajari dalam menggunakan teknologi dalam belajar. berikut adalah langkah-langkah membuat dan membuka Sharing File dalam komputer :

1. Buka Data (D:) dalam komputer anda
2. Buat folder baru dengan nama yang anda inginkan
3. Klik folder yang telah anda buat dan klik kanan hingga menampilkan pilihan 
4. Pilih Share with, lalu pilih Speciffic people
5. Klik list yang ada dan pilih Everyone
6. Pilih Read dalam Permission level, agar orang yang membuka file anda hanya dapat membaca file tersebut tanpa bisa diubah ( Keterangan : jika anda mengizinkan orang yang membuka file anda untuk bisa mengedit atau mengubah file anda, anda dapat memilih Read/Write, dan Remove untuk membatalkan.
7. Klik Share
8. Klik done

Cara mengetahui ip adress untuk anda berikan kepada orang lain/ teman supaya bisa mengakses data anda :

 1. Klik kanan pada tab Windows
2. Pilih Task Manager
3. Pilih Performance
4. Anda bisa menemukan Ethernet dan anda bisa mengetahui ip adress anda dalam label IPv4 adress
5. Tekan tombol Windows + R lalu copykan ip adress yang ada

Selamat teman anda sudah bisa mengakses data dalam komputer anda.

Terima kasih sudah mengunjungi blog ini, dan selamat mencoba !! jangan lelah mencoba ya see you

Selasa, 29 Januari 2019

Kpop Dance Practice

NCT 127 - Regular ( English Ver. )

NCT 127 adalah salah satu sub unit dari boyband muda Korea NCT ( Neo Culture Technology ) yang berasal dari SM Entertaiment. 

Minggu, 27 Januari 2019

Choose the heart

Title : Choose the heart

Author : AisyKim22

Length : Oneshoot

Rated : T

Main Casts: Do Kyungsoo ( D.O EXO ), Kim Yoojung, Kim Sohyun and others.

Summary :
Do Kyungsoo, laki-laki dingin yang jarang mengekspresikan perasaannya melalui raut wajahnya. Berkutat dengan dunia sepinya membuat ia acuh dengan interaksi sekitar. Hingga suatu hari Kyungsoo bertemu dengan Yoojung, gadis periang yang menggemari dunia kepenulisan yang mirip dengan orang dari masalalunya, membuatnya terbiasa dan nyaman atas keberadaan gadis itu. Dan saat ia yakin dengan apa yang dia rasa, Sohyun, kisah lamanya kembali hadir membawa kebenaran atas masalalu yang dia tinggalkan. Membuat Kyungsoo bimbang, dan tak ingin melepaskan keduanya. Namun, mau bagaimanapun ia harus memilih salah satu diantara gadis dengan tingkah yang sama, kegemaran yang sama, dan cinta yang sama. Lalu siapakah yang akan Kyungsoo pilih? Melangkah ke depan dengan Yoojung? Atau kembali mundur pada lembaran lalu bersama Sohyun?

.
.
.
.

Helaan nafas bosan memecahkan sesaat keheningan diruangan itu. Tidak terlalu banyak orang yang mengunjungi tempat dengan berbagai buku pengetahuan yang tersusun rapi disetiap lemari sesuai dengan jenis dan namanya tersebut. Perpustakaan, memang hanya penuh jika ada tugas yang benar-benar mendesak para mahasiswa, sisanya tempat itu hanya akan dikunjungi 2 sampai 10 orang saja perhari, itu pun bukan karena mereka benar-benar ingin membaca buku tapi hanya sekedar dijadikan tempat untuk tidur bagi para mahasiswa yang sedikit 'malas'.

Helaan nafas kembali terdengar, membuat seorang pemuda disudut ruangan menatap gadis -yang menjadi sumber helaan nafas- itu tajam. Yang menjadi objek tatapan tajam manik bak elang itu hanya meringis pelan. Pemuda tadi kembali fokus pada bacaannya, menghiraukan gadis dengan surai madu yang tengah memanyunkan bibirnya lucu.

"Dyo." suara lembut gadis itu memanggil pemuda yang hanya berjarak 3 kursi dari dirinya.

"Hn."

Gadis itu mengendus pelan. Sebal dengan sikap teman sekelas sekaligus sekelompoknya ini. Selalu saja menanggapi sesuatu dengan dingin. Dia tidak habis pikir bisa bertahan menjadi teman pemuda es disampingnya sekarang. Perempuan dengan name tag 'Kim Yoojung' itu jadi ingat bagaimana saat mereka bertemu untuk pertama kali. Saat itu mereka bertengkar hanya karena tak sengaja saling menabrak -dan dianggap hal paling merepotkan oleh Dyo- hingga mereka dihukum karena ketinggalan 1 mata kuliah. Yoojung terkekeh, ia jadi ingat saat pemuda dingin itu bersungut-sungut karena dihukum.

"Kau sudah gila ya?" Suara berat itu menghentikan lamunan kenangan Yoojung.

"Apa?"

"Selain gila ternyata sekarang tuli juga."
Dyo membalikan lembaran buku yang dibacanya.

"Hey apa maksudmu bicara seperti itu heh?"

"Tertawa sendiri, bukankah itu ciri kau gila?" Yoojung membulatkan matanya.

"Kau ! Menyebalkan !" Gadis Kim itu kembali cemberut, menyambar pulpen yang beberapa menit lalu tergeletak begitu saja diatas buku tulisnya, kemudian ia melanjutkan mencatat tugasnya yang sempat terhenti. Sedangkan Dyo sendiri memilih kembali tenggelam dalam aktivitas membacanya.

Beberapa menit berlalu dengan keheningan yang menyelimuti mereka berdua. Yoojung melihat ke arah Dyo yang masih berkutat dengan buku tebal tentang seni yang sejak beberapa jam lalu menguasai pemuda itu, hingga tidak berkutik sedikit pun dari posisinya. Yoojung memutar matanya bosan. Oh ayolah, bukankah mereka kemari untuk mengerjakan sesuatu bersama?

"Dyo."

"Hn."

Yoojung merengut dengan jawaban -menurutnya- tak bermutu dari temannya ini.

"Dyo."

"Hn."

"Do Kyungsoo!" Yoojung menggebrak meja saking kesalnya. Dan ekspresi yang ia dapat dari pemuda tampan itu hanyalah tatapan malas.

"Bisakah kau diam?"

"Aku tidak bisa diam." Manik coklat Yoojung menantang mata bulat dihadapannya.

"Bisakah kau pergi?"

"Aku tidak mau pergi !"

Dyo menarik kursi yang didudukinya itu kebelakang, menutup buku ditangannya setelah sebelumnya meletakkan pembatas buku pada halaman yang akan dibacanya nanti. "Baiklah aku yang pergi."

Gadis itu makin menatap kesal lelaki yang berlalu begitu saja.
"Hey, kita harus mengerjakannya sekarang Dyo!"

Langkah Dyo terhenti mendengarnya, tepat saat selangkah lagi dia melewati pintu keluar. Lelaki itu membalikkan badannya, melihat tajam lagi kearah Yoojung.

"Kau ini bodoh atau apa?"

"Aku hanya mengingatkanmu tentang tugas kita itu, kenapa kau malah mengataiku bodoh." Gadis itu balas menatap tajam tak terima.

"Kita sudah mengerjakannya setengah jam yang lalu."

"Ehh." Yoojung mengerjapkan matanya, tangannya memeriksa kertas yang ditumpuk rapi didekatnya. Dan benar saja, kertas-kertas itu sudah penuh dengan tulisan tangannya dengan gaya bahasa dari pemuda Do didepannya.

"Maaf aku lupa hehe" Dyo memutar matanya malas.

"Bodoh!" Desisnya sebelum benar-benar meninggalkan perpustakaan. Membiarkan Yoojung menggerutu karena ucapannya itu.

*********************

Dyo berjalan dilorong kampus yang akan menyambungkannya dengan taman belakang. Buku tebal yang tengah dipelajarinya 2 hari ini tidak terlepas dalam genggamannya. Pemuda itu sebenarnya tengah mencari teman berisiknya yang menghilang entah kemana sejak istirahat tadi. Dyo terkekeh sendiri saat pikirannya berkata 'teman' memangnya sejak kapan dia memiliki teman, terlebih gadis bertubuh mungil itu yang dia labeli sebagai teman.

Tapi bukankah memang wanita itu yang membuatnya sedikit melunak setelah sebelumnya ia bertingkah acuh pada sekitarnya? Dan gadis itu mengingatkannya pada 'dia'.
Tidak, Dyo tidak mau lagi mengingatnya. Dia sudah terlalu muak dengan sosok itu.

Pemuda itu tersenyum saat gadis yang dicarinya itu tengah serius menggerakkan jari lincahnya diatas keyboard komputer.
"Kenapa kau begitu menyukai dunia menulis dan cerita-cerita bohong itu?"

Yoojung menoleh, senyuman cerah menghiasi wajah cantiknya. Dyo balas tersenyum lalu mendudukan dirinya disamping Yoojung. "Sejak kapan kau disini?" Bukannya menjawab gadis itu malah kembali bertanya.

"Kau tidak menjawab pertanyaanku." gadis dengan kacamata minus yang bertengger menghias mata kecilnya itu tertawa pelan. "Hei,hei sejak kapan kau pandai merajuk pangeran es?"

Tawa gadis itu semakin keras ketika melihat wajah tampan disampingnya semakin tertekuk. "Lupakan saja" Dyo membuka buku tebalnya, mata bulatnya mulai menelusuri setiap kata yang tersusun disana. Seketika keheningan mulai tercipta.

"Karena itu caraku menunjukan perasaan." Ucap Yoojung tiba-tiba, tangannya tidak berhenti menari diatas keyboard. Dyo menoleh, mengerutkan alisnya tanda bertanya apa maksud ucapan temannya itu.

"Menulis. Karena itu caraku menunjukan perasaan. Dan terkadang cerita-cerita itu bukan hanya karangan, tapi juga dari cerita sungguhan."

"Ck. Ku kira apa, dasar merepotkan!"

"Hei, tadi kau yang bertanya." Yoojung mengerucutkan bibirnya sebal.

"Lagipula, Aku lebih suka dengan dengan hal yang nyata dari pada kumpulan ceritamu."

"Lalu kenapa kau bertanya seperti itu?"Dyo mengangkat bahunya.

"Aku hanya ingin tahu"

Yoojung kembali mengetik dan merutuk pelan mendengar jawaban pemuda es itu. Dasar sekali es tetap saja es, umpatnya dalam hati. Tanpa memperhatikan jika pemuda yang membuatnya kesal itu tengah tersenyum geli.

'Dan kurasa aku mulai tertarik dengan dunia itu, karenamu'

*********************

Dua orang berbeda gender itu berjalan melewati hiruk-piruk manusia lain. Festival musim semi memang menjadi pilihan yang baik untuk menyaksikan indahnya berbagai bunga bermekaran. Dua orang itu mempercepat langkahnya -lebih tepatnya sang perempuan yang menyeret pemuda disampingnya- menerobos keramaian.

Perlu diingatkan, jika pemuda bermata bulat itu tidak menyukai tempat yang ramai, terutama festival. Dia tidak akan pernah sudi menginjakkan kakinya ditempat yang sesak ini jika saja bukan gadis bersurai madu ini yang menariknya dengan semangat, tidak menghiraukan penolakan yang ia ajukan sebelumnya.

"Mau berapa banyak makanan lagi yang kau beli, Jung-ah? Perutmu bisa meledak dengan makanan sebanyak itu." Dyo menarik tangan gadis mungil itu, sekarang giliran dia yang menyeret Yoojung.

"Tapi aku belum menemukan permen kapas, Dyo-ya"

"Ini festival musim semi tradisional, bukan pasar malam. Dasar bodoh!"

Yoojung cemberut, tangan kanannya masih menenteng beberapa kantong plastik yang berisi makanan yang ia beli difestival. Dyo memelankan langkahnya ketika ia rasa telah cukup jauh dari keramaian, tangannya yang menyeret tangan putih Yoojung turun dan menggenggam jemari lentik itu. Mereka melewati jalan lenggang yang dihiasi lampu-lampu kecil disetiap sisinya. Diujung jalan itu, mereka akan menemui sungai yang terkenal di Korea Selatan. Sungai Han.

Keduanya duduk disalah satu kursi taman yang berhadapan langsung dengan sungai. Dyo melepaskan genggamannya. Tangan kekarnya mengeluarkan ponsel dari dalam saku jaket yang dikenakannya, lalu detik berikutnya dia telah tenggelam dalam dunia segi empatnya itu. Disampingnya, Yoojung mengendus sebal.

"Yang benar saja! Beberapa menit lalu kau menarikku seenaknya, membawaku ketempat ini, dan mendiamkanku. Aku itu ingin melihat festival bukan melihat sungai !" Gadis itu membuka kantong yang dibawanya, mengeluarkan jajanan yang ia beli tadi sambil tetap mengumpat teman disampingnya.

"Lagipula kau yang memaksaku ke tempat ramai itu sebelumnya. Sekarang giliranku mengajakmu ke tempat tenang seperti ini"

"Hei, apa yang akan kita lihat disini? Hanya air sungai yang memantulkan langit malam, begitu?"

"Sebentar lagi kau juga akan tahu. Ck. seperti anak kecil saja." Dyo membersihkan sudut bibir Yoojung yang kotor dari bumbu kue beras yang dimakannya barusan. Gadis dengan bibir mungil itu tersipu, pipi putihnya merona saat menyadari tangan Dyo yang masih mengusap ujung bibirnya. Dadanya berdebar keras saat netra coklatnya bertemu dengan manik kelam Dyo.

Yoojung salah tingkah, spontan ia menepis pelan tangan Dyo. Memutuskan kontak mata mereka. Yoojung mencoba menormalkan detak jantungnya.

"Memang apa yang akan muncul disini?"

Wusss.

Angin berhembus perlahan, membawa ribuan kelopak sakura yang berguguran. Beterbangan bagai kupu-kupu dengan warna yang indah. Yoojung terpana, dihujani oleh kelopak-kelopak merah muda itu. Ditambah dengan sinar bintang-bintang dan cahaya lampu-lampu taman yang terpantul disungai besar dihadapan mereka.

Sementara Dyo hanya menatap wajah cantik itu dengan senyuman yang terpatri diwajahnya. Merasa diperhatikan, Yoojung balas menatap Dyo.

"Kenapa kau melihatku dengan pandangan aneh begitu?"

"Kau mirip dengan seseorang"

"Siapa?"

"Orang yang begitu mirip denganmu"

Yoojung memutar matanya malas."Aku tidak sejenius dirimu ! jangan memutar-mutar pernyataan. Aku ulangi lagi, siapa orang itu?"

"Kenapa kau begitu ingin tahu?"

"Kau yang menyebutnya lebih dulu."

"Oh ya, aku tidak ingat." Dan lagi percakapan keduanya ditutup dengan umpatan-umpatan kecil Yoojung.

********************

Dyo memasuki bangunan putih yang selama ini rutin ia kunjungi. Sebenarnya baru hari ini ia bisa ketempat itu -setelah mencari alasan pada Yoojung- lagi. Lelaki bertubuh tegap itu tersenyum tak kala para suster yang melewatinya menyapa.

"Selamat siang Dyo-ya, lama tidak bertemu." pemuda Do itu tersenyum sumringah, lalu memeluk sosok yang baru saja menyapanya.

"Apa kabar Suho Hyung?" Pria yang ditanya hanya tersenyum. Wajah bak malaikatnya makin terlihat tampan, cukup membuat para suster disekitar mereka menjerit senang.

"Seperti yang kau lihat, aku tetap tampan." Dyo memutar bola matanya malas.

"Itu sama sekali tidak lucu hyung." Dokter muda itu hanya tertawa, lengan kanannya merangkul pemuda yang sudah dia anggap adiknya sendiri itu.

"Kau pasti ingin mengunjunginya kan? Pasti kau sangat merindukannya, mengingat sekarang kau terlalu sibuk dengan perkuliahanmu yang hampir selesai." Dyo hanya bergumam menjawabnya.

"Dia ada ditaman belakang, akhir-akhir ini dia sangat menyukai bunga-bunga yang mulai bermekaran. Kau bisa memanggilku jika mebutuhkan sesuatu."

Dokter muda itu pergi. Dyo melihatnya. Wanita cantik yang kini tengah menatap takjub bunga krisan putih yang tumbuh subur dihadapannya. Lelaki Do itu melangkah pelan, tidak mau mengganggu aktivitas wanita itu.

"Kyungsoo-ya" Langkah pemuda itu berhenti ketika suara lembut itu menembus indera pendengarannya. Hanya wanita itu yang memanggilnya dengan nama aslinya. Wanita itu menatap ramah pada Dyo yang mematung ditempatnya. Bolehkah ia berharap wanita ini akan menerimanya lagi?

"Kemarilah sayang, kau pasti lelah." Dyo mengikuti permintaan wanita itu dan duduk disampingnya. Matanya memancarkan binar haru dan rindu yang teramat dalam.

"Kau kemana saja? Aku mengkhawatirkanmu kau tahu?" Dyo terpana. Benarkah? Apa setelah ini mereka bisa kembali seperti dulu. Pemuda itu memeluk wanita didepannya.

"Aku merindukanmu.."

"Ya, aku juga merindukanmu Kyungsoo-ya." Wanita itu mengelus punggung Dyo lembut, membuat Dyo nyaman.

"Dan tentu saja adikmu, Hyanggi" Dyo mengendurkan pelukannya. Nama itu. Oh tidak lagi, Dyo menatap wanita itu sendu. Ternyata mereka tidak bisa seperti dulu ya. Dyo tersenyum miris.

"Hei sayang, kenapa kau menatapku seperti itu? Dimana Hyanggi?" Dyo memeluk wanita itu lebih erat. Dia tahu apa yang selanjutnya akan terjadi.

"Kyung-ie.."

"Kyung, dimana Hyanggi? Kyungsoo, Do Kyungsoo jawab pertanyaanku!" Suara itu perlahan mulai mengeras, membuat Dyo menguatkan dekapannya. Wanita itu mulai berontak, mencoba melepaskan diri dari tangan kokoh yang mengurungnya.

"Kau kemanakan putriku sialan! Kau memang bersekongkol dengan bajingan itu untuk memisahkanku dengan Hyanggi bukan?" Dyo mulai menangis dalam pertahanannya memeluk wanita itu.

"Anak tidak tahu diri ! Sudah syukur kau aku besarkan dengan baik !"

"Ma-maafkan aku.." Pemuda itu hanya bisa berbisik pelan ditengah isakannya.

"Kenapa kau mencelakai putriku hah? Jika bukan karenamu putriku tidak akan pergi !" Wanita cantik itu memukul dada Dyo berkali-kali, meluapkan apa yang ia rasakan.

"Kenapa kau terus menemuinya ! Kenapa kau terus mendatanginya saat aku dan ayahmu telah berpisah? Kau membuatnya tersiksa brengsek !" Wanita itu semakin brutal setelah lepas dari pelukan Dyo. Dia tidak berhenti melempari lelaki yang tertunduk itu dengan kerikil-kerikil yang bisa dijangkau dengan tangan lembutnya.

Beberapa derap langkah terdengar. Dua orang lelaki berbaju putih memegangi wanita itu, satu orang diantara mereka menyuntikkan obat penenang. Perlahan wanita itu melemah, dua lelaki tadi membopong wanita itu ke kamarnya. Meninggalkan Dyo yang masih terisak.

"Maafkan aku... Ibu."

"Dyo-ya" dua suara yang familiar saling beradu ditelinga Dyo. Dan dua orang yang sudah sangat dikenal Dyo melangkah maju.

"Berhenti disana ! Ku bilang berhenti Kim Yoojung !" Sontak langkah kaki gadis yang baru saja disebut itu berhenti.

"Kau juga Suho Hyung, kau tentu tahu apa yang harus kau lakukan." Yang dipanggil hanya menatap iba Dyo, tangan putih pucatnya menarik tangan sang adik. "Sebaiknya kita pergi, Jung-ie."

Yoojung tidak bergeming. "Aku ingin tetap disini Oppa, kau boleh pergi jika kau mau." Suho menahan tangan Yoojung yang melangkahkan kakinya lagi.

"Oppa mohon mengertilah Jung-ie, Dyo perlu sendiri."Yoojung menggeleng. Dia masih tetap mau bersama teman yang selama ini mengisi hari-harinya. Dan hatinya.

"Pergi! Aku tahu kau hanya akan menertawakanku. Pergilah" bentak Dyo tiba-tiba.

Yoojung melepaskan cekalan Suho, gadis itu melangkah mendekati Dyo."Kenapa aku harus pergi? Lagipula itu bukan hal yang lucu dan bisa aku tertawakan"

"Pergilah, aku tidak mau kau kasihani" Dyo memalingkan wajahnya, melepaskan kontak matanya dan gadis itu.

"Aku lebih kasihan pada wanita itu daripada kau, jadi berhentilah merasa orang akan mengasihanimu. Karena kau bukan untuk dikasihani tapi untuk dikagumi"

Baru saja Dyo akan membalas ucapan Yoojung, gadis bersurai madu itu sudah menubruknya dengan tubuh mungilnya. "Bukankah kita teman? Kau bisa berbagi denganku kan?" Suho meninggalkan keduanya, dia percaya pada adiknya.

"Tapi.."

"Menangislah, semua manusia memerlukannya. Kau tidak perlu merasa lemah karena itu." Dyo mulai membalas pelukan Yoojung. Pemuda itu menyembunyikan wajahnya diceruk perempuan cantiknya.

"Ibuku tak bisa memaafkanku Jung-ah. Dia membenciku." Yoojung mengusap punggung Dyo lembut. Dia mengerti. Sangat mengerti apa yang dirasakan pemuda itu kini. Bukankah sangat menyakitkan dibenci oleh orang yang sangat kau cintai atas apa yang tidak pernah kau lakukan? Gadis cantik itu tahu semuanya. Dia tahu, karena kakaknya adalah dokter dari ibu Dyo.

Do Kyungsoo, pemuda yang dibesarkan oleh ibu tirinya penuh dengan kasih sayang. Karena ibu kandungnya meninggal setelah melahirkannya ke dunia. Meski begitu dia begitu disayangi oleh ibu baru dan ayahnya. Hidupnya lebih indah lagi ketika dia dihadiahi adik perempuan dari ibu yang selalu memberinya kasih sayang selama ini. Keluarga mereka hidup dengan damai. Sampai suatu hari ayah Dyo dipecat dari pekerjaannya karena tuduhan rekan kerjanya sendiri. Sejak saat itu orang tuanya selalu bertengkar, dan berakhir dengan ibunya yang menerima berbagai luka ditubuhnya.

Hingga akhirnya keduanya memilih berpisah. Awalnya hak asuh atas kedua anak itu ditetapkan kepada ibunya. Namun, ayahnya menolak. Ia yang ingin menerima hak asuh atas kedua anaknya. Tapi, hakim memutuskan Hyanggi -adik Dyo- bersama ibunya sedang Dyo bersama ayahnya.

Dyo kecil kehilangan kasih sayang dari ayahnya. Dia selalu menjadi sasaran kekesalan dari sang ayah. Tubuhnya tidak pernah lepas dari lebam-lebam biru. Namun, dia masih tetap mendatangi ibu dan adiknya yang masih merangkulnya dengan kasih sayang. Itupun tidak lama. Ketika suatu hari Hyanggi menjadi korban pemerkosaan dan pembunuhan demi melindungi kakaknya dari amukan orang-orang yang mabuk dijalan kecil tempat tinggal Dyo. Dan orang-orang itu juga termasuk ayahnya.

Sejak itulah, ibunya terus menyalahkan Dyo dan terus mempertanyakan anak perempuannya yang telah meninggal. Kejiwaan wanita itupun terganggu.

"Suatu hari, bibi Jung pasti bisa memaafkanmu Dyo." Yoojung mengusap punggung pemuda yang mulai meredakan tangisnya.

"T-terima kasih Jung-ah"

"Apapun untukmu."

*********************

"Maaf"

Gadis bersurai madu itu mengangkat sebelah alisnya. Tanda bertanya.

"Telah membentakmu tadi." Perempuan itu tersenyum maklum.

"Kau selalu membentakku, Dyo." Pemuda yang dimaksud menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.

"Tapi itu bukan apa-apa. Buktinya kita tetap berteman bukan?" Yoojung tersenyum lebar, menampilkan gigi putihnya yang berjejer rapi. Dyo mengendus, lalu kemudian tersenyum hangat. Tangan kanannya mengacak rambut berwarna madu milik gadis mungil itu.

"Hei, kau merusak rambutku !" Dyo hanya menggedikkan bahunya acuh. Yoojung mencibir.

Saat ini mereka tengah berada ditaman dekat sungai Han. Kembali menatap indahnya kelopak sakura yang tertiup angin. Yoojung menyesap teh lemon yang berada digenggamannya, sembari menatap hamparan air yang terlihat tenang.

"Kau tahu, kau lebih terlihat cantik saat diam"

Yoojung terdiam mencerna apa yang baru saja ia dengar."A-apa?"

"Kau cantik, Yoojung-ah" Pipi gadis itu merona mendengar kata selanjutnya yang diucapkan Dyo. Dadanya berdebar tak karuan.

Pemuda itu hanya tersenyum. Merasakan sesuatu yang menggelitik dari dalam dirinya saat melihat rona merah dipipi Yoojung. Perasaan yang akhir-akhir ini mengganggu pikirannya. Apa sekarang ia jatuh cinta pada teman yang tidak bisa diam ini?

"Yoojung-ah" tepat saat Yoojung menoleh pipinya kembali memerah. Sesaat ia terdiam sebelum akhirnya tangan mungilnya memukul Dyo dengan brutal.

"Hei, hei kau kenapa memukulku?" Dyo menangkap tangan putih itu.

"Kau beraninya mencium pipi suciku"

Dyo tertawa renyah."Habisnya aku suka melihat pipi mu itu merona." Dyo kembali mencuri ciuman dipipi Yoojung yang satu lagi. Dan detik berikutnya teriakan gadis bersurai madu itu yang terdengar.

"Yak ! Do Kyungsoo !"

********************

Pemuda bermata bulat itu kembali menatap jam digital yang bertengger ditangan kanannya. Manik kelamnya kembali mengedarkan pandangannya ke seluruh cafe. Sudah terlambat 15 menit, gumamnya.

Tangannya merongoh ponsel yang ia letakkan ditas gendongnya. Mengetik pesan untuk seseorang yang tengah menunggunya untuk makan malam bersama. Sebenarnya, dari tadi Dyo sudah ingin pergi dari cafe ini. Tapi karena seseorang yang ia tunggu sangat penting untuk kelulusannya sebagai seorang mahasiswa, dia mengurungkan keinginannya untuk segera pergi. Ternyata menunggu itu bukanlah hal yang menyenangkan.

"Dyo Oppa" Dyo menghentikan gerakan jari dilayar ponselnya ketika suara itu terdengar. Suara yang sudah dia lupakan sejak 2 tahun lalu. Suara yang pernah membuat dia begitu hidup lalu kembali mati. Suara yang selalu meluluhkan perasaannya. Mungkinkah..

"Sohyun." Suara berat itu bergumam pelan. Tak percaya atas apa yang ia lihat kini. Wanita dihadapannya ini? Kenapa dia disini?

Gadis berpipi tembam itu menatap Dyo dengan binar penuh rindu. Manik birunya menatap lembut netra kelam Dyo. Seolah berbicara, betapa senangnya ia atas pertemuan ini.

"Kenapa kau disini?" Dyo menguasai keterkejutannya, menyembunyikannya dengan suara dingin andalannya. Bukankah memang wanita ini yang membuatnya sedingin itu?

"Karena aku ingin kembali denganmu."Dyo menatap Sohyun tajam.

"Ck. Memangnya untuk apa kau kembali?"

Sohyun menundukkan wajahnya, terlalu takut untuk membalas tatapan menusuk dari lelaki dihadapannya,"Kau tidak merindukanku lagi?"

"Untuk apa aku merindukanmu?" Dyo tersenyum meremehkan.

"Apa kau tidak mau mendengar cerita yang sebenarnya?"

Dyo menarik kursinya. "Jika itu tentang bagaimana kau jatuh cinta dengan si brengsek Yeo itu, aku tidak tertarik." Pemuda itu menyampirkan tasnya dibahu kanannya. Kemudian bangkit dan mulai melangkah.

"Tentang perjanjianku dan Jingoo" Dyo berhenti ditempat. Maniknya sekilas menatap Sohyun sinis.

"Aku tidak peduli."

*********************

Yoojung mendudukkan dirinya disebelah pemuda bertubuh tegap yang tengah sibuk dengan buku bacaannya. Meski sebenarnya, dia tidak benar-benar sedang membaca.

"Hey, Dyo" gadis cantik itu mencolek pipi tembam pemuda disampingnya.

"Hn."

Yoojung menghela nafas kasar. Sejak kapan pemuda ini kembali dingin? Bukankah setelah kejadian dirumah sakit itu dia telah lebih terbuka?

"Dyo-ya"

"Hn."

"Kau kemana saja?" Yoojung memainkan buku lain yang ada disekitarnya.

"Aku ada"

"Kau baik-baik saja? Kau jadi pendiam lagi belakangan ini"

"Aku baik-baik saja" Yoojung merengut. Apa-apaan jawabannya itu. Umpatnya dalam hati.

"Kau menyebalkan ! Dasar es !" Yoojung meninggalkan perpustakaan dengan gerutuan yang tidak berhenti dari bibir kecilnya itu.

Selepas Yoojung pergi, Dyo menyingkirkan buku bacaannya. Dia juga bingung kenapa dia bisa kembali dingin pada gadis cerewet tersebut. Penjelasan dari Sohyun cukup membuatnya bimbang. Jujur, dia memang menyukai teman mungilnya kini. Tapi, dia juga tidak bisa memungkiri jika hatinya masih mengingat Sohyun. Apalagi ketika dia tahu apa alasan sebenarnya gadis itu.

Dia tidak mungkin mengatakan pada Yoojung, jika Sohyun meninggalkannya dengan Yeo Jingoo hanya karena sebuah perjanjian. Dimana mereka berdua berpura-pura bertunangan untuk memenuhi tujuan mereka masing-masing. Jingoo yang hanya mengharapkan agar warisan ayahnya segera ia dapatkan, dan Sohyun yang mencari celah untuk kembali bersama Dyo. Mereka berpura-pura selama 2 tahun ini, dan berpisah dengan baik sesuai kesepakatan sebelumnya.

Bukan rahasia umum lagi jika Sohyun dan Dyo sangat berbeda. Karena gadis dengan poni menyamping itu adalah putri tunggal dari kalangan kaya raya. Memang Dyo tidak pernah mendapat restu dari kedua orangtua gadis itu. Dan pengorbanan gadis itu tidak mungkin ia acuhkan begitu saja. Namun disisi lain, ia juga tidak mungkin menyakiti gadis bermanik coklat yang selalu ada disampingnya disaat tersulitnya selama ini. Bolehkah ia egois untuk tetap berada diantara keduanya? Rasanya dia tidak bisa jika memilih salah satu diantaranya. Entahlah, Dyo menghela nafasnya kasar.

******************

"Oppa, ayo kita cari permen kapas" gadis dengan balutan kemeja kuning gading itu menarik tangan lelaki berwajah malaikat disampingnya.

"Ya ampun, Yoojung-ie kau sudah menghabiskan permen kapasmu yang ke 3. Dan sekarang kau masih ingin memakan benda merah muda itu?" Pemuda berkulit putih pucat itu menggeleng pelan melihat wajah memelas adik perempuannya itu.

"Hehee.. Ayolah Suho Oppa, tidak setiap hari kan aku memakan permen manis seperti ini." Suho hanya menggelengkan kepalanya. Dia paling tidak bisa berdebat dengan adik cantiknya ini.

"Kau tunggulah dulu, Oppa ingin ke kamar mandi sebentar."

Yoojung hanya mengangguk. Gadis itu mengedarkan pandangannya. Taman bermain ini memang tidak terlalu ramai karena bukan hari libur. Memang tidak biasanya gadis periang itu pergi berdua dengan kakak laki-lakinya lagi, karena yang selalu menemaninya adalah lelaki bermata bulat yang selama seminggu ini tidak memberinya kabar sedikitpun. Entah mungkin dia begitu sibuk mempersiapkan wisuda. Yoojung jadi merindukan pergi ke sungai Han dan menyaksikan gugurnya bunga sakura saat musim semi disana.

Hah, gadis itu menghembuskan nafasnya sedikit kasar. Dia begitu merindukan lelaki bermarga Do yang acuh itu. Gadis dengan netra coklat itu menghampiri penjual permen kapas. Perlu dicatat dia itu penggemar berat makanan kapas manis itu.

"Oppa, bagaimana kalau kita menaiki bianglala saja" suara lembut itu menyapa pendengaran Yoojung.

"Hn."

Spontan gadis bersurai madu itu menoleh ke belakang saat mendengar suara berat yang familiar. Dia bisa melihat bahu tegap yang membelakanginya, dan seorang perempuan berambut lurus mengapit lengan kokoh pemuda itu. Pemuda yang sangat dikenali Yoojung meski hanya dari punggungnya sekalipun. Gadis itu mengikuti keduanya dalam diam.

"Aku selalu percaya kau akan menungguku, aku mencintaimu"

"Sohyun-ah, Aku..."

Prangg

Bunyi pecahnya kaca yang berasal dari botol yang dibawa seorang wanita yang tidak sengaja Yoojung tabrak itu menarik perhatian Dyo. Mata bulatnya melebar melihat gadis berkemeja kuning gading itu menatapnya nanar. Ada kilatan kecewa dimata kecil itu.

"Maaf, aku mengganggu kalian"

"Yoojung-ah" Langkah laki-laki itu tertahan tak kala tangan kecil Sohyun menahan tangan kokohnya.

Sedangkan gadis bersurai madu itu berlari keluar taman bermain. Melupakan kakak laki-lakinya yang mungkin sedang mencarinya kesana kemari. Gadis itu menepuk dadanya yang terasa sesak.
Sohyun. Tadi Dyo memanggil gadis berpipi bulat itu dengan nama yang selalu membuanya cemburu. Dia sangat tahu siapa itu Sohyun. Dan dia juga tahu bagaimana perasaan pemuda itu kepada perempuan yang bisa mengubah pribadinya menjadi sedingin itu. Dia tahu bagaimana cerita mereka. Kini, gadis itu kembali. Apa ini alasan Dyo tidak memberinya kabar selama seminggu ini? Dan inikah sebabnya sikap lelaki itu kembali dingin.

**********************

Dyo menggenggam tangan Sohyun. Gadis manis itu menatap cemas Dyo. Manik birunya memancarkan ketakutan yang kentara. Entah kenapa dia merasakan sesuatu yang mengganggu hatinya, saat prianya ini memanggil gadis bersurai madu tadi.

Dyo menatap Sohyun lamat. Mencoba mencari kembali getaran yang biasa hadir saat mereka bersama. Tapi, selanjutnya dia tersenyum kecut. Matanya berbinar memohon maaf.

"Oppa, d-dia.." Dyo membawa Sohyun dalam dekapannya.

"Aku rasa kau mengerti tanpa perlu ku jelaskan." Gadis cantik itu mulai terisak.

"Maaf, tapi, bisakah kita hanya menjadi teman sekarang?" Sohyun tidak bisa menjawab. Dia hanya bisa menangis atas pengakuan yang baru saja didengarnya.

Dyo mengusap airmata yang membasahi pipi bulat itu. Memberikan ciuman hangatnya didahi wanita yang pernah bertahta dihatinya. Perempuan yang kini, hanya ada dikotak kenangan lalu. Karena kini hatinya telah sepenuhnya terisi oleh gadis mungil bersurai madunya. Gadis yang membuatnya menyukai dunia yang dulu sangat ia musuhi. Dan ia sudah sangat yakin atas kebimbangannya akhir-akhir ini, jika yang ia cintai kini hanya Yoojung. Dia hanya ragu, karena kedua gadis itu memiliki banyak kesamaan.

"Maafkan aku, Hyun-ie" Dyo berlari, meninggalkan Sohyun yang hanya menatap nanar dirinya. Pria bermata bulat itu tidak begitu peduli, yang ada dalam pikirannya adalah menemukan adik dari hyung malaikatnya, lalu mendekap tubuh mungil itu erat. Mengungkapkan jika ia begitu merindukan gadis cantik itu.

Dyo sedikit tersenyum, melihat punggung yang sangat dirindukannya.

"Jung-ah"

Brakkkk

Suara keras terdengar dijalan yang tadi diseberangi lelaki bermarga Do itu. Sontak Dyo menoleh, dan matanya terbelalak ketika melihat siapa yang baru saja menjadi sumber suara keras beberapa detik lalu. Pemuda itu berlari mendekati kerumunan. Juga, gadis bersurai madu yang sebelumnya dipanggil Dyo.

"Sohyun-ah." Dyo memangku kepala gadis berpipi bulat yang dialiri darah dari pelipisnya. "Dy-o, Opp-a"

"Kumohon bertahanlah, Sohyun-ah." dengan panik pria itu langsung memangku Sohyun ketika mobil ambulan tiba. Melupakan gadis yang sebelumnya ia kejar.

Yoojung hanya menatap mobil ambulan yang menjauh itu sendu. Ternyata cinta pemuda dengan manik sekelam malam itu memang sangat besar untuk Sohyun. Dia tidak bisa menggantikan posisi gadis berponi menyamping itu seutuhnya. Tidak pernah bisa.

Yoojung tersentak ketika sepasang tangan putih pucat membawanya dalam sebuah pelukan hangat. Dekapan yang selalu menenangkannya ketika ia rapuh. Dekapan yang tidak pernah dimiliki oleh siapapun, termasuk Dyo. Itu kakak laki-lakinya. Pemuda berwajah malaikat yang senantiasa menjaga dirinya setiap saat.

"Kau tidak mau menemani Dyo?" Yoojung menatap netra yang sama dengannya itu.

"Tapi, dia tidak memerlukanku Oppa." Suho membingkai wajah adiknya itu.

"Dia pasti membutuhkan penyemangat. Setidaknya disana kau bisa menguatkan hatinya, sayang." Suho kembali mendekap Yoojung, ketika gadis itu terisak.

"Oppa tahu kau gadis yang kuat, meski kau harus merelakan sesuatu yang sangat kau cintai."



.






"Dyo-ya" pemuda itu mendongkang, menatap seseorang yang baru saja memanggilnya. Netra kelamnya menangkap sosok yang beberapa saat lalu ia lupakan begitu saja.

"Makanlah dulu, kau bisa sakit jika seperti ini." Yoojung menyerahkan kotak bekal yang ia bawa. Gadis itu tidak tega melihat keadaan Dyo yang berantakan. Apalagi pemuda ini tidak bergeming dari tempatnya sejak 1 jam yang lalu. Sohyun masih diruang darurat. Dan Dyo dengan setia menanti kabar dokter yang akan diterimanya.

Dyo menggeleng, selera makannya tidak muncul sama sekali. Dia masih khawatir dengan gadis diruang gawat darurat itu. Yoojung hanya tersenyum kecut.

"Kau begitu mencintainya?" Pertanyaan itu membuat Dyo tersentak. Kata itu seakan menamparnya. Lidahnya terasa kelu untuk sekedar menjawab. Gadis itu mengerti. Diam berarti iya. Dan dia sadar, masalalu lelaki itu tidak akan pernah bisa ia kalahkan. Yoojung bangkit.

"Maaf."

Kata lirih itu yang kini menutup percakapan mereka. Dyo masih diam meski gadis itu semakin melangkah jauh. Dia tidak tahu apa yang sebaiknya ia lakukan sekarang. Hatinya kembali bimbang seperi beberapa minggu yang lalu.

********************

Musim semi kembali menyapa kota Seoul. Festival pun telah digelar dari beberapa hari yang lalu. Bisa dilihat begitu banyaknya pengunjung yang hadir, apalagi diakhir pekan seperti ini.

Tak jauh berbeda dari ramainya festival dipusat kota, sungai Han pun menjadi tujuan yang bagus bagi para penikmat ketenangan atau yang ingin menghabiskan waktu berdua tanpa kebisingan. Ditambah ditaman-taman dekat sungai Han itu semakin banyak pohon-pohon sakura yang menjatuhkan kelopak-kelopak berwarna merah muda yang membuat banyak orang terpesona atas keindahannya.

Salah satu penikmat musim semi itu adalah lelaki dengan mata bulat dan manik sekelam malam yang kini tengah duduk bersandar disalah satu pohon bunga-bunga cantik itu. Senyumnya merekah seiring dengan bergugurannya bunga sakura yang kembali tertiup angin. Pemuda itu terkekeh ketika salah satu kelopak sakura itu mengenai wajah perempuan yang sedang menumpukan kepalanya dipangkuannya.

Merasa terganggu, mata cantik itu mulai terbuka. Mata kecil itu memincing kearah Dyo dan bibir mungilnya mengerucut sebal.

"Kenapa kau tidak menyingkirkan sakura ini dari bibirku?"

"Aku tidak mau menganggu kecantikanmu" perempuan itu mengerutu pelan, sembari bangkit dari tidurnya.

"Sejak kapan kau pandai menggombal heh?" Dyo menggedikkan bahunya. Perempuan itu memutar matanya sebal. Lelaki yang kini lebih dewasa itu, tersenyum simpul.

"Terima kasih." Bisiknya pelan. Perempuan itu menyerngit heran.

"Untuk?"

"Terima kasih atas semuanya." Dyo menyelipkan anak rambut wanita cantik yang tertiup angin itu ketelinganya. Perempuan itu balas tersenyum cerah.

"Apapun untukmu."

"Aku mencintaimu... Yoojung-ah."

"Akupun begitu." Keduanya berpandangan penuh arti. Seolah bercerita betapa bahagianya mereka karena telah saling memiliki.

Yoojung dan Dyo memang bersama. Setelah pemuda Dyo itu melewati masa bimbangnya. Namun, setelah Sohyun sadar, wanita dengan pipi bulat itu melepaskannya. Sohyun menyadarkannya, jika ia tidak lagi memberikan hatinya untuk gadis itu semata. Hatinya telah berpaling. Dan Sohyun akui, itu juga karena kesalahannya. Bukankah waktu memang bisa mengubah hati?

Pada akhirnya, pemuda Do itu mencari kembali gadis bersurai madu mungilnya. Meyakinkannya bahwa seluruh ruang dihati pemuda itu hanya untuk gadis cerewetnya. Hanya untuk Yoojung, bukan Sohyun. Hingga akhirnya cinta meruntuhkan ego yang membelenggu mereka, dengan rasa rindu yang menyadarkan mereka. Jika mereka tak bisa hidup dengan baik tanpa bersama.

"Appa, eomma"

Panggilan kecil itu menyadarkan keduanya dari keterpanaan masing-masing. Dyo menjauhkan wajahnya yang hanya berjarak beberapa sentimeter dari Yoojung. Mengarahkan pandangannya pada anak laki-laki berusia 7 tahun yang menghampiri mereka dengan permen kapas ditangan mungilnya. Bocah bermata bulat itu duduk dipangkuan Yoojung.

"Kau dari mana saja Myungsoo-ya? Kau membuat ibu berisikmu ini lebih berisik dari biasanya." Dyo mengacak surai madu anak laki-laki itu. Sedang Yoojung menyikut perut Dyo pelan.

"Aku tadi bertemu dengan Suho ahjussi, Appa, aku diajak berkeliling dulu menggunakan sepeda dengan Juny eonni." Yoojung mencium puncak kepala putranya itu.

"Kau ingat Myung-ie, kau harus berbicara dulu sebelum pergi." Myungsoo tertawa polos.

"Maaf eomma, aku janji tidak mengulanginya lagi."

"Eomma pegang janjimu, jagoan." Myungsoo menyuapkan permen manis ditangan kecilnya ke mulut Yoojung. "Untuk eomma."

Dyo mencubit pipi Myungsoo gemas. "Untuk Appa tidak?"

"Ani, Appa kan tidak suka yang manis." Yoojung tertawa melihat Dyo mengendus sebal.

"Kau mau Appa hukum eh?" Dyo menggelitik Myungsoo dengan brutal, membuat bocah duplikatnya itu tertawa keras. Keduanya berguling diatas alas piknik kotak-kotak merah itu.

Yoojung hanya menyaksikan pergelutan antara ayah dan anak itu sembari tersenyum. Bunga sakura berjatuhan, perempuan bersurai madu itu menengadahkan tangannya. Merasakan lembutnya kelopak sakura yang mendarat ditangan putihnya. Dia sangat bersyukur telah diberikan kesempatan menjadi istri lelaki bermata bulat itu. Telah diberikan keluarga kecil seperti saat ini. Bisa kembali menyaksikan musim semi ditepi sungai Han bersama Dyo dan Myungsoo, putra kecil mereka.

"Eomma" Yoojung menyeka keringat dipelipis putra semata wayangnya itu. "Apa Myung-ie?"

"Benarkah kita akan kedatangan keluarga baru?"

Yoojung menyerngit heran. " Apa maksudmu sayang?"

"Katanya aku akan mendapatkan adik dihari ulang tahunku nanti. Benarkan eomma? Oh ya, boleh aku minta adik laki-laki supaya bisa ku ajak bermain bola eomma? Bolehkan?"

Yoojung mengerjapkan matanya cepat. Adik untuk Myungsoo? Putranya ini kan masih manja. Yang benar saja ! Siapa pula yang mengatakannya pada putranya ini.

"Kau mendengarnya dari siapa sayang?"

"Dari Appa, eomma. Katanya Appa akan berusaha setiap hari agar aku dapat adik, dan jika perlu sampai malam juga Appa akan berusaha."

"Katanya, Appa sangat senang akan membuat adik bersama eomma." Myungsoo berceloteh dengan riang, tidak begitu mengerti makna yang tersirat dari apa yang ia katakan.

Sedangkan Yoojung menatap Dyo tajam, seakan pandangannya bisa membunuh siapa saja yang melihatnya. Dyo mulai bangkit, menarik Myungsoo untuk menghindari amukan dari sang istri.

"Yak ! Do Kyungsoo, apa yang kau katakan pada anakku hah ! Kembali kau !"

Dan percakapan mereka kembali diakhiri dengan teriakan-teriakan melengking Yoojung. Hanya saja, sekarang ditambah pelengkap tawa renyah dari Myungsoo. Pelengkap keluarga mereka. Hidup mereka. Dengan gugurnya jutaan kelopak sakura yang menghujani mereka, kisah ini ditutup.

_The End_



Spasi diantara waktu

Menikmati musim gugur dipulau Nami, menyaksikan ribuan daun-daun kemerahan gugur dari tangkainya, dan bersenda gurau diatas kain yang terge...