Selasa, 29 Januari 2019

Kpop Dance Practice

NCT 127 - Regular ( English Ver. )

NCT 127 adalah salah satu sub unit dari boyband muda Korea NCT ( Neo Culture Technology ) yang berasal dari SM Entertaiment. 

Minggu, 27 Januari 2019

Choose the heart

Title : Choose the heart

Author : AisyKim22

Length : Oneshoot

Rated : T

Main Casts: Do Kyungsoo ( D.O EXO ), Kim Yoojung, Kim Sohyun and others.

Summary :
Do Kyungsoo, laki-laki dingin yang jarang mengekspresikan perasaannya melalui raut wajahnya. Berkutat dengan dunia sepinya membuat ia acuh dengan interaksi sekitar. Hingga suatu hari Kyungsoo bertemu dengan Yoojung, gadis periang yang menggemari dunia kepenulisan yang mirip dengan orang dari masalalunya, membuatnya terbiasa dan nyaman atas keberadaan gadis itu. Dan saat ia yakin dengan apa yang dia rasa, Sohyun, kisah lamanya kembali hadir membawa kebenaran atas masalalu yang dia tinggalkan. Membuat Kyungsoo bimbang, dan tak ingin melepaskan keduanya. Namun, mau bagaimanapun ia harus memilih salah satu diantara gadis dengan tingkah yang sama, kegemaran yang sama, dan cinta yang sama. Lalu siapakah yang akan Kyungsoo pilih? Melangkah ke depan dengan Yoojung? Atau kembali mundur pada lembaran lalu bersama Sohyun?

.
.
.
.

Helaan nafas bosan memecahkan sesaat keheningan diruangan itu. Tidak terlalu banyak orang yang mengunjungi tempat dengan berbagai buku pengetahuan yang tersusun rapi disetiap lemari sesuai dengan jenis dan namanya tersebut. Perpustakaan, memang hanya penuh jika ada tugas yang benar-benar mendesak para mahasiswa, sisanya tempat itu hanya akan dikunjungi 2 sampai 10 orang saja perhari, itu pun bukan karena mereka benar-benar ingin membaca buku tapi hanya sekedar dijadikan tempat untuk tidur bagi para mahasiswa yang sedikit 'malas'.

Helaan nafas kembali terdengar, membuat seorang pemuda disudut ruangan menatap gadis -yang menjadi sumber helaan nafas- itu tajam. Yang menjadi objek tatapan tajam manik bak elang itu hanya meringis pelan. Pemuda tadi kembali fokus pada bacaannya, menghiraukan gadis dengan surai madu yang tengah memanyunkan bibirnya lucu.

"Dyo." suara lembut gadis itu memanggil pemuda yang hanya berjarak 3 kursi dari dirinya.

"Hn."

Gadis itu mengendus pelan. Sebal dengan sikap teman sekelas sekaligus sekelompoknya ini. Selalu saja menanggapi sesuatu dengan dingin. Dia tidak habis pikir bisa bertahan menjadi teman pemuda es disampingnya sekarang. Perempuan dengan name tag 'Kim Yoojung' itu jadi ingat bagaimana saat mereka bertemu untuk pertama kali. Saat itu mereka bertengkar hanya karena tak sengaja saling menabrak -dan dianggap hal paling merepotkan oleh Dyo- hingga mereka dihukum karena ketinggalan 1 mata kuliah. Yoojung terkekeh, ia jadi ingat saat pemuda dingin itu bersungut-sungut karena dihukum.

"Kau sudah gila ya?" Suara berat itu menghentikan lamunan kenangan Yoojung.

"Apa?"

"Selain gila ternyata sekarang tuli juga."
Dyo membalikan lembaran buku yang dibacanya.

"Hey apa maksudmu bicara seperti itu heh?"

"Tertawa sendiri, bukankah itu ciri kau gila?" Yoojung membulatkan matanya.

"Kau ! Menyebalkan !" Gadis Kim itu kembali cemberut, menyambar pulpen yang beberapa menit lalu tergeletak begitu saja diatas buku tulisnya, kemudian ia melanjutkan mencatat tugasnya yang sempat terhenti. Sedangkan Dyo sendiri memilih kembali tenggelam dalam aktivitas membacanya.

Beberapa menit berlalu dengan keheningan yang menyelimuti mereka berdua. Yoojung melihat ke arah Dyo yang masih berkutat dengan buku tebal tentang seni yang sejak beberapa jam lalu menguasai pemuda itu, hingga tidak berkutik sedikit pun dari posisinya. Yoojung memutar matanya bosan. Oh ayolah, bukankah mereka kemari untuk mengerjakan sesuatu bersama?

"Dyo."

"Hn."

Yoojung merengut dengan jawaban -menurutnya- tak bermutu dari temannya ini.

"Dyo."

"Hn."

"Do Kyungsoo!" Yoojung menggebrak meja saking kesalnya. Dan ekspresi yang ia dapat dari pemuda tampan itu hanyalah tatapan malas.

"Bisakah kau diam?"

"Aku tidak bisa diam." Manik coklat Yoojung menantang mata bulat dihadapannya.

"Bisakah kau pergi?"

"Aku tidak mau pergi !"

Dyo menarik kursi yang didudukinya itu kebelakang, menutup buku ditangannya setelah sebelumnya meletakkan pembatas buku pada halaman yang akan dibacanya nanti. "Baiklah aku yang pergi."

Gadis itu makin menatap kesal lelaki yang berlalu begitu saja.
"Hey, kita harus mengerjakannya sekarang Dyo!"

Langkah Dyo terhenti mendengarnya, tepat saat selangkah lagi dia melewati pintu keluar. Lelaki itu membalikkan badannya, melihat tajam lagi kearah Yoojung.

"Kau ini bodoh atau apa?"

"Aku hanya mengingatkanmu tentang tugas kita itu, kenapa kau malah mengataiku bodoh." Gadis itu balas menatap tajam tak terima.

"Kita sudah mengerjakannya setengah jam yang lalu."

"Ehh." Yoojung mengerjapkan matanya, tangannya memeriksa kertas yang ditumpuk rapi didekatnya. Dan benar saja, kertas-kertas itu sudah penuh dengan tulisan tangannya dengan gaya bahasa dari pemuda Do didepannya.

"Maaf aku lupa hehe" Dyo memutar matanya malas.

"Bodoh!" Desisnya sebelum benar-benar meninggalkan perpustakaan. Membiarkan Yoojung menggerutu karena ucapannya itu.

*********************

Dyo berjalan dilorong kampus yang akan menyambungkannya dengan taman belakang. Buku tebal yang tengah dipelajarinya 2 hari ini tidak terlepas dalam genggamannya. Pemuda itu sebenarnya tengah mencari teman berisiknya yang menghilang entah kemana sejak istirahat tadi. Dyo terkekeh sendiri saat pikirannya berkata 'teman' memangnya sejak kapan dia memiliki teman, terlebih gadis bertubuh mungil itu yang dia labeli sebagai teman.

Tapi bukankah memang wanita itu yang membuatnya sedikit melunak setelah sebelumnya ia bertingkah acuh pada sekitarnya? Dan gadis itu mengingatkannya pada 'dia'.
Tidak, Dyo tidak mau lagi mengingatnya. Dia sudah terlalu muak dengan sosok itu.

Pemuda itu tersenyum saat gadis yang dicarinya itu tengah serius menggerakkan jari lincahnya diatas keyboard komputer.
"Kenapa kau begitu menyukai dunia menulis dan cerita-cerita bohong itu?"

Yoojung menoleh, senyuman cerah menghiasi wajah cantiknya. Dyo balas tersenyum lalu mendudukan dirinya disamping Yoojung. "Sejak kapan kau disini?" Bukannya menjawab gadis itu malah kembali bertanya.

"Kau tidak menjawab pertanyaanku." gadis dengan kacamata minus yang bertengger menghias mata kecilnya itu tertawa pelan. "Hei,hei sejak kapan kau pandai merajuk pangeran es?"

Tawa gadis itu semakin keras ketika melihat wajah tampan disampingnya semakin tertekuk. "Lupakan saja" Dyo membuka buku tebalnya, mata bulatnya mulai menelusuri setiap kata yang tersusun disana. Seketika keheningan mulai tercipta.

"Karena itu caraku menunjukan perasaan." Ucap Yoojung tiba-tiba, tangannya tidak berhenti menari diatas keyboard. Dyo menoleh, mengerutkan alisnya tanda bertanya apa maksud ucapan temannya itu.

"Menulis. Karena itu caraku menunjukan perasaan. Dan terkadang cerita-cerita itu bukan hanya karangan, tapi juga dari cerita sungguhan."

"Ck. Ku kira apa, dasar merepotkan!"

"Hei, tadi kau yang bertanya." Yoojung mengerucutkan bibirnya sebal.

"Lagipula, Aku lebih suka dengan dengan hal yang nyata dari pada kumpulan ceritamu."

"Lalu kenapa kau bertanya seperti itu?"Dyo mengangkat bahunya.

"Aku hanya ingin tahu"

Yoojung kembali mengetik dan merutuk pelan mendengar jawaban pemuda es itu. Dasar sekali es tetap saja es, umpatnya dalam hati. Tanpa memperhatikan jika pemuda yang membuatnya kesal itu tengah tersenyum geli.

'Dan kurasa aku mulai tertarik dengan dunia itu, karenamu'

*********************

Dua orang berbeda gender itu berjalan melewati hiruk-piruk manusia lain. Festival musim semi memang menjadi pilihan yang baik untuk menyaksikan indahnya berbagai bunga bermekaran. Dua orang itu mempercepat langkahnya -lebih tepatnya sang perempuan yang menyeret pemuda disampingnya- menerobos keramaian.

Perlu diingatkan, jika pemuda bermata bulat itu tidak menyukai tempat yang ramai, terutama festival. Dia tidak akan pernah sudi menginjakkan kakinya ditempat yang sesak ini jika saja bukan gadis bersurai madu ini yang menariknya dengan semangat, tidak menghiraukan penolakan yang ia ajukan sebelumnya.

"Mau berapa banyak makanan lagi yang kau beli, Jung-ah? Perutmu bisa meledak dengan makanan sebanyak itu." Dyo menarik tangan gadis mungil itu, sekarang giliran dia yang menyeret Yoojung.

"Tapi aku belum menemukan permen kapas, Dyo-ya"

"Ini festival musim semi tradisional, bukan pasar malam. Dasar bodoh!"

Yoojung cemberut, tangan kanannya masih menenteng beberapa kantong plastik yang berisi makanan yang ia beli difestival. Dyo memelankan langkahnya ketika ia rasa telah cukup jauh dari keramaian, tangannya yang menyeret tangan putih Yoojung turun dan menggenggam jemari lentik itu. Mereka melewati jalan lenggang yang dihiasi lampu-lampu kecil disetiap sisinya. Diujung jalan itu, mereka akan menemui sungai yang terkenal di Korea Selatan. Sungai Han.

Keduanya duduk disalah satu kursi taman yang berhadapan langsung dengan sungai. Dyo melepaskan genggamannya. Tangan kekarnya mengeluarkan ponsel dari dalam saku jaket yang dikenakannya, lalu detik berikutnya dia telah tenggelam dalam dunia segi empatnya itu. Disampingnya, Yoojung mengendus sebal.

"Yang benar saja! Beberapa menit lalu kau menarikku seenaknya, membawaku ketempat ini, dan mendiamkanku. Aku itu ingin melihat festival bukan melihat sungai !" Gadis itu membuka kantong yang dibawanya, mengeluarkan jajanan yang ia beli tadi sambil tetap mengumpat teman disampingnya.

"Lagipula kau yang memaksaku ke tempat ramai itu sebelumnya. Sekarang giliranku mengajakmu ke tempat tenang seperti ini"

"Hei, apa yang akan kita lihat disini? Hanya air sungai yang memantulkan langit malam, begitu?"

"Sebentar lagi kau juga akan tahu. Ck. seperti anak kecil saja." Dyo membersihkan sudut bibir Yoojung yang kotor dari bumbu kue beras yang dimakannya barusan. Gadis dengan bibir mungil itu tersipu, pipi putihnya merona saat menyadari tangan Dyo yang masih mengusap ujung bibirnya. Dadanya berdebar keras saat netra coklatnya bertemu dengan manik kelam Dyo.

Yoojung salah tingkah, spontan ia menepis pelan tangan Dyo. Memutuskan kontak mata mereka. Yoojung mencoba menormalkan detak jantungnya.

"Memang apa yang akan muncul disini?"

Wusss.

Angin berhembus perlahan, membawa ribuan kelopak sakura yang berguguran. Beterbangan bagai kupu-kupu dengan warna yang indah. Yoojung terpana, dihujani oleh kelopak-kelopak merah muda itu. Ditambah dengan sinar bintang-bintang dan cahaya lampu-lampu taman yang terpantul disungai besar dihadapan mereka.

Sementara Dyo hanya menatap wajah cantik itu dengan senyuman yang terpatri diwajahnya. Merasa diperhatikan, Yoojung balas menatap Dyo.

"Kenapa kau melihatku dengan pandangan aneh begitu?"

"Kau mirip dengan seseorang"

"Siapa?"

"Orang yang begitu mirip denganmu"

Yoojung memutar matanya malas."Aku tidak sejenius dirimu ! jangan memutar-mutar pernyataan. Aku ulangi lagi, siapa orang itu?"

"Kenapa kau begitu ingin tahu?"

"Kau yang menyebutnya lebih dulu."

"Oh ya, aku tidak ingat." Dan lagi percakapan keduanya ditutup dengan umpatan-umpatan kecil Yoojung.

********************

Dyo memasuki bangunan putih yang selama ini rutin ia kunjungi. Sebenarnya baru hari ini ia bisa ketempat itu -setelah mencari alasan pada Yoojung- lagi. Lelaki bertubuh tegap itu tersenyum tak kala para suster yang melewatinya menyapa.

"Selamat siang Dyo-ya, lama tidak bertemu." pemuda Do itu tersenyum sumringah, lalu memeluk sosok yang baru saja menyapanya.

"Apa kabar Suho Hyung?" Pria yang ditanya hanya tersenyum. Wajah bak malaikatnya makin terlihat tampan, cukup membuat para suster disekitar mereka menjerit senang.

"Seperti yang kau lihat, aku tetap tampan." Dyo memutar bola matanya malas.

"Itu sama sekali tidak lucu hyung." Dokter muda itu hanya tertawa, lengan kanannya merangkul pemuda yang sudah dia anggap adiknya sendiri itu.

"Kau pasti ingin mengunjunginya kan? Pasti kau sangat merindukannya, mengingat sekarang kau terlalu sibuk dengan perkuliahanmu yang hampir selesai." Dyo hanya bergumam menjawabnya.

"Dia ada ditaman belakang, akhir-akhir ini dia sangat menyukai bunga-bunga yang mulai bermekaran. Kau bisa memanggilku jika mebutuhkan sesuatu."

Dokter muda itu pergi. Dyo melihatnya. Wanita cantik yang kini tengah menatap takjub bunga krisan putih yang tumbuh subur dihadapannya. Lelaki Do itu melangkah pelan, tidak mau mengganggu aktivitas wanita itu.

"Kyungsoo-ya" Langkah pemuda itu berhenti ketika suara lembut itu menembus indera pendengarannya. Hanya wanita itu yang memanggilnya dengan nama aslinya. Wanita itu menatap ramah pada Dyo yang mematung ditempatnya. Bolehkah ia berharap wanita ini akan menerimanya lagi?

"Kemarilah sayang, kau pasti lelah." Dyo mengikuti permintaan wanita itu dan duduk disampingnya. Matanya memancarkan binar haru dan rindu yang teramat dalam.

"Kau kemana saja? Aku mengkhawatirkanmu kau tahu?" Dyo terpana. Benarkah? Apa setelah ini mereka bisa kembali seperti dulu. Pemuda itu memeluk wanita didepannya.

"Aku merindukanmu.."

"Ya, aku juga merindukanmu Kyungsoo-ya." Wanita itu mengelus punggung Dyo lembut, membuat Dyo nyaman.

"Dan tentu saja adikmu, Hyanggi" Dyo mengendurkan pelukannya. Nama itu. Oh tidak lagi, Dyo menatap wanita itu sendu. Ternyata mereka tidak bisa seperti dulu ya. Dyo tersenyum miris.

"Hei sayang, kenapa kau menatapku seperti itu? Dimana Hyanggi?" Dyo memeluk wanita itu lebih erat. Dia tahu apa yang selanjutnya akan terjadi.

"Kyung-ie.."

"Kyung, dimana Hyanggi? Kyungsoo, Do Kyungsoo jawab pertanyaanku!" Suara itu perlahan mulai mengeras, membuat Dyo menguatkan dekapannya. Wanita itu mulai berontak, mencoba melepaskan diri dari tangan kokoh yang mengurungnya.

"Kau kemanakan putriku sialan! Kau memang bersekongkol dengan bajingan itu untuk memisahkanku dengan Hyanggi bukan?" Dyo mulai menangis dalam pertahanannya memeluk wanita itu.

"Anak tidak tahu diri ! Sudah syukur kau aku besarkan dengan baik !"

"Ma-maafkan aku.." Pemuda itu hanya bisa berbisik pelan ditengah isakannya.

"Kenapa kau mencelakai putriku hah? Jika bukan karenamu putriku tidak akan pergi !" Wanita cantik itu memukul dada Dyo berkali-kali, meluapkan apa yang ia rasakan.

"Kenapa kau terus menemuinya ! Kenapa kau terus mendatanginya saat aku dan ayahmu telah berpisah? Kau membuatnya tersiksa brengsek !" Wanita itu semakin brutal setelah lepas dari pelukan Dyo. Dia tidak berhenti melempari lelaki yang tertunduk itu dengan kerikil-kerikil yang bisa dijangkau dengan tangan lembutnya.

Beberapa derap langkah terdengar. Dua orang lelaki berbaju putih memegangi wanita itu, satu orang diantara mereka menyuntikkan obat penenang. Perlahan wanita itu melemah, dua lelaki tadi membopong wanita itu ke kamarnya. Meninggalkan Dyo yang masih terisak.

"Maafkan aku... Ibu."

"Dyo-ya" dua suara yang familiar saling beradu ditelinga Dyo. Dan dua orang yang sudah sangat dikenal Dyo melangkah maju.

"Berhenti disana ! Ku bilang berhenti Kim Yoojung !" Sontak langkah kaki gadis yang baru saja disebut itu berhenti.

"Kau juga Suho Hyung, kau tentu tahu apa yang harus kau lakukan." Yang dipanggil hanya menatap iba Dyo, tangan putih pucatnya menarik tangan sang adik. "Sebaiknya kita pergi, Jung-ie."

Yoojung tidak bergeming. "Aku ingin tetap disini Oppa, kau boleh pergi jika kau mau." Suho menahan tangan Yoojung yang melangkahkan kakinya lagi.

"Oppa mohon mengertilah Jung-ie, Dyo perlu sendiri."Yoojung menggeleng. Dia masih tetap mau bersama teman yang selama ini mengisi hari-harinya. Dan hatinya.

"Pergi! Aku tahu kau hanya akan menertawakanku. Pergilah" bentak Dyo tiba-tiba.

Yoojung melepaskan cekalan Suho, gadis itu melangkah mendekati Dyo."Kenapa aku harus pergi? Lagipula itu bukan hal yang lucu dan bisa aku tertawakan"

"Pergilah, aku tidak mau kau kasihani" Dyo memalingkan wajahnya, melepaskan kontak matanya dan gadis itu.

"Aku lebih kasihan pada wanita itu daripada kau, jadi berhentilah merasa orang akan mengasihanimu. Karena kau bukan untuk dikasihani tapi untuk dikagumi"

Baru saja Dyo akan membalas ucapan Yoojung, gadis bersurai madu itu sudah menubruknya dengan tubuh mungilnya. "Bukankah kita teman? Kau bisa berbagi denganku kan?" Suho meninggalkan keduanya, dia percaya pada adiknya.

"Tapi.."

"Menangislah, semua manusia memerlukannya. Kau tidak perlu merasa lemah karena itu." Dyo mulai membalas pelukan Yoojung. Pemuda itu menyembunyikan wajahnya diceruk perempuan cantiknya.

"Ibuku tak bisa memaafkanku Jung-ah. Dia membenciku." Yoojung mengusap punggung Dyo lembut. Dia mengerti. Sangat mengerti apa yang dirasakan pemuda itu kini. Bukankah sangat menyakitkan dibenci oleh orang yang sangat kau cintai atas apa yang tidak pernah kau lakukan? Gadis cantik itu tahu semuanya. Dia tahu, karena kakaknya adalah dokter dari ibu Dyo.

Do Kyungsoo, pemuda yang dibesarkan oleh ibu tirinya penuh dengan kasih sayang. Karena ibu kandungnya meninggal setelah melahirkannya ke dunia. Meski begitu dia begitu disayangi oleh ibu baru dan ayahnya. Hidupnya lebih indah lagi ketika dia dihadiahi adik perempuan dari ibu yang selalu memberinya kasih sayang selama ini. Keluarga mereka hidup dengan damai. Sampai suatu hari ayah Dyo dipecat dari pekerjaannya karena tuduhan rekan kerjanya sendiri. Sejak saat itu orang tuanya selalu bertengkar, dan berakhir dengan ibunya yang menerima berbagai luka ditubuhnya.

Hingga akhirnya keduanya memilih berpisah. Awalnya hak asuh atas kedua anak itu ditetapkan kepada ibunya. Namun, ayahnya menolak. Ia yang ingin menerima hak asuh atas kedua anaknya. Tapi, hakim memutuskan Hyanggi -adik Dyo- bersama ibunya sedang Dyo bersama ayahnya.

Dyo kecil kehilangan kasih sayang dari ayahnya. Dia selalu menjadi sasaran kekesalan dari sang ayah. Tubuhnya tidak pernah lepas dari lebam-lebam biru. Namun, dia masih tetap mendatangi ibu dan adiknya yang masih merangkulnya dengan kasih sayang. Itupun tidak lama. Ketika suatu hari Hyanggi menjadi korban pemerkosaan dan pembunuhan demi melindungi kakaknya dari amukan orang-orang yang mabuk dijalan kecil tempat tinggal Dyo. Dan orang-orang itu juga termasuk ayahnya.

Sejak itulah, ibunya terus menyalahkan Dyo dan terus mempertanyakan anak perempuannya yang telah meninggal. Kejiwaan wanita itupun terganggu.

"Suatu hari, bibi Jung pasti bisa memaafkanmu Dyo." Yoojung mengusap punggung pemuda yang mulai meredakan tangisnya.

"T-terima kasih Jung-ah"

"Apapun untukmu."

*********************

"Maaf"

Gadis bersurai madu itu mengangkat sebelah alisnya. Tanda bertanya.

"Telah membentakmu tadi." Perempuan itu tersenyum maklum.

"Kau selalu membentakku, Dyo." Pemuda yang dimaksud menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.

"Tapi itu bukan apa-apa. Buktinya kita tetap berteman bukan?" Yoojung tersenyum lebar, menampilkan gigi putihnya yang berjejer rapi. Dyo mengendus, lalu kemudian tersenyum hangat. Tangan kanannya mengacak rambut berwarna madu milik gadis mungil itu.

"Hei, kau merusak rambutku !" Dyo hanya menggedikkan bahunya acuh. Yoojung mencibir.

Saat ini mereka tengah berada ditaman dekat sungai Han. Kembali menatap indahnya kelopak sakura yang tertiup angin. Yoojung menyesap teh lemon yang berada digenggamannya, sembari menatap hamparan air yang terlihat tenang.

"Kau tahu, kau lebih terlihat cantik saat diam"

Yoojung terdiam mencerna apa yang baru saja ia dengar."A-apa?"

"Kau cantik, Yoojung-ah" Pipi gadis itu merona mendengar kata selanjutnya yang diucapkan Dyo. Dadanya berdebar tak karuan.

Pemuda itu hanya tersenyum. Merasakan sesuatu yang menggelitik dari dalam dirinya saat melihat rona merah dipipi Yoojung. Perasaan yang akhir-akhir ini mengganggu pikirannya. Apa sekarang ia jatuh cinta pada teman yang tidak bisa diam ini?

"Yoojung-ah" tepat saat Yoojung menoleh pipinya kembali memerah. Sesaat ia terdiam sebelum akhirnya tangan mungilnya memukul Dyo dengan brutal.

"Hei, hei kau kenapa memukulku?" Dyo menangkap tangan putih itu.

"Kau beraninya mencium pipi suciku"

Dyo tertawa renyah."Habisnya aku suka melihat pipi mu itu merona." Dyo kembali mencuri ciuman dipipi Yoojung yang satu lagi. Dan detik berikutnya teriakan gadis bersurai madu itu yang terdengar.

"Yak ! Do Kyungsoo !"

********************

Pemuda bermata bulat itu kembali menatap jam digital yang bertengger ditangan kanannya. Manik kelamnya kembali mengedarkan pandangannya ke seluruh cafe. Sudah terlambat 15 menit, gumamnya.

Tangannya merongoh ponsel yang ia letakkan ditas gendongnya. Mengetik pesan untuk seseorang yang tengah menunggunya untuk makan malam bersama. Sebenarnya, dari tadi Dyo sudah ingin pergi dari cafe ini. Tapi karena seseorang yang ia tunggu sangat penting untuk kelulusannya sebagai seorang mahasiswa, dia mengurungkan keinginannya untuk segera pergi. Ternyata menunggu itu bukanlah hal yang menyenangkan.

"Dyo Oppa" Dyo menghentikan gerakan jari dilayar ponselnya ketika suara itu terdengar. Suara yang sudah dia lupakan sejak 2 tahun lalu. Suara yang pernah membuat dia begitu hidup lalu kembali mati. Suara yang selalu meluluhkan perasaannya. Mungkinkah..

"Sohyun." Suara berat itu bergumam pelan. Tak percaya atas apa yang ia lihat kini. Wanita dihadapannya ini? Kenapa dia disini?

Gadis berpipi tembam itu menatap Dyo dengan binar penuh rindu. Manik birunya menatap lembut netra kelam Dyo. Seolah berbicara, betapa senangnya ia atas pertemuan ini.

"Kenapa kau disini?" Dyo menguasai keterkejutannya, menyembunyikannya dengan suara dingin andalannya. Bukankah memang wanita ini yang membuatnya sedingin itu?

"Karena aku ingin kembali denganmu."Dyo menatap Sohyun tajam.

"Ck. Memangnya untuk apa kau kembali?"

Sohyun menundukkan wajahnya, terlalu takut untuk membalas tatapan menusuk dari lelaki dihadapannya,"Kau tidak merindukanku lagi?"

"Untuk apa aku merindukanmu?" Dyo tersenyum meremehkan.

"Apa kau tidak mau mendengar cerita yang sebenarnya?"

Dyo menarik kursinya. "Jika itu tentang bagaimana kau jatuh cinta dengan si brengsek Yeo itu, aku tidak tertarik." Pemuda itu menyampirkan tasnya dibahu kanannya. Kemudian bangkit dan mulai melangkah.

"Tentang perjanjianku dan Jingoo" Dyo berhenti ditempat. Maniknya sekilas menatap Sohyun sinis.

"Aku tidak peduli."

*********************

Yoojung mendudukkan dirinya disebelah pemuda bertubuh tegap yang tengah sibuk dengan buku bacaannya. Meski sebenarnya, dia tidak benar-benar sedang membaca.

"Hey, Dyo" gadis cantik itu mencolek pipi tembam pemuda disampingnya.

"Hn."

Yoojung menghela nafas kasar. Sejak kapan pemuda ini kembali dingin? Bukankah setelah kejadian dirumah sakit itu dia telah lebih terbuka?

"Dyo-ya"

"Hn."

"Kau kemana saja?" Yoojung memainkan buku lain yang ada disekitarnya.

"Aku ada"

"Kau baik-baik saja? Kau jadi pendiam lagi belakangan ini"

"Aku baik-baik saja" Yoojung merengut. Apa-apaan jawabannya itu. Umpatnya dalam hati.

"Kau menyebalkan ! Dasar es !" Yoojung meninggalkan perpustakaan dengan gerutuan yang tidak berhenti dari bibir kecilnya itu.

Selepas Yoojung pergi, Dyo menyingkirkan buku bacaannya. Dia juga bingung kenapa dia bisa kembali dingin pada gadis cerewet tersebut. Penjelasan dari Sohyun cukup membuatnya bimbang. Jujur, dia memang menyukai teman mungilnya kini. Tapi, dia juga tidak bisa memungkiri jika hatinya masih mengingat Sohyun. Apalagi ketika dia tahu apa alasan sebenarnya gadis itu.

Dia tidak mungkin mengatakan pada Yoojung, jika Sohyun meninggalkannya dengan Yeo Jingoo hanya karena sebuah perjanjian. Dimana mereka berdua berpura-pura bertunangan untuk memenuhi tujuan mereka masing-masing. Jingoo yang hanya mengharapkan agar warisan ayahnya segera ia dapatkan, dan Sohyun yang mencari celah untuk kembali bersama Dyo. Mereka berpura-pura selama 2 tahun ini, dan berpisah dengan baik sesuai kesepakatan sebelumnya.

Bukan rahasia umum lagi jika Sohyun dan Dyo sangat berbeda. Karena gadis dengan poni menyamping itu adalah putri tunggal dari kalangan kaya raya. Memang Dyo tidak pernah mendapat restu dari kedua orangtua gadis itu. Dan pengorbanan gadis itu tidak mungkin ia acuhkan begitu saja. Namun disisi lain, ia juga tidak mungkin menyakiti gadis bermanik coklat yang selalu ada disampingnya disaat tersulitnya selama ini. Bolehkah ia egois untuk tetap berada diantara keduanya? Rasanya dia tidak bisa jika memilih salah satu diantaranya. Entahlah, Dyo menghela nafasnya kasar.

******************

"Oppa, ayo kita cari permen kapas" gadis dengan balutan kemeja kuning gading itu menarik tangan lelaki berwajah malaikat disampingnya.

"Ya ampun, Yoojung-ie kau sudah menghabiskan permen kapasmu yang ke 3. Dan sekarang kau masih ingin memakan benda merah muda itu?" Pemuda berkulit putih pucat itu menggeleng pelan melihat wajah memelas adik perempuannya itu.

"Hehee.. Ayolah Suho Oppa, tidak setiap hari kan aku memakan permen manis seperti ini." Suho hanya menggelengkan kepalanya. Dia paling tidak bisa berdebat dengan adik cantiknya ini.

"Kau tunggulah dulu, Oppa ingin ke kamar mandi sebentar."

Yoojung hanya mengangguk. Gadis itu mengedarkan pandangannya. Taman bermain ini memang tidak terlalu ramai karena bukan hari libur. Memang tidak biasanya gadis periang itu pergi berdua dengan kakak laki-lakinya lagi, karena yang selalu menemaninya adalah lelaki bermata bulat yang selama seminggu ini tidak memberinya kabar sedikitpun. Entah mungkin dia begitu sibuk mempersiapkan wisuda. Yoojung jadi merindukan pergi ke sungai Han dan menyaksikan gugurnya bunga sakura saat musim semi disana.

Hah, gadis itu menghembuskan nafasnya sedikit kasar. Dia begitu merindukan lelaki bermarga Do yang acuh itu. Gadis dengan netra coklat itu menghampiri penjual permen kapas. Perlu dicatat dia itu penggemar berat makanan kapas manis itu.

"Oppa, bagaimana kalau kita menaiki bianglala saja" suara lembut itu menyapa pendengaran Yoojung.

"Hn."

Spontan gadis bersurai madu itu menoleh ke belakang saat mendengar suara berat yang familiar. Dia bisa melihat bahu tegap yang membelakanginya, dan seorang perempuan berambut lurus mengapit lengan kokoh pemuda itu. Pemuda yang sangat dikenali Yoojung meski hanya dari punggungnya sekalipun. Gadis itu mengikuti keduanya dalam diam.

"Aku selalu percaya kau akan menungguku, aku mencintaimu"

"Sohyun-ah, Aku..."

Prangg

Bunyi pecahnya kaca yang berasal dari botol yang dibawa seorang wanita yang tidak sengaja Yoojung tabrak itu menarik perhatian Dyo. Mata bulatnya melebar melihat gadis berkemeja kuning gading itu menatapnya nanar. Ada kilatan kecewa dimata kecil itu.

"Maaf, aku mengganggu kalian"

"Yoojung-ah" Langkah laki-laki itu tertahan tak kala tangan kecil Sohyun menahan tangan kokohnya.

Sedangkan gadis bersurai madu itu berlari keluar taman bermain. Melupakan kakak laki-lakinya yang mungkin sedang mencarinya kesana kemari. Gadis itu menepuk dadanya yang terasa sesak.
Sohyun. Tadi Dyo memanggil gadis berpipi bulat itu dengan nama yang selalu membuanya cemburu. Dia sangat tahu siapa itu Sohyun. Dan dia juga tahu bagaimana perasaan pemuda itu kepada perempuan yang bisa mengubah pribadinya menjadi sedingin itu. Dia tahu bagaimana cerita mereka. Kini, gadis itu kembali. Apa ini alasan Dyo tidak memberinya kabar selama seminggu ini? Dan inikah sebabnya sikap lelaki itu kembali dingin.

**********************

Dyo menggenggam tangan Sohyun. Gadis manis itu menatap cemas Dyo. Manik birunya memancarkan ketakutan yang kentara. Entah kenapa dia merasakan sesuatu yang mengganggu hatinya, saat prianya ini memanggil gadis bersurai madu tadi.

Dyo menatap Sohyun lamat. Mencoba mencari kembali getaran yang biasa hadir saat mereka bersama. Tapi, selanjutnya dia tersenyum kecut. Matanya berbinar memohon maaf.

"Oppa, d-dia.." Dyo membawa Sohyun dalam dekapannya.

"Aku rasa kau mengerti tanpa perlu ku jelaskan." Gadis cantik itu mulai terisak.

"Maaf, tapi, bisakah kita hanya menjadi teman sekarang?" Sohyun tidak bisa menjawab. Dia hanya bisa menangis atas pengakuan yang baru saja didengarnya.

Dyo mengusap airmata yang membasahi pipi bulat itu. Memberikan ciuman hangatnya didahi wanita yang pernah bertahta dihatinya. Perempuan yang kini, hanya ada dikotak kenangan lalu. Karena kini hatinya telah sepenuhnya terisi oleh gadis mungil bersurai madunya. Gadis yang membuatnya menyukai dunia yang dulu sangat ia musuhi. Dan ia sudah sangat yakin atas kebimbangannya akhir-akhir ini, jika yang ia cintai kini hanya Yoojung. Dia hanya ragu, karena kedua gadis itu memiliki banyak kesamaan.

"Maafkan aku, Hyun-ie" Dyo berlari, meninggalkan Sohyun yang hanya menatap nanar dirinya. Pria bermata bulat itu tidak begitu peduli, yang ada dalam pikirannya adalah menemukan adik dari hyung malaikatnya, lalu mendekap tubuh mungil itu erat. Mengungkapkan jika ia begitu merindukan gadis cantik itu.

Dyo sedikit tersenyum, melihat punggung yang sangat dirindukannya.

"Jung-ah"

Brakkkk

Suara keras terdengar dijalan yang tadi diseberangi lelaki bermarga Do itu. Sontak Dyo menoleh, dan matanya terbelalak ketika melihat siapa yang baru saja menjadi sumber suara keras beberapa detik lalu. Pemuda itu berlari mendekati kerumunan. Juga, gadis bersurai madu yang sebelumnya dipanggil Dyo.

"Sohyun-ah." Dyo memangku kepala gadis berpipi bulat yang dialiri darah dari pelipisnya. "Dy-o, Opp-a"

"Kumohon bertahanlah, Sohyun-ah." dengan panik pria itu langsung memangku Sohyun ketika mobil ambulan tiba. Melupakan gadis yang sebelumnya ia kejar.

Yoojung hanya menatap mobil ambulan yang menjauh itu sendu. Ternyata cinta pemuda dengan manik sekelam malam itu memang sangat besar untuk Sohyun. Dia tidak bisa menggantikan posisi gadis berponi menyamping itu seutuhnya. Tidak pernah bisa.

Yoojung tersentak ketika sepasang tangan putih pucat membawanya dalam sebuah pelukan hangat. Dekapan yang selalu menenangkannya ketika ia rapuh. Dekapan yang tidak pernah dimiliki oleh siapapun, termasuk Dyo. Itu kakak laki-lakinya. Pemuda berwajah malaikat yang senantiasa menjaga dirinya setiap saat.

"Kau tidak mau menemani Dyo?" Yoojung menatap netra yang sama dengannya itu.

"Tapi, dia tidak memerlukanku Oppa." Suho membingkai wajah adiknya itu.

"Dia pasti membutuhkan penyemangat. Setidaknya disana kau bisa menguatkan hatinya, sayang." Suho kembali mendekap Yoojung, ketika gadis itu terisak.

"Oppa tahu kau gadis yang kuat, meski kau harus merelakan sesuatu yang sangat kau cintai."



.






"Dyo-ya" pemuda itu mendongkang, menatap seseorang yang baru saja memanggilnya. Netra kelamnya menangkap sosok yang beberapa saat lalu ia lupakan begitu saja.

"Makanlah dulu, kau bisa sakit jika seperti ini." Yoojung menyerahkan kotak bekal yang ia bawa. Gadis itu tidak tega melihat keadaan Dyo yang berantakan. Apalagi pemuda ini tidak bergeming dari tempatnya sejak 1 jam yang lalu. Sohyun masih diruang darurat. Dan Dyo dengan setia menanti kabar dokter yang akan diterimanya.

Dyo menggeleng, selera makannya tidak muncul sama sekali. Dia masih khawatir dengan gadis diruang gawat darurat itu. Yoojung hanya tersenyum kecut.

"Kau begitu mencintainya?" Pertanyaan itu membuat Dyo tersentak. Kata itu seakan menamparnya. Lidahnya terasa kelu untuk sekedar menjawab. Gadis itu mengerti. Diam berarti iya. Dan dia sadar, masalalu lelaki itu tidak akan pernah bisa ia kalahkan. Yoojung bangkit.

"Maaf."

Kata lirih itu yang kini menutup percakapan mereka. Dyo masih diam meski gadis itu semakin melangkah jauh. Dia tidak tahu apa yang sebaiknya ia lakukan sekarang. Hatinya kembali bimbang seperi beberapa minggu yang lalu.

********************

Musim semi kembali menyapa kota Seoul. Festival pun telah digelar dari beberapa hari yang lalu. Bisa dilihat begitu banyaknya pengunjung yang hadir, apalagi diakhir pekan seperti ini.

Tak jauh berbeda dari ramainya festival dipusat kota, sungai Han pun menjadi tujuan yang bagus bagi para penikmat ketenangan atau yang ingin menghabiskan waktu berdua tanpa kebisingan. Ditambah ditaman-taman dekat sungai Han itu semakin banyak pohon-pohon sakura yang menjatuhkan kelopak-kelopak berwarna merah muda yang membuat banyak orang terpesona atas keindahannya.

Salah satu penikmat musim semi itu adalah lelaki dengan mata bulat dan manik sekelam malam yang kini tengah duduk bersandar disalah satu pohon bunga-bunga cantik itu. Senyumnya merekah seiring dengan bergugurannya bunga sakura yang kembali tertiup angin. Pemuda itu terkekeh ketika salah satu kelopak sakura itu mengenai wajah perempuan yang sedang menumpukan kepalanya dipangkuannya.

Merasa terganggu, mata cantik itu mulai terbuka. Mata kecil itu memincing kearah Dyo dan bibir mungilnya mengerucut sebal.

"Kenapa kau tidak menyingkirkan sakura ini dari bibirku?"

"Aku tidak mau menganggu kecantikanmu" perempuan itu mengerutu pelan, sembari bangkit dari tidurnya.

"Sejak kapan kau pandai menggombal heh?" Dyo menggedikkan bahunya. Perempuan itu memutar matanya sebal. Lelaki yang kini lebih dewasa itu, tersenyum simpul.

"Terima kasih." Bisiknya pelan. Perempuan itu menyerngit heran.

"Untuk?"

"Terima kasih atas semuanya." Dyo menyelipkan anak rambut wanita cantik yang tertiup angin itu ketelinganya. Perempuan itu balas tersenyum cerah.

"Apapun untukmu."

"Aku mencintaimu... Yoojung-ah."

"Akupun begitu." Keduanya berpandangan penuh arti. Seolah bercerita betapa bahagianya mereka karena telah saling memiliki.

Yoojung dan Dyo memang bersama. Setelah pemuda Dyo itu melewati masa bimbangnya. Namun, setelah Sohyun sadar, wanita dengan pipi bulat itu melepaskannya. Sohyun menyadarkannya, jika ia tidak lagi memberikan hatinya untuk gadis itu semata. Hatinya telah berpaling. Dan Sohyun akui, itu juga karena kesalahannya. Bukankah waktu memang bisa mengubah hati?

Pada akhirnya, pemuda Do itu mencari kembali gadis bersurai madu mungilnya. Meyakinkannya bahwa seluruh ruang dihati pemuda itu hanya untuk gadis cerewetnya. Hanya untuk Yoojung, bukan Sohyun. Hingga akhirnya cinta meruntuhkan ego yang membelenggu mereka, dengan rasa rindu yang menyadarkan mereka. Jika mereka tak bisa hidup dengan baik tanpa bersama.

"Appa, eomma"

Panggilan kecil itu menyadarkan keduanya dari keterpanaan masing-masing. Dyo menjauhkan wajahnya yang hanya berjarak beberapa sentimeter dari Yoojung. Mengarahkan pandangannya pada anak laki-laki berusia 7 tahun yang menghampiri mereka dengan permen kapas ditangan mungilnya. Bocah bermata bulat itu duduk dipangkuan Yoojung.

"Kau dari mana saja Myungsoo-ya? Kau membuat ibu berisikmu ini lebih berisik dari biasanya." Dyo mengacak surai madu anak laki-laki itu. Sedang Yoojung menyikut perut Dyo pelan.

"Aku tadi bertemu dengan Suho ahjussi, Appa, aku diajak berkeliling dulu menggunakan sepeda dengan Juny eonni." Yoojung mencium puncak kepala putranya itu.

"Kau ingat Myung-ie, kau harus berbicara dulu sebelum pergi." Myungsoo tertawa polos.

"Maaf eomma, aku janji tidak mengulanginya lagi."

"Eomma pegang janjimu, jagoan." Myungsoo menyuapkan permen manis ditangan kecilnya ke mulut Yoojung. "Untuk eomma."

Dyo mencubit pipi Myungsoo gemas. "Untuk Appa tidak?"

"Ani, Appa kan tidak suka yang manis." Yoojung tertawa melihat Dyo mengendus sebal.

"Kau mau Appa hukum eh?" Dyo menggelitik Myungsoo dengan brutal, membuat bocah duplikatnya itu tertawa keras. Keduanya berguling diatas alas piknik kotak-kotak merah itu.

Yoojung hanya menyaksikan pergelutan antara ayah dan anak itu sembari tersenyum. Bunga sakura berjatuhan, perempuan bersurai madu itu menengadahkan tangannya. Merasakan lembutnya kelopak sakura yang mendarat ditangan putihnya. Dia sangat bersyukur telah diberikan kesempatan menjadi istri lelaki bermata bulat itu. Telah diberikan keluarga kecil seperti saat ini. Bisa kembali menyaksikan musim semi ditepi sungai Han bersama Dyo dan Myungsoo, putra kecil mereka.

"Eomma" Yoojung menyeka keringat dipelipis putra semata wayangnya itu. "Apa Myung-ie?"

"Benarkah kita akan kedatangan keluarga baru?"

Yoojung menyerngit heran. " Apa maksudmu sayang?"

"Katanya aku akan mendapatkan adik dihari ulang tahunku nanti. Benarkan eomma? Oh ya, boleh aku minta adik laki-laki supaya bisa ku ajak bermain bola eomma? Bolehkan?"

Yoojung mengerjapkan matanya cepat. Adik untuk Myungsoo? Putranya ini kan masih manja. Yang benar saja ! Siapa pula yang mengatakannya pada putranya ini.

"Kau mendengarnya dari siapa sayang?"

"Dari Appa, eomma. Katanya Appa akan berusaha setiap hari agar aku dapat adik, dan jika perlu sampai malam juga Appa akan berusaha."

"Katanya, Appa sangat senang akan membuat adik bersama eomma." Myungsoo berceloteh dengan riang, tidak begitu mengerti makna yang tersirat dari apa yang ia katakan.

Sedangkan Yoojung menatap Dyo tajam, seakan pandangannya bisa membunuh siapa saja yang melihatnya. Dyo mulai bangkit, menarik Myungsoo untuk menghindari amukan dari sang istri.

"Yak ! Do Kyungsoo, apa yang kau katakan pada anakku hah ! Kembali kau !"

Dan percakapan mereka kembali diakhiri dengan teriakan-teriakan melengking Yoojung. Hanya saja, sekarang ditambah pelengkap tawa renyah dari Myungsoo. Pelengkap keluarga mereka. Hidup mereka. Dengan gugurnya jutaan kelopak sakura yang menghujani mereka, kisah ini ditutup.

_The End_



It's Not Fine

"Maaf, tapi aku tidak bisa mempertahankan ini lebih lama lagi. Aku ingin kita berakhir." Gadis itu mendongkang, melempar pandangannya pada lelaki yang baru saja mengucapkan kata yang membuat hatinya berdenyut sakit.

"Tapi kenapa?" Lelaki itu tidak menjawab, dia mendekati gadis mungil dengan balutan mantel abu-abu tua itu, memperpendek jarak yang tercipta beberapa menit yang lalu. Tangan hangatnya menggapai wajah cantik itu, mengusap bulir-bulir bening yang mengalir dipipinya yang mulai memerah entah karena cuaca yang semakin dingin ataupun karena emosi yang ada dalam hatinya.

Lelaki itu menghela nafasnya lelah, lalu tangan kokohnya merengkuh tubuh gadis mungil yang selama 3 tahun itu telah menemaninya, menghiasi harinya. Diusapnya rambut coklat yang menguarkan wangi mint itu, berusaha menenangkan tubuh kecil yang bergetar dalam pelukannya.

"Maafkan aku, sungguh aku benar-benar minta maaf." Bisik suara berat itu akhirnya terdengar ditelinga gadis itu.

"T-tapi.. Kenapa L-Luhan-ah?" Gadis itu terbata karena isakan yang terkadang lolos begitu saja dari mulutnya.

"Maaf aku benar-benar sudah tidak bisa."

Lelaki itu menciumi anak rambut gadis dalam kungkungan kedua tangannya, menenangkan dan menyatakan permintaan maafnya melalui sentuhan manis itu. Sungguh, sebenarnya ini berat untuknya. Tapi ini memang yang harus ia putuskan, dia hanya tidak mau membuat gadis itu semakin sakit hati nantinya.

Luhan melepas pelukannya ketika gadis bersurai coklat itu sudah tidak terisak. Luhan memandang sendu wajah kacau dihadapannya, menyeka lagi airmata yang mengalir tanpa henti dipipi putih itu. Tersenyum menguatkan meski sebenarnya itu malah membuat gadis didepannya semakin sulit untuk melepasnya.

"Jaga dirimu baik-baik, dan tolong jangan benci aku. Kita masih bisa menjadi teman seperti dulu." Luhan beranjak, melepaskan tautan pada tangan mungil yang selama ini selalu ia genggam hangat.

"Dan jika kau perlu bantuan apapun, kau bisa menghubungiku. Sampai jumpa." Luhan mencium kening gadis itu sekilas, kemudian kaki jenjangnya melangkah meninggalkan tempat itu. Meninggalkan gadis cantik itu sendiri, membiarkan kenangan akan dirinya menyiksa mantan gadisnya itu.

"Aku hanya butuh kau, Luhan.." Ucap gadis itu lirih, airmata kembali menggenangi sudut mata sipitnya.

*****************

It's Not Fine

Cast : Kim Taeyeon, Lu Han, and Others.

Genre : Drama, Romance

Rated : T

Author : Aisy Kim

¤ Happy Reading ^_^ ¤

Hari ini matahari memberikan senyuman cerahnya pada bumi, membuat seluruh umat manusia melakukan kegiatannya dengan tekun, tidak perlu menggurutu seperti saat hujan yang menyapa mereka. Hiruk piruk kota juga sudah berjalan sejak pagi mulai menyongsong, mengawali hari dengan semangatnya. Dengan latar kesibukan yang ada disana-sini, membuat hari senin menjadi hari yang paling merepotkan. Tapi tidak sedikitpun mengusik para manusia yang menjalankan perannya itu mengeluh, meski terkadang sedikit gerutuan juga tidak terhindar dari bibir mereka.

Berbeda dengan keadaan bumi yang sibuk dan keadaan langit yang begitu ceria, justru gadis mungil bermata sipit dengan surai coklat itu terlihat murung. Mata kecil berbentuk bulan sabit jika tersenyum itu memancarkan kesedihan yang kentara. Seolah berkata jika yang kini ia rasakan adalah hal paling menyakitkan yang sulit ia terima dan hilangkan begitu saja.

Gadis mungil itu menggenggam satu gembok berwarna biru yang terpasang indah dipagar menara tinggi yang lebih orang kenal dengan Namsan Tower itu. Meneliti tulisan yang tergurat rapi disana, bibir tipisnya menyunggingkan senyuman miris ketika pupil hitamnya menangkap kata yang dulu selalu membuatnya tersenyum namum membuatnya sesak kini.

Digembok biru itu tertera janjinya, sebuah ucapan yang bahkan tidak ia tepati kini. Janji yang telah ia langgar dan ia tinggalkan begitu saja. Kata-kata yang mungkin sekarang sudah ia lupakan. Gadis itu tersenyum kecut. Genggaman pada gembok itu semakin mengencang, merasakan setiap sudut yang terasa menusuk tangannya, dan setiap kata yang menusuk hatinya.

Setetes airmata mengalir dipipi putihnya, kenangan itu berputar lagi dalam ingatannya. Kilas balik yang memaksanya untuk kembali pada masa dimana dia berdiri ditempat yang sama didampingi dengan pria tampan bermata indah bagai rusa yang merangkul pundaknya hangat. Membuat tubuh mungilnya rapat dengan tubuh tegap disampingnya.

"Kau menuliskan apa Luhan-ah?" Gadis mungil berseragam sekolah menengah itu bertanya pada pemuda. Jari lentiknya tengah mencakupkan gembok berwarna merah muda ke pagar menara.

"Entahlah." Pemuda itu menjawab acuh.

"Luhan ayolah, tadi kau melihat punyaku, ingat? Sekarang aku minta ganti ruginya." Luhan hanya memutar bosan matanya. Kemudian kaki jangkungnya melangkah ke arah berbeda, meninggalkan gadis mungil yang mengikuti langkahnya dengan gerutuan-gerutuan kecil.

"Aww.." Luhan menoleh, matanya melebar ketika melihat lutut gadis bertubuh kecil itu berdarah. Dengan langkah cepat Luhan menghampiri gadis itu.

"Dasar ceroboh ! Kenapa bisa sampai terjatuh?"Gadis itu merengut mendengar hardikan Luhan.

"Aku menyamai langkahmu yang lebar itu bodoh ! Lagi pula kenapa kau berjalan cepat sekali sih ? Memangnya kau mau kemana?" 

Luhan tidak menjawab, lelaki tampan itu malah menggendong gadis dihadapannya dengan gaya bridal. Lalu melangkahkan kakinya lagi menuju sebuah kursi yang tidak jauh dari sana. Luhan mendudukan gadisnya dikursi itu, kemudian dengan cekatan tangannya membersihkan darah dilutut gadis bername tag 'Kim Taeyeon' itu, menempelkan plester bergambar hati setelahnya.

Luhan bangkit, menarik tangan gadis itu lembut. Lelaki yang sering dijuluki rusa kecil karena mata indahnya itu berjalan pelan. Takut perempuan disampingnya ini kenapa-kenapa lagi, bahkan tangan kokohnya itu merangkul tubuh kecil yang selama ini mengisi kesehariannya, gadis cantiknya.

Mereka berhenti dikumpulan gembok dekat jalan keluar dari Namsan Tower, Taeyeon mengerutkan dahinya memandang lelaki disampingnya heran.

"Kenapa berhenti Luhan-ah?" Luhan hanya menunjuk satu gembok kecil berwarna biru yang terpasang indah diantara warna-warni cerah gembok lain.

"Bukannya kau mau melihat punyaku?"

Taeyeon mendekati gembok kecil itu, meraihnya dan menatap tulisan disana. Dan sedetik berikutnya, senyuman tersungging manis diwajah cantiknya.

'Selalu menjaga dan melindungi peri cantikku, dan selalu disampingnya setiap saat. Pangeran tampanmu, Luhan.'

"Kenapa tersenyum sendiri? Seperti orang gila saja." Luhan berdiri disamping Taeyeon, meraih bahu sempit itu agar mendekat kearah tubuhnya, berbagi kehangatan dimalam yang mulai dingin.

Taeyeon menoleh ke arah Luhan, mengerucutkan bibir tipisnya lucu. Lalu jari lentiknya mencubit pinggang pemuda tampan itu. "Hey, kenapa kau malah mencubitku, Kimmie-ya?"

"Aku tidak gila, bodoh. Dan berhenti memanggilku dengan nama peri yang ada dalam komik kesukaanmu itu." Luhan hanya terkekeh. Begitu menikmati sikap merajuk gadisnya itu.

"Berhenti mengumpat dear, lagipula nama itu cocok untuk wajah cantikmu yang melebihi peri manapun." Taeyeon menundukan wajahnya yang mulai merona, sedang Luhan tertawa renyah dan membawa tubuh kecil itu kedalam pelukannya.

Taeyeon tersentak ketika ada tubuh yang menyenggolnya, membuat pandangannya beralih pada seorang remaja putri yang kini tengah membungkuk.

"M-maaf aku tidak sengaja." Cicitnya takut, sedangkan kedua teman gadis itu juga melakukan hal yang sama. Taeyeon tersenyum, perempuan bermarga Kim itu menyentuh bahu remaja didepannya pelan.

"Tidak apa-apa, aku memaafkanmu." Ketiga gadis berseragam sekolah menengah itu tersenyum berterima kasih dan pergi setelah menyampaikan salam perpisahan pada Taeyeon.

Perempuan itu kembali menggapai gembok biru tadi, mengarahkan kunci kecil kearah lubangnya. Melepaskan kuncian benda kecil itu pada pagar pembatas menara itu selama 6 tahun ini. Dan dengan dorongan rasa sakit dalam hatinya, tangan putih itu melemparkan gembok beserta kuncinya entah kemana, yang penting dia tidak bisa menemukannya lagi.

Dan dalam legenda jika gembok yang telah terkunci disana dibuka, maka janji yang ada didalamnya telah diingkari. Tapi bukankah memang janji manis itu telah dikhianati oleh pemilik gembok biru kecil itu? Taeyeon hanya melepaskan janji yang akan membebani pria itu jika dia melihat kata-kata itu masih tercantum disini bukan?

Taeyeon berbalik meninggalkan tempat dengan ribuan harapan didalamnya, ribuan kata dengan janji terikat disana. Tempat terakhir yang menjadikannya tidak mempercayai sebuah janji lagi, karena seorang pemuda bermata rusa yang telah mengkhianati janjinya, meninggalkan kepercayaan yang telah ia berikan begitu saja. Dan Taeyeon tidak pernah mau lagi menerima manisnya ucapan yang hanya bersifat sementara. Dia tidak memerlukan perkataan dia hanya membutuhkan kepastian, bukti dari seseorang yang telah ia anggap penting dalam hatinya.



.




"Kimmie-ya." Panggilan lembut itu tak mendapat tanggapan.

"Darl"

"Kim Taeyeon!" Luhan mencekal tangan gadis didepannya, menghentikan langkah gadis yang sejak tadi tak menghiraukan panggilannya.

"Hm." Taeyeon hanya bergumam, membuat tatapan kesal tampak dimata bagai rusa itu. "Hei ada apa denganmu?" Luhan menangkup pipi Taeyeon dengan tangan kirinya, sedang tangan kanannya mulai melepas cekalannya ditangan Taeyeon dan menggantinya dengan genggaman hangat.

"Aku tidak apa-apa." Taeyeon menepis tangan lelaki tampan itu dipipinya. "Jangan berbohong Kimmie, lalu kenapa kau menghindariku terus?" Luhan menyelami tatapannya pada manik hitam gadis manisnya itu, mencari sebab apa yang membuatnya resah sejak tadi karena Taeyeon terus menjauh darinya.

Taeyeon memutar matanya malas. "Bukankah seharusnya aku yang bertanya seperti itu?"

Luhan mengangkat sebelah alisnya tidak mengerti, kenapa gadisnya itu malah membalikkan pertanyaan yang dilontarkannya tadi. "Apa maksudmu, dear?" Taeyeon hanya mengangkat bahunya acuh, melepas genggaman Luhan lalu berjalan mendahului pemuda itu.

Luhan menggertakkan giginya karena kesal, pemuda itu paling tidak suka diacuhkan dan juga diabaikan atas semua pertanyaan yang diucapkannya. Luhan menyamai langkah Taeyeon, menahan tangan kecil itu lebih erat dari sebelumnya, sehingga gadisnya meringis pelan. Luhan menyeretnya kearah taman yang ada dipersimpangan depan yang akan mereka lewati, menghempaskan tubuh kecil Taeyeon ke kursi besi berwarna putih disamping sebuah pohon yang berdiri kokoh.

"Katakan dengan jelas Taeyeon-ah!" Nada Luhan berubah menjadi lebih berat dari sebelumnya, dan Taeyeon sangat tahu jika Luhan saat ini tengah menahan emosi.

"Jawab aku Kim Taeyeon!" Taeyeon berjengit kaget ketika Luhan meninggikan suaranya, kemarahan begitu terasa dari setiap katanya. Taeyeon hanya menundukkan wajahnya, sungguh dia paling tidak suka ketika Luhan seperti ini.

Dan kenapa sekarang dia yang mendapat amukan Luhan? Bukankah harusnya dia yang marah kepada Luhan? Bukankah Luhan yang telah menyakitinya?

"Kim Taeyeon, bicara padaku!" Luhan menarik dagu Taeyeon agar gadis itu menatap langsung kearah matanya, berbicara dengan setiap penekanan didalamnya seolah itu adalah perintah yang mutlak dan tak bisa ditolak.

"Memang apa yang harus aku katakan padamu?" Suara lembut itu sedikit bergetar, membuat cengkraman Luhan pada dagu Taeyeon mengendur, hatinya meluluh secara perlahan.

"Kenapa kau menghindariku selama disekolah beberapa hari ini?"

"Bukankah aku yang harus bertanya itu padamu?" Luhan kembali menggeram.
"Jangan membalikkan pertanyaanku Kim Taeyeon!" Suara Luhan kembali meninggi, membuat Taeyeon kembali berjengit. Taeyeon lelah, sungguh ia ingin menangis sekarang. Bukan hanya karena bentakan yang ia dapatkan barusan tapi juga sakit yang disebabkan oleh pemuda disampingnya ini.

"Memangnya apa yang aku balikkan Lu Han? Aku mengatakan yang sebenarnya." Taeyeon membalas tatapan menusuk Luhan, meski dalam hatinya sudah ingin menangis.

"Bukannya kau sendiri yang menjauhiku, tidak membalas pesanku, tidak menggubris semua sapaanku, bahkan hanya mailbox yang menjawab setiap panggilanku." Luhan terdiam ketika suara Taeyeon terdengar lebih bergetar dari sebelumnya, bahkan ia bisa melihat cairan bening disudut mata sipit itu.

"Bukannya kau sendiri yang melupakan aku? Kau hanya sibuk dengan semua urusanmu, dengan segala lomba rumit yang merampas waktumu untukku." Pertahanan Taeyeon runtuh, tatapan tajamnya telah berganti menjadi tatapan yang begitu menyakitkan bagi Luhan. Membuat laki-laki itu menarik Taeyeon dalam pelukannya.

"Dan semua waktumu hanya tersisa untuk dia?" Lanjut Taeyeon ditengah isakkannya. Luhan mengerutkan dahinya tidak mengerti."Dia siapa?"

"Kim Yoojung." Luhan yang mulai mengertipun tersenyum simpul. Dilepaskannya dekapan pada gadis itu.

"Jadi kau cemburu?" Taeyeon membuang muka, melepaskan kontak mata dengan kekasihnya itu. "Tapi kau tahukan jika dia yang menjadi perwakilan sekolah untuk lomba sains denganku?" Taeyeon mengangguk.

"Lalu kenapa kau cemburu?" Taeyeon menepis tangan Luhan yang akan meraih pipi putihnya.

"Siapa yang tidak cemburu jika kekasihmu malah mencium patner lombanya didepan matanya sendiri!" Taeyeon berkata ketus, kesal mengingat kejadian diperpustakaan 3 hari yang lalu, membuatnya ingin membunuh wanita itu saja. Luhan hanya tertawa.

"Jadi kau melihatnya dear? Tapi aku tidak melihatmu saat itu." Taeyeon merasa tertohok oleh ucapan Luhan, jadi Luhan tidak menyangkal atau menjelaskan apapun atas kejadian itu. 

Luhan tersenyum ketika melihat raut murung gadisnya. "Dengarkan aku dulu, dear." Luhan menarik nafasnya pelan.

"Saat itu Yoojung memintaku untuk pura-pura menciumnya untuk membuat Junmyeon cemburu karena laki-laki itu sungguh tidak peka. Lagi pula aku tidak menciumnya, aku hanya mendekatkan wajahku, tidak ada satupun bagian wajahku yang menempel padanya, oke." Taeyeon memukul dada Luhan brutal. Bohong kalau dia berkata tidak lega atas ucapan Luhan barusan.

"Tapi kau tidak pernah menanggapi setiap sapaanku." Luhan menangkap tangan Taeyeon yang gencar memukul dadanya, pemuda itu mencuri ciuman dipipi Taeyeon.

"Karena aku takut tidak bisa fokus pada materiku jika membalas senyummu. Kau taukan aku tidak pernah bisa jauh darimu." Taeyeon menubruk tubuh Luhan membuat pemuda itu hampir terjengkang jika saja sebelah tangannya tidak berpegangan pada sandaran kursi.

"Bodoh, bodoh, bodoh ! Kenapa tidak menjelaskannya." Luhan mengelus punggung gadis cantik itu. "Sudahlah, yang penting aku tetap mencintaimu, Kimmie-ya" Luhan mencium dahi Taeyeon.

"Berhenti memanggilku dengan nama konyol itu rusa!" Dan Luhan hanya tertawa renyah saat kekasih mungilnya itu mengumpat lucu.

Taeyeon menatap anak berusia 5 tahun yang sedang menarik ujung kemejanya, menatap heran bocah tampan itu. " Ada apa adik kecil?"

"Bisakah noona membantuku mencari ibu?" Taeyeon mengangguk pelan seraya tersenyum, mengggandeng anak itu untuk pergi dari kursi putih ditaman itu.

Kembali meninggalkan jejak kenangannya bersama laki-laki asli keturunan Cina yang pernah menguasai seluruh hatinya, mengisi segala kekosongan dalam hidupnya. Membiarkan apa yang dulu pernah terekam disana, terhapus secara perlahan, hilang dengan keadaan yang semakin berjalan maju tidak peduli lagi bagaimana masalalu, karena memang itu telah berlalu. Bukankah begitu, Kim Taeyeon-ssi?



.




Taeyeon melangkahkan kakinya masuk ke apartemen yang selama 4 tahun ini ia tinggali. Memang sejak memasuki masa perkuliahan gadis bertubuh mungil itu lebih memilih tinggal sendiri daripada tinggal dengan kedua orang tua dan adik laki-lakinya yang kini telah memasuki salah satu Universitas terbaik di Korea Selatan. Taeyeon membuka sneaker putihnya dan menggantinya dengan alas kaki rumah berwarna biru polos.

Gadis itu merebahkan tubuhnya disofa berwarna putih gading yang berada diruang tv. Mata sipitnya menangkap hiasan meja berbentuk rusa kecil yang terbuat dari kayu dengan pita merah muda dikedua tanduknya. Perempuan itu tersenyum kecil ketika melihat ukiran indah yang tertulis ditubuh rusa itu. Mengingat kembali si pemberi rusa kecil ditangannya.

'Peri kecilku, Lu Taeyeon'

"Hei kapan margaku berganti?" Tanya Taeyeon seraya mengamati pahatan kecil berbentuk rusa itu. Pemuda disampingnya hanya tersenyum simpul.

"Aku berbicara padamu Lu!" Taeyeon mencubit pinggang Luhan pelan, tapi cukup membuat pemuda itu meringis.

"Diamlah Kimmie-ya, aku lelah. Kau pikir menata apartemen ini dengan barang-barang rumitmu itu memakai tenaga sedikit?" Taeyeon mengerucutkan bibir tipisnya mendengar jawaban Luhan.

"Jadi kau tidak ikhlas membantuku?" Luhan menarik tangan lembut itu sehingga tubuh Taeyeon terjatuh tepat didekapan lelaki berdarah Beijing itu.

"Ikhlas membantu apa? Aku tidak membantu apa-apa, karena yang sedari dari bekerja hanya aku sendiri. Justru kau yang membantuku dengan duduk manis." 

"Tapi kan dirimu yang tidak mengizinkanku mengangkat barang-barang itu." Luhan tersenyum cerah, tangan kanannya mengacak rambut kecoklatan milik gadisnya. "Karena jika kau membantuku, menyelesaikan ini semua akan terasa lebih lama dear. Kau lupa betapa manjanya peri kecilku ini." Taeyeon menoyor kepala Luhan kesal.

"Aku tidak semanja itu!" Mata sipitnya mendelik ke arah Luhan.

"Lalu siapa yang merengek pegal ketika membawa 5 tumpukan buku, padahal baru melewati 3 anak tangga?" Luhan tertawa menang melihat perempuan itu kembali memanyunkan bibir sewarna cerinya. "Tapi buku-buku itu tebal dan berat Lu?" 

"Buku itu sudah yang paling tipis Lu Taeyeon." Luhan memejamkan mata indahnya, dia ingin mengistirahatkan tubuhnya sejenak.

"Jangan mengganti margaku seenaknya rusa kurus." Jika panggilan 'Kimmie' dan 'peri' adalah kata sayang untuk Taeyeon dari Luhan, maka 'rusa kurus' adalah ucapan kesayangan Taeyeon pada Luhan.
"Kau memang akan memiliki marga itu nanti."

Taeyeon kembali menyamankan dirinya dipelukan pemuda tegap itu. "Kita bahkan baru memasuki Universitas Lu." Pemuda bermarga Lu itu hanya diam, lebih memilih menyelami keheningan sementara diantara mereka.

Taeyeon menatap pemuda tampan itu, tanpa berniat mengganggunya. "Hei, Lu." Luhan hanya bergumam sebagai jawaban. "Apa kau akan tetap bersamaku?" Cicit Taeyeon.

Luhan membuka kelopak matanya kecilnya, menatap Taeyeon lama seakan bertanya melalui tatapannya. "Kenapa bertanya seperti itu?"

"Entahlah. Aku hanya merasa takut, kau tahu kan kita tidak satu Universitas, tidak satu lingkungan, bahkan kita belajar dinegara yang berbeda." Taeyeon lebih memilih menatap sendal rumah bergambar kelinci merah muda yang menghiasi kaki putihnya. "Lalu apa masalahnya?" Luhan kembali bertanya, sekarang pemuda itu lebih memilih duduk dengan benar sembari merangkul Taeyeon.

"Aku takut kau tertarik pada perempuan lain di Beijing." Gadis cantik itu berkata lirih.

"Kau meragukan ku?" Taeyeon menggeleng. "Kau percaya padaku?" Taeyeon mengangguk pelan. Luhan mendongkangkan wajah cantik yang selalu terlukis dalam ingatannya.

"Jika kau percaya padaku kau tidak akan merasa takut. Kimmie-ya, aku bersumpah tidak ada satu nama pun selain dirimu dihati ini." Wajah Taeyeon merona ketika mendengar debar jantung Luhan yang seakan berdengung merdu, ketika lelaki Cina itu menarik wajahnya, membuat telinga Taeyeon dapat mendengar jelas detak jantung Luhan karena telinganya yang langsung menempel didada bidang Luhan.

"Aku bahkan selalu percaya padamu Luhan-ah." Taeyeon berkata pelan pada ukiran rusa yang ia pegang. "Tapi kau yang telah tega mengkhianati kepercayaanku, rusa kurus bodoh!" Setetes cairan bening kembali jatuh dari mata sipitnya.

Netra kelam miliknya menatap nanar pada kertas berbentuk segi empat yang tertera dengan tulisan Cina modern yang tidak ia mengerti. Hanya dua tiga kata yang Taeyeon ketahui artinya. Hanya saja kalimat yang ia tahu itu membuat hatinya berdenyut sakit, sungguh, bahkan ketika ia pertama kali menerimanya, airmata terus mengalir begitu saja dari pipi putihnya.

Taeyeon bangkit, tak lupa meraih ukiran rusa kecil dan kertas yang terletak dimeja. Kaki jenjangnya melangkah kearah dapur, lalu dua benda tadi sudah mendarat indah ditempat sampah. Gadis itu benar-benar ingin melupakan segala kenangan yang membuatnya seperti gila. Setiap kenangan tentang pria bermata bagai rusa yang telah mengkhianati cintanya, dan segala kepercayaannya.

Perempuan cantik itu berjalan kearah kamarnya, meninggalkan dapur dan kedua benda yang tidak pernah ingin dia lihat lagi. Sebuah ukiran rusa kecil dengan pita merah muda dan kertas bertulis aksara Cina dengan 3 kata yang memporak porandakan hati gadis mungil itu.

' Menikah, Lu Han & Guan Xiaotong'




.




Jalan berkarpet salju. Itu adalah ungkapan untuk menggambarkan suasana Hwagae saat musim semi tiba, saat bunga-bunga putih yang indah bermekaran. Hwagae yang terletak di Gyeongsangnam-do, Korea Selatan ini adalah salah satu kawasan yang ditumbuhi pohon bunga sakura terbanyak di negeri gingseng ini.Dan Hwagae Cherry Blossoms Festival adalah gelaran paling banyak menyedot perhatian wisatawan.

Yang paling terkenal dari gelaran festival bunga sakura ini adalah The 10ri Blossom Road -“Ri” adalah satuan unit pengukuran tradisional Korea yang setara dengan 4,5 km- Jalan ini disebut juga dengan “marriage road”. Legenda mengatakan jika sepasang kekasih berjalan menyusuri jalan ini sambil berpegangan tangan, mereka akan menikah dan hidup bahagia selamanya. Dan disinilah kedua insan itu, untuk membuktikan legenda daerah itu juga melihat keindahan kelopak sakura putih yang berguguran.

"Kenapa kau jauh-jauh membawaku ke sini hanya untuk melihat gugur bunga sakura Luhan-ah, bukankah disepanjang sungai Han juga ada." Luhan tidak menjawab, lelaki itu hanya mempererat genggaman pada jari-jari lentik gadis mungilnya itu.

"Luhan jawab aku!" Taeyeon melepaskan genggaman Luhan, kesal karena Luhan tidak sedikitpun menggubris pertanyaannya.

Luhan menggeleng pelan, benar-benar gadisnya ini tidak bisa diam barang sedetikpun. Pemuda tirain bambu itu pun kembali meraih tangan Taeyeon. Berjalan pelan melewati ribuan kelopak sakura yang mendarat dijalan yang mereka tapaki. "Kau tidak tahu momen romantis ya?"

Taeyeon melihat kearah Luhan heran. "Apa maksudmu?" Luhan menghentikan langkah mereka, berbalik kearah Taeyeon sehingga kini mereka berdiri berhadapan.

'Tak'

"Aww.. Kenapa malah memukulku?" Taeyeon mengusap dahi yang baru saja mendapat tanda sayang dari kekasihnya. "Kau ini orang Korea asli tapi tidak tahu arti romantis ditempat ini."

"Memangnya apa?"

"Kau tahu kita sedang melewati marriage road, jalan yang jika kita lewati dan bergandeng tangan dengan orang terkasih maka kita akan menikah dan hidup bahagia." Taeyeon terbelalak ketika mendengarnya, dengan otomatis semburat merah menghiasi pipi putihnya ketika menyadari maksud dari penjelasan Luhan.

Luhan tersenyum saat dirasanya Taeyeon telah menyadari arti dari ucapannya. "Sekarang kau tahukan romantisnya disini?" Taeyeon mengangguk sebagai jawaban. Tubuh kecilnya menabrak tubuh kurus Luhan, menenggelamkan pipinya yang masih merona didada Luhan.

"Dan aku berharap legenda itu benar, Kimmie-ya." Luhan berbisik pelan. Setelahnya keduanya hanya terlarut pada keheningan, begitu menikmati momen yang terasa indah dengan hembusan angin yang membawa ribuan kelopak sakura putih yang berjatuhan sebagai backgroundnya.

"Dan ternyata legenda itu sama sekali tidak benar, Luhan-ah." Suara lirih Taeyeon kembali terdengar. Perempuan cantik itu kembali menapaki tempat yang mengukit kenangan lalunya.

Tangan mungilnya ia tengadahkan, telapak tangannya terbuka untuk menampung kelopak sakura yang tertiup angin agar mendarat disana. Kepala bermahkota surai coklatnya ikut mendongkang, menyaksikan guguran sakura yang lebih terlihat seperti butiran-butiran salju.

Bibir sewarna cerinya tersenyum miris. 14 hari lagi, dia benar-benar harus melupakan lelaki itu. Membiarkan Luhan pergi dengan setiap kenangan yang selama ini terus bergelayut dihatinya. Taeyeon tidak mau hadir ke acara sakral pemuda bermata rusa itu dengan berurai airmata, memangnya dia mau mempermalukan dirinya sendiri. Tapi hatinya benar-benar sulit diajak berkompromi, hatinya terlalu dalam berpihak pada mantan kekasihnya itu.

Sejak 3 tahun lalu, sejak Luhan memutuskan untuk mengakhiri ikatan mereka. Hatinya tidak menerimanya, bahkan hatinya semakin menumbuhkan cinta yang semakin besar pada laki-laki Cina itu. Rasa cinta itu masih nyata sampai saat ini, sampai saat pemuda rusa itu mengirimnya sebuah undangan yang menghancurkan hatinya, menghancurkan setiap harapan dalam setiap mimpinya. Entahlah, Taeyeon benar-benar tidak bisa mengekspresikan lagi apa yang ia rasa dalam hatinya.

Taeyeon tersentak ketika sebuah tangan hangat menggenggam tangan mungilnya, lebih hangat dari pemuda rusa itu. "Kau memikirkannya lagi?" Suara berat namun lembut itu menyapa pendengaran Taeyeon.

"M-maaf." Lelaki itu tersenyum maklum, tangan kanannya yang bebas mengelus surai coklat itu. "Kenapa harus meminta maaf? Bukannya aku sudah bilang jika kau memang masih memikirkannya maka pikirkanlah. Aku tidak akan pernah melarangmu, Taenggu-ya." Lelaki bermata bulan sabit itu tersenyum lembut, membuat Taeyeon juga ikut tersenyum.

"Kau terlalu baik, Baekhyun-ah." Taeyeon membalas tatapan lembut pemuda bernama Baekhyun itu, mengucapkan ribuan terima kasih pada lelaki itu karena telah bersedia menemaninya ketika ia terpuruk, menyanggah tubuhnya ketika tangan hangat Luhan melepaskan genggamannya.

"Dari itu kau harus membalas kebaikanku itu." Taeyeon tersenyum miris. "Bagaimana bisa aku membalasnya?"

"Belajarlah mencintaiku, Taenggu-ya." Jawabnya pelan. Taeyeon megusap pipi Baekhyun dan tersenyum. "Tanpa kau minta aku selalu berusaha mencintaimu, Baekoong." Baekhyun tertawa, pemuda itu mencapit hidung Taeyeon gemas.

"Apa-apaan dengan panggilanmu itu huh?" Taeyeon ikut tertawa, lega benar-benar terpancar dari hatinya. Kenyataan bahwa Baekhyun akan selalu setia mendampinginya, dengan senang hati menunggu hatinya sejak Luhan pergi hingga saat ini. Tetap menjaganya meski lelaki itu tahu bahwa bayang-bayang Luhan tetap memeluk gadis itu erat. Baekhyun tidak pernah meninggalkannya sendiri, dia tetap berdiri disini menanti cinta Taeyeon yang terkunci kepada Luhan agar segera terbuka untuknya.

"Kau juga, apa-apaan dengan panggilan Taenggu itu huh?" Taeyeon merajuk, membuat lelaki tampan itu gemas. "Lalu aku harus memanggilmu apa? Mungil? Pendek? Atau Kecil?" Baekhyun mengedipkan sebelah matanya, mencoba menggoda gadis disebelahnya.

"Yak! Itu hinaan bukan panggilan, Byun!" Baekhyun tertawa renyah saat melihat wajah kesal itu. Seolah itu adalah hiburan untuk menguatkan hatinya yang seakan menyerah.

"Mau berjalan dimarriage road, Taeng?"

"Untuk apa?" Taeyeon menjawab ketus, masih sebal sebenarnya ketika tadi laki-laki itu menertawakannya.

"Untuk membuktikan legenda, dimana pasangan yang berjalan disana sambil bergandengan tangan akan menikah dan hidup bahagia." Pemuda itu tersenyum, hingga matanya menyipit membentuk bulan sabit.

"Aku sudah membuktikannya dan itu sama sekali tidak terjadi." Baekhyun menggenggam tangan mungil Taeyeon lagi. "Mau membuktikannya sekali lagi? Aku yakin kali ini tidak akan gagal dan kita akan menikah." Taeyeon memutar bola matanya malas.

"Bahkan kita sudah berstatus suami-istri sejak 6 bulan lalu Byun!" Baekhyun kembali tertawa, dibawanya tubuh Taeyeon kedalam pelukan hangatnya. "Baiklah kalau begitu, legendanya aku ubah saja. Agar pernikahan kita bertahan selamanya, dan kita menjadi pasangan yang saling menyayangi sampai kapanpun, bagaimana?"

"Memangnya sejak kapan kau jadi pengarang cerita?" Baekhyun merangkul bahu sempit Taeyeon dan berjalan pelan. "Saat aku memiliki malaikat cantik sepertimu, Byun Taeyeon." Bisik Baekhyun berhasil membuat Taeyeon bersemu. Tidak Luhan tidak Baekhyun sama saja, sama-sama mempunyai fantasi yang berlebih terhadapnya, peri dan malaikat? Apa-apaan itu? Semua orang juga tahu jika dia itu manusia, bukan peri apalagi malaikat yang ada dalam pikiran kedua pemuda itu.

"Dasar bodoh." Dan umpatan Taeyeon menghadirkan tawa bahagia diwajah Baekhyun.

Keduaanya berjalan menyusuri Marriage Road yang begitu terkenal dengan karpet saljunya itu. Melangkah menuju masa depan mereka, menuju kebahagiaan yang selama ini mereka tunggu. Taeyeon yang ingin lepas dari jerat kenangan tentang laki-laki yang memiliki mata bagai rusa bermana Luhan itu, dan Baekhyun yang menanti hati gadis itu untuk menatapnya, melihat cintanya.

Taeyeon beruntung, benar-benar beruntung. Karena meskipun Baekhyun menginginkannya, dia tidak pernah memaksa. Ketika mereka terikat dalam perjodohan kedua keluarganya, Baekhyun tidak memanfaatkan kesempatan itu untuk menaklukan Taeyeon. Bahkan pemuda itu bertanya dan menyakinkan apa Taeyeon bersedia dijodohkan dengannya. Dan karena meskipun Taeyeon telah resmi menyandang marga Byun didepan namanya, lelaki itu tidak pernah membatasi Taeyeon yang masih mengenang Luhan dalam hati dan ingatannya. Lelaki itu justru selalu menjadi sandarannya ketika ia lelah menangis karena mengingat pemuda Beijing itu.

Dan mungkin saat ini memang saatnya Taeyeon menghentikan penantiannya dan Baekhyun. Menyerah atas Luhan dan mulai menatap Baekhyun. Bukankah memang lebih indah membalas seseorang yang mencintai kita dari pada menanti seseorang yang bahkan enggan untuk menatap kita.

Taeyeon membuktikannya, dia telah membuang setiap kenangan yang selalu mengikat hatinya. Menghapus setiap barang dan tempat yang menjadi saksi atas kebersamaannya dan Luhan. Taeyeon benar-benar akan membuat kenangan baru bersama Baekhyun, pria yang setia bersamanya, yang bersedia menantinya dan suami yang akan membawanya pada kehidupan yang lebih nyata dari sebelumnya.

'Meski awalnya tidak baik-baik saja, ini berjalan lebih baik dari sebelumnya dengan sendirinya. Terima kasih pernah hadir dan membuat kenangan yang indah, walau kini aku harus melepasnya. Luhan-ah, berbahagialah. Dan Baekoong-ah, aku mencintaimu mulai sekarang, Byun Taeyeon.'

-Fin-
************************
Aisy Kim <3

Rabu, 16 Januari 2019

Menunggu Dalam Rindu

Aku menatapmu dengan rindu dalam kalbu
Terlalu segan untuk berterus terang,
Jika ternyata telah lama aku terjerat dalam tatapmu
Mengunci raguku dalam sebuah harap,
Membuncahkan bahagia dalam sesak

Ku tahu itu hanyalah angan yang tidak bisa aku wujudkan
Karena dirimu, memandang ia yang menawan
Lebih dari sejuta mawar..

Menancapkan durinya tepat dimana rasa itu berada
Kecewa perlahan merenggut bahagia,
Mengukit airmata yang telah hilang dalam nyaman

Menuntut sepatah darimu pun aku tidak berhak
Aku tidak mempunyai kewajiban untuk sekedar mempertanyakan penjelasannya
Karena aku sadar,
Aku bukan apa dan siapa dalam benakmu

Aku hanya aku..
Perempuan yang bersembunyi dipunggung malu,
Berteman sepi dan rindu yang selalu beriringan dengan pilu
Menemani setiap langkah dalam pelukan sendu

Aku bersedih melihatmu,
Aku menangis mengingatmu,
Namun aku selalu berdoa semoga kau selalu didampingi kebahagiaanmu

Meski itu tandanya, akan ada resah mengganggu sudut hatiku
Aku hanya mau bisa tetap menatapmu
Walau kau tak mau tahu, meski kau tidak pernah ingin tahu

Aku selalu meunggu dalam rindu..

Selasa, 15 Januari 2019

Missing You

Missing You




"Tolong dengarkanlah jeritan hatiku ini, meskipun hanya sekali saja
Setiap hari dan malam yang kulalui, aku merasa kehilanganmu
Meskipun kau tak disampingku lagi
Meskipun aku tak mampu melihatmu sekarang
Dihatiku kau tidak akan pernah berubah"

.
.
.

Langkah kaki terdengar memecahkan kesunyian diruangan itu, kaki jenjang dengan hiasan high heels cantik itu berhenti dan mendudukan dirinya dikursi yang berada diujung pembatas diatap sekolahnya, dulu. Gadis dengan surai kecoklatan itu menatap sendu langit berawan yang mengungkit kembali rasa sesak disudut hatinya. Haruskah ia melepaskannya sekarang? Apa tak ada kesempatan untuk memperbaiki semuanya? Kenapa semuanya harus terlambat seperti ini?

.

"Maaf aku tak sengaja, biar ku bantu"ucap pemuda bertubuh tegap itu dengan senyuman berdimplenya, memungut buku-buku yang berserakan akibat tak sengaja menabrak gadis dihadapannya.

"tidak perlu merepotkan, aku bisa sendiri" jawab gadis itu

"Karena ini kesalahan ku jadi biarkan aku membantu mu" Nathan bangkit dengan tumpukan buku ditangannya.
"Dan aku tidak menerima penolakan" lanjutnya ketika gadis itu akan bicara

"Baiklah.. Terima kasih sudah mau membantuku emm.."

"Nathan, namaku Nathan Kim"jawab pemuda itu cepat, Lalu keduanya jalan beriringan.

"Emm ya jadi Nathan terima kasih mau membantuku"

"Jangan berterima kasih anggap saja ini untuk menebus kesalahku karena menabrakmu. Dan siapa namamu?"

" Aku, Kim Minha, tapi kau bisa memanggilku Nana"

"Hey, marga kita sama mungkin kita berjodoh haha" canda Nathan

"Ku pikir marga yang sama bukan berarti berjodoh, tapi tidak menutup kemungkinan untuk berteman baik bagaimana?"

"Tentu kita teman Nana"

"Baiklah teman baru, sekarang biar aku saja yang membawanya kedalam. Terima kasih atas bantuanmu, senang berkenalan dengamu"ucap Nana sebelum masuk ke ruang guru.

Sedangkan Nathan tetap dengan senyuman yang sulit diartikan, ' manis' innernya dalam hati.

.

Nana tengah duduk dibawah pohon ditaman belakang sekolahnya, berkutat dengan buku yang berisikan rangkaian lagu yang ia tulis.
Rambut panjangnya yang dibiarkan terurai bergerak mengikuti hembusan angin yang menerpa wajahnya. Headset putih menggantung ditelinganya menambah kesan cantik pada dirinya. Saat tangannya lincah menulis setiap bait lagu dalam benaknya tiba-tiba ada kepalan kertas yang jatuh tepat diatas bukunya. Gadis manis itu membuka kepalan kertas itu dan membaca apa tulisan yang tertera.

Aku terus memikirkanmu
Aku terus merindukanmu
Hari demi hari, satu per satu
Tumbuh di hatiku
Wangimu yang menerbarkan hati
Napasmu menujuku
Aku memejamkan mata erat
Karena aku takut hatiku berdebar


Nana mengangkat sebelah alisnya, siapa yang melemparnya kertas dengan kata-kata seperti ini, dan apa ini benar untuknya? Nana menoleh mencari siapa yang melempar kertas yang ia genggam kini. Dan dia tidak menemukan siapapun kecuali dirinya sebelum akhirnya matanya tertuju pada seseorang yang tengah menatap ke arahnya dengan senyum mengembang diwajahnya, Nathan.

"Hei Nath, kemarilah " Nana melambaikan tangannya kepada Nathan yang mulai berjalan mendekatinya.

"Kau tau siapa yang melempar kertas ini?" Tanya Nana ketika Nathan baru saja duduk disampingnya.

"Entahlah mungkin seseorang yang menyukaimu" jawabnya santai sambil menyandarkan dirinya dibatang pohon dibelakangnya, memejamkan matanya dengan debaran aneh yang menggelitik. Ah, wanita disampingnya ini selalu membuatnya seperti ini.

"Nath, aku serius dan hei kenapa kau malah tidur ? Nath.. Nath" Nana mengguncangkan Nathan yang mulai terlelap.

" Sssttt.. Nana diamlah, memangnya kenapa jika ada yang menyukaimu?"

"Tentu saja aku terganggu, ini seperti ada yang memata-mataiku"

"Nikmati saja yang kau terima kenapa harus terganggu heuh? Dan bagaimana jika aku yang mengirimnya?"

"Aku akan membunuhmu Nath haha" canda Nana horror lalu beranjak menuju kelasnya.

' Ah apa benar seperti itu? Jadi aku tak boleh mencintaimu ya Nona Kim '
bisik Nathan menatap punggung Nana yang semakin pergi menjauh.

'Dan aku sangat berharap kata-kata mu itu benar Nath, karena aku berharap kau mencintaiku ' Nana berbisik dalam hati.

.

Nana menekan tuts piano dengan asal, membuat bunyi tak karuan mengalun dengan nyaring. Ia kesal, kenapa tak dapat menguasai lagu baru itu dengan baik padahal dia sudah sangat berusaha keras apalagi untuk penampilannya kali ini, ia ingin memenangkan kompetisi itu tapi bahkan tinggal beberapa minggu lagi lagu yang akan ia tampilkan tak bisa dimainkannya. Gadis itu menghela nafas sedih, haruskah ia mundur dari kompetisi yang telah lama ia inginkan?
Tiba-tiba seseorang duduk disampingnya dan mulai memainkan piano dihadapannya, nada yang indah mulai mengalun dengan merdu dan sempurna. lagu yg akan Nana bawakan kenapa malah orang ini yang bisa memainkannya dari pada dirinya.

"Hiks.." Satu isakan terdengar dari bibir sewarna cerry Nana. Orang yang duduk disamping Nana berhenti memainkan pianonya.

"Hei, kenapa malah menangis?" Nathan meraih wajah Nana.

"Aku gagal, aku bahkan tak bisa memainkannya dan kau malah membawakannya dengan sempurna"

"Jadi kau menangis hanya karna belum bisa memainkannya?"

"Aku tak bisa Nath, aku ini bodoh"

"Kau belum bisa bukannya tidak bisa, rasakan dengan hati mu maka akan kau dapatkan penampilan yang sempurna" Nathan menuntun jemari Nana untuk menekan tuts pianonya lagi.

'Sesempurna kau mendapatkan hatiku' Nathan dengan senyuman mirisnya.

.

Riuh tepuk tangan menggema diruangan itu seiring dengan selesainya penampilan bermain piano yang memukau dari gadis manis itu. Bahkan Nathan memandang dengan senyum merekah diwajahnya.

"Kau tahu aku mencintaimu, kenapa kau tak pernah mengerti itu?" Ucap Nathan pelan tetap menatap gadis yang mulai turun dari panggung dan berjalan menghampirinya.

"Aku berhasil Nath" Nana menghambur kepelukan Nathan yang hampir terjengkang kebelakang karena pelukan tiba-tibanya.

"Sudah ku bilang kau pasti bisa menampilkannya dengan sangat baik" Nathan mengelus rambut gadis dipelukannya dengan sayang.

"Terima Kasih Nath, kau teman terbaik" Nana semakin memeluk Nathan tanpa tahu hati pria itu terluka dengan kata yang baru terlontar dari mulutnya.

"Y-ya tentu, itulah gunanya teman" balas Nathan sedikit bergetar.

.

Nathan menghela nafas untuk yang kesekian kalinya. Pikirannya makin rumit, perasaan yang menggebu membuat hatinya sakit. Dan kini, sebelum perasaan ini tersampaikan ia harus pergi meninggalkannya. Kenapa waktu seperti mempermainkannya?
Pemuda yang memiliki manik sekelam malam itu menatap sendu sebuah kotak yang digenggamnya kini menatapnya lama dan kemuadia meraih ponselnya, tangannya mulai mengetik sesuatu lalu ia kirim pada nomor yang ia hafal. Besok ia harus bisa mengatakan semuanya, mengatakan apa yang harus dia katakan pada gadis itu. Semoga kali ini takdir berada dipihaknya.

.

Nana melirik jam tangan yang terpasang indah ditangan kirinya, hatinya gelisah kenapa pemuda itu belum datang juga? Ini sudah lebih dari waktu yang dia janjikan dipesan singkatnya. Dan lagi dia tidak melihat temannya itu disekolah hari ini. Ahh, dia sangat merindukan pria berdimple itu. Terdengar derap langkah dari belakang, gadis itu mulai memasang wajah kesalnya.

"Kau kemana saja Nath.. Kau" kaget Nana saat membalikkan badannya ternyata bukan pemuda yang ia tunggu.

"Hey Nana, bagaimana kabarmu?" Tanya lelaki tampan dihadapannya.

"Aku baik sangat baik malah"

"Syukurlah jika kau baik, lama tidak berjumpa"

"Tentu saja, kau kan sudah lulus dari sini. Wajar jika kita jarang bertemu"
Keduanya memilih diam dan larut dalam pemikirannya masing-masing.

"Lalu bagaimana dengan kau dan Sulli?"Ucap Nana memecahkan keheningan diantara mereka.

"Kami sangat baik, bahkan Sulli mungkin sudah bahagia disana bersama-Nya" ucap Vincent -lelaki itu- menatap awan yang bergerak dilangit.

"Apa maksudmu? Dia siapa?"Nana menatap penasaran pada pemuda dihadapannya.

"Tentu saja tuhan"

"Maksud mu dia .."

"Ya, seperti perkiraanmu dia sudah pergi untuk selamanya"Vincent balik menatap Nana.

"Tapi kenapa?"

"Karena kecelakaan yang dia alami bersama ku, tapi bahkan aku masih bisa membuka mata dan bernafas sedangkan dia.. Dia justru pergi meninggalkan ku untuk selamanya. Dan kau tahu itu sangat menyakitkan seakan kehilangan setengah nyawa apalagi aku yang menyebabkannya, bukankah aku jahat Na?" ucap Vincent dengan air mata disudut kedua mata sendunya. Nana memeluk Vincent dan mengusap punggung lelaki yang lama hilang darinya.

"Berhenti menyalahkan dirimu sendiri Vince, ini sudah jalan tuhan lagi pula jika Sulli melihatmu seperti ini dia pasti akan sedih"

"Ini sulit, dia yang paling berarti dihatiku"
Nana merasa nyeri disudut hatinya, meskipun tak mencintainya lagi tetap ada rasa sakit bukan mendengar pengakuan langsung dari seseorang yang pernah menjadi pelabuhan hatimu.

"Meskipun saat ini terasa berat, kau pasti bisa melaluinya"

"Ya kau benar, terima kasih" Vincent mempererat pelukanya.
Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang menyiratkan kesakitan saat melihat adegan dihadapannya, pemuda itu memegang dadanya yang terasa sesak.

"Mungkin semua ini terlambat, seharusnya memang rasa ini tak pernah ada" ucapnya sebelum berbalik dan melangkah pergi, membiarkan kotak yang ia bawa tergeletak begitu saja diatas rumput hijau yang ia pijak.

.

Gadis dengan seragam sekolah menengah atas itu berlari cepat diairport, melewati orang-orang yang menatapnya aneh. Bahkan tak jarang orang yang marah karena tak sengaja ditabraknya.

'Nathan pergi ke New York dan akan menetap disana untuk waktu yang belum ditentukan, ayahnya yang memintanya karena beliau tengah sakit. Tapi, Nathan tidak memberikan alamatnya disana'

Ucapan dari orang yang mengurus apartemen pemuda itu terus terngiang ditelinganya. Pandanganya terus diedarkan untuk mencari objek yang ia cari, berharap semuanya belum terlambat, dan berharap masih ada waktu untuk mengatakan semuanya.

Namun semua harapannya sirna setelah ada pengumuman bahwa pesawat yang membawa Nathan menuju New York telah lepas landas 15 menit yang lalu. Nana merasa kakinya lemas, ada rasa sakit yang lebih nyata daripada saat bersama Vincent tadi siang, ini tentang harapan barunya yang sudah hilang bahkan sebelum dia memulainya.


Nana menatap kotak yang ia temukan ditaman belakang sekolah tadi, membaca kembali kertas bertuliskan ungkapan cinta yang Nathan tulis dan ditempelkan diatas kotak, lalu membuka kotak itu. Terlihat kalung berbandul hati dengan hiasan ukiran indah namanya dan Nathan ditengahnya. Air matanya kembali menetes, kenapa tadi dia harus memeluk Vincent? Kenapa tadi dia tidak menyadari Nathan melihatnya dan Vincent? Kenapa Nathan tidak mengatakan perasaanya dari dulu? Kenapa dia harus dibuat menunggu lalu ditinggalkan begitu saja? Kenapa takdir terus mempermainkannya? Kenapa dirinya harus merasakan sakitnya ditinggalkan lagi?
Nana terus menangis dikursi tunggu airport tanpa mempedulikan pandangan bertanya dari setiap orang yang berada disana.

.

Nana membuka matanya yang terpejam, air matanya masih setia mengalir dipipi mulusnya. Dan untuk kesekian kalinya takdir tak berada dipihaknya, sakit itu kembali bahkan lebih menyakitkan dari sebelumnya. Penantiannya selama ini, menunggu disekolah ini sebagai siswa bahkan setelah dia menyelesaikan perguruan tingginya dia kembali ke sekolah ini, menjadi guru muda dan menunggu yang ia harapkan kembali di sekolah ini ternyata sia-sia. Bukan pemuda itu yang datang, tapi kenyataan pahit ini yang datang. Undangan pernikahan Nathan, pemuda yang telah lama ia tunggu yang menghancurkan hatinya, yang telah memporak porandakan keyakinannya. Tangan kanannya memegang kalung indah yang terpasang dilehernya.

"Kenapa kau setega ini Nath?"Gumamnya

"KENAPA KAU SETEGA INI? AKU MENUNGGU MU PENGECUT ! AKU MENUNGGU DIRIMU BUKAN UNDANGAN BODOH INI ! Hiks.." Ucap Nana dengan emosi yang meluap begitu saja, dengan rasa sakit yang tak bisa lagi dia sembunyikan.

"Jika seperti ini akhirnya kenapa kau harus membuatku mencintaimu Nath KENAPA?!!" Lanjutnya dengan suara yang sendu.

Cukup 6 tahun yang lalu dia menahannya, cukup 6 tahun yang lalu dia menunggu dengan sabar, cukup 6 tahun yang lalu dia yakin Nathan akan kembali. Nyatanya pemuda itu tak lagi mengingatnya bahkan dia memilih gadis lain daripada dirinya. Kini, dia menyerah atas kenyataan yang telah menamparnya dengan keras, bahwa perasaan ini harus dia lupakan dari awal.

Dengan sekali tarikan kalung itu terlepas dari lehernya, menatapnya dengan rasa sakit yang kentara seolah itu adalah pemuda yang telah menyiratkan luka pada hatinya. Nana mencium bandul itu lama kemudian meleparkanya jauh entah akan jatuh kemana yang penting gadis itu tidak menemukannya lagi. Ia ingin benar-benar beranjak dari keterpurukannya, mungkin melupakan Nathan dan semua kenangannya akan lebih baik. Melupakan semua penantian yang tak terbalaskan, meninggalkan apa yang memang harus dia tinggalkan, termasuk sekolah ini. Mungkin mengajar disekolah lain akan lebih cepat membuatnya melupakan semua sakit disini, ya ini keputusan yang tepat untuk memulai lembaran barunya tanpa bayang-bayang Nathan dan seluruh kenangan tentang pemuda bermanik segelap malam itu.
Ini keputusannya, Nana berjanji akan lebih baik dari saat ini dan 6 tahun lalu. Hatinya sudah mantap untuk melangkah dari masalalunya dan dia yakin akan menemukan yang benar-benar untuknya suatu hari nanti.

'Tapi Nath meski pun aku melupakan semuanya kau akan tetap sama dihatiku sampai kapan pun~ ya kau Nathan Kim, Aku mencintaimu'


Bisik gadis itu pada angin yang mulai berhembus mengiringinya meninggalkan tempat itu dan melangkah kedunia barunya.

.

-the end-

Bunga kaktus



.
.
.

Aku berjalan perlahan memasuki gerbang sekolah yang masih terlihat sepi, menyusuri lorong-lorong yang akan menuntunku ke arah kelas. Hawa sejuk dari embun pagi masih terasa dari setiap tanaman yang aku lewati yang tergantung dipot-pot kecil. Bahkan para kupu-kupu dengan beragam warna menghampiri mereka seakan sedang merayu bunga-bunga yang mulai mekar itu. Bukankah itu terlihat sangat manis?

Aku melanjutkan langkahku yang tadi sempat terhenti, senyum ku tidak bisa aku hentikan. Rasanya melihat kupu-kupu dan bunga tadi membuatku iri. Cinta terlihat indah untuk mereka, karena masing-masing mempunyai daya tariknya sendiri. Saling mengerti jika mereka akan lebih dicintai jika bersama. Jika diibaratkan bunga sebagai lambang kesetiaan, menunggu hingga yang ia tunggu datang menemukan dan menghampirinya. Sedangkan kupu-kupu menggambarkan perjuangan, tidak menyerah sampai ia bisa menemukan dan mendapatkan kecantikan yang selama ini dicarinya. Ahh, cinta memang indah.

"Adiva !"

Suara berat itu sontak membuatku menghentikan langkah tepat didepan pintu kelas yang aku tuju. Jantungku terasa berdetak lebih cepat dari biasanya saat aku dengar langkah kaki orang itu mulai mendekat.

Aku mendekap erat buku yang sejak tadi ada ditanganku. Bisa aku rasakan tangan ku mulai mendingin, gugup seakan mengalir ke seluruh tubuhku.
" Adiva " panggilnya lagi dengan tangan menepuk pundak ku pelan. Aku menoleh untuk menunjukkan senyuman terbaik ku padanya.

Dia balas tersenyum ramah, mata bulatnya agak menyipit membuat kesan tampan bertambah pada wajahnya. Ditambah bibir berbentuk hati yang menampilkan barisan putih yang berjejer rapih didalamnya.
"Hei, kaktus kecil kemana saja kau ini menghilang tiba-tiba heuh?"

Aku terkekeh kecil mendengar panggilan itu, ya panggilan yang hanya dia yang menggunakannya.
"Kau merindukan ku ya?" Aku mengedipkan mata ku manja, menimpali candaan yang ia lontarkan sebelumnya.
Pemuda itu hanya tertawa kecil, mengacak pucuk kepalaku dengan tangan lembutnya.

"Percaya diri sekali ! Lagi pula aku rindu pada Dodo yang cantik bukan kau" Aku memanyunkan bibirku, membuat tawanya perlahan mengeras karena raut wajahku.

"Hei hei, aku hanya bercanda. Ya walaupun memang Dodo lebih cantik darimu.. Aww" ia meringis ketika aku mencubit pinggangnya.

"Dodo itu hanya boneka, Rey!" Aku memutar mataku malas.

"Ya boneka kaktus yang cantik, dan sangat mirip seperti mu" Aku menundukkan wajahku yang terasa panas. Sedikit kata manis dari pemuda dihadapan ku sudah membuat sesuatu yang ada dihatiku membuncah.

Pemuda tampan itu kembali tersenyum lembut, membuat ada desiran aneh dalam darahku. Pemuda yang telah lama menempati kedudukan tertinggi dihatiku. Pemuda yang telah menghadirkan sebuah rasa bernama cinta. Dengan pandangan tajam melalui matanya yang terkadang lembut. Rambut hitam kecoklatan yang alami, hidung mancung dan bibir berbentuk hati ketika menampilkan lengkungan senyumannya. Dia pemuda yang aku cintai. Dekat denganku tapi tak bisa aku-

"Rey!"

-Gapai.

"Karin"

Rey menghampiri gadis berambut pirang itu, memeluknya hangat dan memberi ciuman ringan didahinya. Seolah menjelaskan betapa ia menyayangi gadis dalam pelukannya itu.

Dan aku merasa nyeri yang secara perlahan menyebar dihatiku, membuat dadaku merasa sesak. Mataku terasa perih menyaksikan adegan cinta yang mereka tontonkan.

"Adiva, kenapa tidak memberitahu ku kau sudah pulang dari Bandung?" Karin menghambur merentangkan tangannya pada ku.

"Aku bosan jika harus mendengar rentetan pertanyaan dari mu, tahu!" Karin menatap ku tajam.

"Apa? Bukankah kau memang sangat berisik?" Aku menjulurkan lidahku, meledek Karin.

"Kau ini, dasar !! Sepupu kurang ajar" Wajah putihnya memerah menahan kesal, tangannya melayang dan akan mendarat didahiku jika saja tangan Rey tidak menahannya.

"Hei, sudahlah Karin yang penting Adiva tidak apa-apa kan?" Rey membuka kepalan tangan Karin, lalu menggenggamnya erat.

"Ya dia memang tidak apa-apa, tapi haruskah dia pergi tannpa kabar sedikitpun? Aku kan ingin bercerita banyak hal padanya" Rey tertawa kecil melihat Karin menggerutu tanpa henti, terkadang tangannya akan membenarkan poni pirang gadis disampingnya itu. Dan itu akan membuat sesak didadaku bertambah setiap detiknya. Bahkan aku mati-matian menahan embun yang siap meluncur dari kedua mataku.

"emm.. Sebenarnya Karin aku sudah tahu"

"Tahu tentang apa kau? Kau kan menghilang seperti ditelan bumi selama 2 minggu ini." Karin menyilangkan tangannya didepan dada.

"Haruskah aku umumkan bahwa Reynaldi dan Karin sudah resmi menjadi pasangan romantis yang selama ini diidam-idamkan oleh para penggemar kurang kerjaan mereka?" Aku menekankan suara ku agar terdengar ketus. Menutupi suara bergetar akibat menahan tangisku.

"Apa ? Kau kaget aku tahu darimana? Tanya saja si manusia es itu" Aku menunjuk Rey dengan dagu ku, angkuh.

"Rey!"

"Aku memberitahunya seminggu yang lalu" Rey berkata datar, entah menyadari atau tidak dibelakang Karin tiba-tiba merasa mencekam dengan tatapan membunuh yang terarah kepadanya.

"Kenapa kau harus memberitahu dia dulu Rey? Aku kan ingin membuat dia terkejut"

"Aku tidak akan terkejut dengan drama membosankan yang selalu kalian sajikan selama ini, Karin"

"Tapi..."

"Sudahlah, ayo Karin kelas akan mulai 7 menit lagi." Rey menarik tangan Karin yang sejak tadi digenggamnya. Gadis pirang itu masih terus berceloteh tidak terima. Pemuda bebadan tinggi itu menghentikan langkahnya, membisikan sesuatu pada gadis yang berstatus sebagai kekasihnya itu. Tak lama ia kembali berbalik kearahku dan melangkah dengan tergesa.

Mataku membola ketika Rey memelukku tiba-tiba. Pelukan hangatnya ini membuat ku ingin menangis, menumpahkan apa yang selama ini tidak pernah bisa aku jelaskan padanya dengan rangkaian kata. Kemudian pemuda bersurai hitam kecoklatan itu mencium keningku lembut. Hal yang hanya bisa aku temui dimimpi ku setiap malam. Sesuatu yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya.

"Rey.."

"Aku menyayangi mu" Aku tersentak mendengar ucapan yang lebih terdengar sebagai bisikan.

"Rey.."

"Sebagai adik ku"

Kata selanjutnya mampu membuatku membeku, air mata seakan berlomba ingin keluar dari kelopak mataku.

"Jadi jika kau ada masalah jangan ragu untuk bercerita, okay. Jangan menutup diri seperti 2 minggu kemarin, kaktus kecil" Rey mengacak rambutku dengan senyum ceria andalannya, mau tak mau aku ikut tersenyum. Senyum miris lebih tepatnya.

Lalu dia kembali mengandeng Karin, merangkul pundak sempit itu hangat. Saling tertawa dalam kebahagiaannya, berpandangan dengan penuh cinta. Posisi yang membuat aku cemburu. Hingga tanpa aku sadari setetes cairan bening mengalir dikedua pipiku. Seiring dengan memuncaknya sesak dalam dadaku.

Perasaan ini, sakit ini, yang telah 2 minggu ini aku coba hilangkan ternyata tidak bisa musnah begitu saja. Melihat senyumnya, tawa riangnya saja kembali membuat goresan luka itu kembali melebar.

Seharusnya memang perasaan ini tidak pernah hadir. Karena nyatanya tidak akan ada balasan sedikit pun, tidak akan ada celah sekecil apapun untuk ku. Aku hanya akan menjadi pecinta rahasia dibelakangnya. Menunjukkannya melewati angin yang berhembus membawa sejuk, mengungkapkan rindu melalui hamparan bintang dilangit malam, dan melampiaskan airmata dibawah guyuran hujan. Menyamarkan airmata yang telah lama menemani kisah yang tidak akan pernah terjadi ini.

Ya, aku hanya akan menatapnya dari belakang. Menjadi cinta dalam rahasia. Karena kedudukan yang tidak akan pernah bisa aku tandingi, posisi seorang pasangan-Karin- yang tidak akan pernah terlepas darinya. Tapi aku tidak pernah membenci semua yang ada pada dirinya karena aku telah jatuh terlalu dalam pada pesonanya. Aku tidak apa-apa, sungguh ! Asal dia bahagia, aku akan berusaha bahagia. Aku rela atas apa yang telah Tuhan gariskan, karena aku percaya akan ada pengobat disetiap luka dan akan ada pengganti disaat yang lain telah pergi. Meski terasa menyakitkan, namun aku yakin akan ada keindahan dibaliknya.

Sama seperti Kaktus kecil yang sering ia sebut. Meski berduri, ada bunga kecil yang menjadikan ia cantik tapi juga istimewa. Meski tidak seharum melati atau seindah mawar, Kaktus menjadi pelindung karena manfaatnya. Lambang dari Keikhlasan dan ketabahan, Meskipun keberadaannya tidak dihiraukan tapi dia tetap bertahan hingga akhirnya ia menjadi sesuatu yang sangat dicari oleh kupu-kupu terindah sekalipun.

Aku kembali mendekap buku yang sedari tadi tidak lepas dari genggaman ku. Mengusap perlahan permukaan belakang yang sebenarnya album foto itu. Buku yang menjadi saksi antara Kaktus kecil dan sang Kupu-kupu terindah. Potret lalu yang tidak akan pernah terjadi untuk kedua kalinya.

.
.
.

"Beranjaklah dari masalalu, karena akupun begitu. Kita berpisah bukan karena rasa yang pudar tapi memang bukan jalannya kita untuk bersama. Persamaan memang melekat pada kita, tapi jauh didalamnya perbedaan lebih menguasai kita satu sama lain. Dan aku pikir perpisahan memang menjadi pilihan yang tepat. Meski aku sampai detik ini masih menempatkan mu diseluruh ruang dihatiku."

-Reynaldi


*****************

Spasi diantara waktu

Menikmati musim gugur dipulau Nami, menyaksikan ribuan daun-daun kemerahan gugur dari tangkainya, dan bersenda gurau diatas kain yang terge...