Missing You
"Tolong dengarkanlah jeritan hatiku ini, meskipun hanya sekali saja
Setiap hari dan malam yang kulalui, aku merasa kehilanganmu
Meskipun kau tak disampingku lagi
Meskipun aku tak mampu melihatmu sekarang
Dihatiku kau tidak akan pernah berubah"
.
.
.
Langkah kaki terdengar memecahkan kesunyian diruangan itu, kaki jenjang dengan hiasan high heels cantik itu berhenti dan mendudukan dirinya dikursi yang berada diujung pembatas diatap sekolahnya, dulu. Gadis dengan surai kecoklatan itu menatap sendu langit berawan yang mengungkit kembali rasa sesak disudut hatinya. Haruskah ia melepaskannya sekarang? Apa tak ada kesempatan untuk memperbaiki semuanya? Kenapa semuanya harus terlambat seperti ini?
.
"Maaf aku tak sengaja, biar ku bantu"ucap pemuda bertubuh tegap itu dengan senyuman berdimplenya, memungut buku-buku yang berserakan akibat tak sengaja menabrak gadis dihadapannya.
"tidak perlu merepotkan, aku bisa sendiri" jawab gadis itu
"Karena ini kesalahan ku jadi biarkan aku membantu mu" Nathan bangkit dengan tumpukan buku ditangannya.
"Dan aku tidak menerima penolakan" lanjutnya ketika gadis itu akan bicara
"Baiklah.. Terima kasih sudah mau membantuku emm.."
"Nathan, namaku Nathan Kim"jawab pemuda itu cepat, Lalu keduanya jalan beriringan.
"Emm ya jadi Nathan terima kasih mau membantuku"
"Jangan berterima kasih anggap saja ini untuk menebus kesalahku karena menabrakmu. Dan siapa namamu?"
" Aku, Kim Minha, tapi kau bisa memanggilku Nana"
"Hey, marga kita sama mungkin kita berjodoh haha" canda Nathan
"Ku pikir marga yang sama bukan berarti berjodoh, tapi tidak menutup kemungkinan untuk berteman baik bagaimana?"
"Tentu kita teman Nana"
"Baiklah teman baru, sekarang biar aku saja yang membawanya kedalam. Terima kasih atas bantuanmu, senang berkenalan dengamu"ucap Nana sebelum masuk ke ruang guru.
Sedangkan Nathan tetap dengan senyuman yang sulit diartikan, ' manis' innernya dalam hati.
.
Nana tengah duduk dibawah pohon ditaman belakang sekolahnya, berkutat dengan buku yang berisikan rangkaian lagu yang ia tulis.
Rambut panjangnya yang dibiarkan terurai bergerak mengikuti hembusan angin yang menerpa wajahnya. Headset putih menggantung ditelinganya menambah kesan cantik pada dirinya. Saat tangannya lincah menulis setiap bait lagu dalam benaknya tiba-tiba ada kepalan kertas yang jatuh tepat diatas bukunya. Gadis manis itu membuka kepalan kertas itu dan membaca apa tulisan yang tertera.
Aku terus memikirkanmu
Aku terus merindukanmu
Hari demi hari, satu per satu
Tumbuh di hatiku
Wangimu yang menerbarkan hati
Napasmu menujuku
Aku memejamkan mata erat
Karena aku takut hatiku berdebar
Nana mengangkat sebelah alisnya, siapa yang melemparnya kertas dengan kata-kata seperti ini, dan apa ini benar untuknya? Nana menoleh mencari siapa yang melempar kertas yang ia genggam kini. Dan dia tidak menemukan siapapun kecuali dirinya sebelum akhirnya matanya tertuju pada seseorang yang tengah menatap ke arahnya dengan senyum mengembang diwajahnya, Nathan.
"Hei Nath, kemarilah " Nana melambaikan tangannya kepada Nathan yang mulai berjalan mendekatinya.
"Kau tau siapa yang melempar kertas ini?" Tanya Nana ketika Nathan baru saja duduk disampingnya.
"Entahlah mungkin seseorang yang menyukaimu" jawabnya santai sambil menyandarkan dirinya dibatang pohon dibelakangnya, memejamkan matanya dengan debaran aneh yang menggelitik. Ah, wanita disampingnya ini selalu membuatnya seperti ini.
"Nath, aku serius dan hei kenapa kau malah tidur ? Nath.. Nath" Nana mengguncangkan Nathan yang mulai terlelap.
" Sssttt.. Nana diamlah, memangnya kenapa jika ada yang menyukaimu?"
"Tentu saja aku terganggu, ini seperti ada yang memata-mataiku"
"Nikmati saja yang kau terima kenapa harus terganggu heuh? Dan bagaimana jika aku yang mengirimnya?"
"Aku akan membunuhmu Nath haha" canda Nana horror lalu beranjak menuju kelasnya.
' Ah apa benar seperti itu? Jadi aku tak boleh mencintaimu ya Nona Kim ' bisik Nathan menatap punggung Nana yang semakin pergi menjauh.
'Dan aku sangat berharap kata-kata mu itu benar Nath, karena aku berharap kau mencintaiku ' Nana berbisik dalam hati.
.
Nana menekan tuts piano dengan asal, membuat bunyi tak karuan mengalun dengan nyaring. Ia kesal, kenapa tak dapat menguasai lagu baru itu dengan baik padahal dia sudah sangat berusaha keras apalagi untuk penampilannya kali ini, ia ingin memenangkan kompetisi itu tapi bahkan tinggal beberapa minggu lagi lagu yang akan ia tampilkan tak bisa dimainkannya. Gadis itu menghela nafas sedih, haruskah ia mundur dari kompetisi yang telah lama ia inginkan?
Tiba-tiba seseorang duduk disampingnya dan mulai memainkan piano dihadapannya, nada yang indah mulai mengalun dengan merdu dan sempurna. lagu yg akan Nana bawakan kenapa malah orang ini yang bisa memainkannya dari pada dirinya.
"Hiks.." Satu isakan terdengar dari bibir sewarna cerry Nana. Orang yang duduk disamping Nana berhenti memainkan pianonya.
"Hei, kenapa malah menangis?" Nathan meraih wajah Nana.
"Aku gagal, aku bahkan tak bisa memainkannya dan kau malah membawakannya dengan sempurna"
"Jadi kau menangis hanya karna belum bisa memainkannya?"
"Aku tak bisa Nath, aku ini bodoh"
"Kau belum bisa bukannya tidak bisa, rasakan dengan hati mu maka akan kau dapatkan penampilan yang sempurna" Nathan menuntun jemari Nana untuk menekan tuts pianonya lagi.
'Sesempurna kau mendapatkan hatiku' Nathan dengan senyuman mirisnya.
.
Riuh tepuk tangan menggema diruangan itu seiring dengan selesainya penampilan bermain piano yang memukau dari gadis manis itu. Bahkan Nathan memandang dengan senyum merekah diwajahnya.
"Kau tahu aku mencintaimu, kenapa kau tak pernah mengerti itu?" Ucap Nathan pelan tetap menatap gadis yang mulai turun dari panggung dan berjalan menghampirinya.
"Aku berhasil Nath" Nana menghambur kepelukan Nathan yang hampir terjengkang kebelakang karena pelukan tiba-tibanya.
"Sudah ku bilang kau pasti bisa menampilkannya dengan sangat baik" Nathan mengelus rambut gadis dipelukannya dengan sayang.
"Terima Kasih Nath, kau teman terbaik" Nana semakin memeluk Nathan tanpa tahu hati pria itu terluka dengan kata yang baru terlontar dari mulutnya.
"Y-ya tentu, itulah gunanya teman" balas Nathan sedikit bergetar.
.
Nathan menghela nafas untuk yang kesekian kalinya. Pikirannya makin rumit, perasaan yang menggebu membuat hatinya sakit. Dan kini, sebelum perasaan ini tersampaikan ia harus pergi meninggalkannya. Kenapa waktu seperti mempermainkannya?
Pemuda yang memiliki manik sekelam malam itu menatap sendu sebuah kotak yang digenggamnya kini menatapnya lama dan kemuadia meraih ponselnya, tangannya mulai mengetik sesuatu lalu ia kirim pada nomor yang ia hafal. Besok ia harus bisa mengatakan semuanya, mengatakan apa yang harus dia katakan pada gadis itu. Semoga kali ini takdir berada dipihaknya.
.
Nana melirik jam tangan yang terpasang indah ditangan kirinya, hatinya gelisah kenapa pemuda itu belum datang juga? Ini sudah lebih dari waktu yang dia janjikan dipesan singkatnya. Dan lagi dia tidak melihat temannya itu disekolah hari ini. Ahh, dia sangat merindukan pria berdimple itu. Terdengar derap langkah dari belakang, gadis itu mulai memasang wajah kesalnya.
"Kau kemana saja Nath.. Kau" kaget Nana saat membalikkan badannya ternyata bukan pemuda yang ia tunggu.
"Hey Nana, bagaimana kabarmu?" Tanya lelaki tampan dihadapannya.
"Aku baik sangat baik malah"
"Syukurlah jika kau baik, lama tidak berjumpa"
"Tentu saja, kau kan sudah lulus dari sini. Wajar jika kita jarang bertemu"
Keduanya memilih diam dan larut dalam pemikirannya masing-masing.
"Lalu bagaimana dengan kau dan Sulli?"Ucap Nana memecahkan keheningan diantara mereka.
"Kami sangat baik, bahkan Sulli mungkin sudah bahagia disana bersama-Nya" ucap Vincent -lelaki itu- menatap awan yang bergerak dilangit.
"Apa maksudmu? Dia siapa?"Nana menatap penasaran pada pemuda dihadapannya.
"Tentu saja tuhan"
"Maksud mu dia .."
"Ya, seperti perkiraanmu dia sudah pergi untuk selamanya"Vincent balik menatap Nana.
"Tapi kenapa?"
"Karena kecelakaan yang dia alami bersama ku, tapi bahkan aku masih bisa membuka mata dan bernafas sedangkan dia.. Dia justru pergi meninggalkan ku untuk selamanya. Dan kau tahu itu sangat menyakitkan seakan kehilangan setengah nyawa apalagi aku yang menyebabkannya, bukankah aku jahat Na?" ucap Vincent dengan air mata disudut kedua mata sendunya. Nana memeluk Vincent dan mengusap punggung lelaki yang lama hilang darinya.
"Berhenti menyalahkan dirimu sendiri Vince, ini sudah jalan tuhan lagi pula jika Sulli melihatmu seperti ini dia pasti akan sedih"
"Ini sulit, dia yang paling berarti dihatiku"
Nana merasa nyeri disudut hatinya, meskipun tak mencintainya lagi tetap ada rasa sakit bukan mendengar pengakuan langsung dari seseorang yang pernah menjadi pelabuhan hatimu.
"Meskipun saat ini terasa berat, kau pasti bisa melaluinya"
"Ya kau benar, terima kasih" Vincent mempererat pelukanya.
Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang menyiratkan kesakitan saat melihat adegan dihadapannya, pemuda itu memegang dadanya yang terasa sesak.
"Mungkin semua ini terlambat, seharusnya memang rasa ini tak pernah ada" ucapnya sebelum berbalik dan melangkah pergi, membiarkan kotak yang ia bawa tergeletak begitu saja diatas rumput hijau yang ia pijak.
.
Gadis dengan seragam sekolah menengah atas itu berlari cepat diairport, melewati orang-orang yang menatapnya aneh. Bahkan tak jarang orang yang marah karena tak sengaja ditabraknya.
'Nathan pergi ke New York dan akan menetap disana untuk waktu yang belum ditentukan, ayahnya yang memintanya karena beliau tengah sakit. Tapi, Nathan tidak memberikan alamatnya disana'
Ucapan dari orang yang mengurus apartemen pemuda itu terus terngiang ditelinganya. Pandanganya terus diedarkan untuk mencari objek yang ia cari, berharap semuanya belum terlambat, dan berharap masih ada waktu untuk mengatakan semuanya.
Namun semua harapannya sirna setelah ada pengumuman bahwa pesawat yang membawa Nathan menuju New York telah lepas landas 15 menit yang lalu. Nana merasa kakinya lemas, ada rasa sakit yang lebih nyata daripada saat bersama Vincent tadi siang, ini tentang harapan barunya yang sudah hilang bahkan sebelum dia memulainya.
Nana menatap kotak yang ia temukan ditaman belakang sekolah tadi, membaca kembali kertas bertuliskan ungkapan cinta yang Nathan tulis dan ditempelkan diatas kotak, lalu membuka kotak itu. Terlihat kalung berbandul hati dengan hiasan ukiran indah namanya dan Nathan ditengahnya. Air matanya kembali menetes, kenapa tadi dia harus memeluk Vincent? Kenapa tadi dia tidak menyadari Nathan melihatnya dan Vincent? Kenapa Nathan tidak mengatakan perasaanya dari dulu? Kenapa dia harus dibuat menunggu lalu ditinggalkan begitu saja? Kenapa takdir terus mempermainkannya? Kenapa dirinya harus merasakan sakitnya ditinggalkan lagi?
Nana terus menangis dikursi tunggu airport tanpa mempedulikan pandangan bertanya dari setiap orang yang berada disana.
.
Nana membuka matanya yang terpejam, air matanya masih setia mengalir dipipi mulusnya. Dan untuk kesekian kalinya takdir tak berada dipihaknya, sakit itu kembali bahkan lebih menyakitkan dari sebelumnya. Penantiannya selama ini, menunggu disekolah ini sebagai siswa bahkan setelah dia menyelesaikan perguruan tingginya dia kembali ke sekolah ini, menjadi guru muda dan menunggu yang ia harapkan kembali di sekolah ini ternyata sia-sia. Bukan pemuda itu yang datang, tapi kenyataan pahit ini yang datang. Undangan pernikahan Nathan, pemuda yang telah lama ia tunggu yang menghancurkan hatinya, yang telah memporak porandakan keyakinannya. Tangan kanannya memegang kalung indah yang terpasang dilehernya.
"Kenapa kau setega ini Nath?"Gumamnya
"KENAPA KAU SETEGA INI? AKU MENUNGGU MU PENGECUT ! AKU MENUNGGU DIRIMU BUKAN UNDANGAN BODOH INI ! Hiks.." Ucap Nana dengan emosi yang meluap begitu saja, dengan rasa sakit yang tak bisa lagi dia sembunyikan.
"Jika seperti ini akhirnya kenapa kau harus membuatku mencintaimu Nath KENAPA?!!" Lanjutnya dengan suara yang sendu.
Cukup 6 tahun yang lalu dia menahannya, cukup 6 tahun yang lalu dia menunggu dengan sabar, cukup 6 tahun yang lalu dia yakin Nathan akan kembali. Nyatanya pemuda itu tak lagi mengingatnya bahkan dia memilih gadis lain daripada dirinya. Kini, dia menyerah atas kenyataan yang telah menamparnya dengan keras, bahwa perasaan ini harus dia lupakan dari awal.
Dengan sekali tarikan kalung itu terlepas dari lehernya, menatapnya dengan rasa sakit yang kentara seolah itu adalah pemuda yang telah menyiratkan luka pada hatinya. Nana mencium bandul itu lama kemudian meleparkanya jauh entah akan jatuh kemana yang penting gadis itu tidak menemukannya lagi. Ia ingin benar-benar beranjak dari keterpurukannya, mungkin melupakan Nathan dan semua kenangannya akan lebih baik. Melupakan semua penantian yang tak terbalaskan, meninggalkan apa yang memang harus dia tinggalkan, termasuk sekolah ini. Mungkin mengajar disekolah lain akan lebih cepat membuatnya melupakan semua sakit disini, ya ini keputusan yang tepat untuk memulai lembaran barunya tanpa bayang-bayang Nathan dan seluruh kenangan tentang pemuda bermanik segelap malam itu.
Ini keputusannya, Nana berjanji akan lebih baik dari saat ini dan 6 tahun lalu. Hatinya sudah mantap untuk melangkah dari masalalunya dan dia yakin akan menemukan yang benar-benar untuknya suatu hari nanti.
'Tapi Nath meski pun aku melupakan semuanya kau akan tetap sama dihatiku sampai kapan pun~ ya kau Nathan Kim, Aku mencintaimu'
Bisik gadis itu pada angin yang mulai berhembus mengiringinya meninggalkan tempat itu dan melangkah kedunia barunya.
.
-the end-
"Tolong dengarkanlah jeritan hatiku ini, meskipun hanya sekali saja
Setiap hari dan malam yang kulalui, aku merasa kehilanganmu
Meskipun kau tak disampingku lagi
Meskipun aku tak mampu melihatmu sekarang
Dihatiku kau tidak akan pernah berubah"
.
.
.
Langkah kaki terdengar memecahkan kesunyian diruangan itu, kaki jenjang dengan hiasan high heels cantik itu berhenti dan mendudukan dirinya dikursi yang berada diujung pembatas diatap sekolahnya, dulu. Gadis dengan surai kecoklatan itu menatap sendu langit berawan yang mengungkit kembali rasa sesak disudut hatinya. Haruskah ia melepaskannya sekarang? Apa tak ada kesempatan untuk memperbaiki semuanya? Kenapa semuanya harus terlambat seperti ini?
.
"Maaf aku tak sengaja, biar ku bantu"ucap pemuda bertubuh tegap itu dengan senyuman berdimplenya, memungut buku-buku yang berserakan akibat tak sengaja menabrak gadis dihadapannya.
"tidak perlu merepotkan, aku bisa sendiri" jawab gadis itu
"Karena ini kesalahan ku jadi biarkan aku membantu mu" Nathan bangkit dengan tumpukan buku ditangannya.
"Dan aku tidak menerima penolakan" lanjutnya ketika gadis itu akan bicara
"Baiklah.. Terima kasih sudah mau membantuku emm.."
"Nathan, namaku Nathan Kim"jawab pemuda itu cepat, Lalu keduanya jalan beriringan.
"Emm ya jadi Nathan terima kasih mau membantuku"
"Jangan berterima kasih anggap saja ini untuk menebus kesalahku karena menabrakmu. Dan siapa namamu?"
" Aku, Kim Minha, tapi kau bisa memanggilku Nana"
"Hey, marga kita sama mungkin kita berjodoh haha" canda Nathan
"Ku pikir marga yang sama bukan berarti berjodoh, tapi tidak menutup kemungkinan untuk berteman baik bagaimana?"
"Tentu kita teman Nana"
"Baiklah teman baru, sekarang biar aku saja yang membawanya kedalam. Terima kasih atas bantuanmu, senang berkenalan dengamu"ucap Nana sebelum masuk ke ruang guru.
Sedangkan Nathan tetap dengan senyuman yang sulit diartikan, ' manis' innernya dalam hati.
.
Nana tengah duduk dibawah pohon ditaman belakang sekolahnya, berkutat dengan buku yang berisikan rangkaian lagu yang ia tulis.
Rambut panjangnya yang dibiarkan terurai bergerak mengikuti hembusan angin yang menerpa wajahnya. Headset putih menggantung ditelinganya menambah kesan cantik pada dirinya. Saat tangannya lincah menulis setiap bait lagu dalam benaknya tiba-tiba ada kepalan kertas yang jatuh tepat diatas bukunya. Gadis manis itu membuka kepalan kertas itu dan membaca apa tulisan yang tertera.
Aku terus memikirkanmu
Aku terus merindukanmu
Hari demi hari, satu per satu
Tumbuh di hatiku
Wangimu yang menerbarkan hati
Napasmu menujuku
Aku memejamkan mata erat
Karena aku takut hatiku berdebar
Nana mengangkat sebelah alisnya, siapa yang melemparnya kertas dengan kata-kata seperti ini, dan apa ini benar untuknya? Nana menoleh mencari siapa yang melempar kertas yang ia genggam kini. Dan dia tidak menemukan siapapun kecuali dirinya sebelum akhirnya matanya tertuju pada seseorang yang tengah menatap ke arahnya dengan senyum mengembang diwajahnya, Nathan.
"Hei Nath, kemarilah " Nana melambaikan tangannya kepada Nathan yang mulai berjalan mendekatinya.
"Kau tau siapa yang melempar kertas ini?" Tanya Nana ketika Nathan baru saja duduk disampingnya.
"Entahlah mungkin seseorang yang menyukaimu" jawabnya santai sambil menyandarkan dirinya dibatang pohon dibelakangnya, memejamkan matanya dengan debaran aneh yang menggelitik. Ah, wanita disampingnya ini selalu membuatnya seperti ini.
"Nath, aku serius dan hei kenapa kau malah tidur ? Nath.. Nath" Nana mengguncangkan Nathan yang mulai terlelap.
" Sssttt.. Nana diamlah, memangnya kenapa jika ada yang menyukaimu?"
"Tentu saja aku terganggu, ini seperti ada yang memata-mataiku"
"Nikmati saja yang kau terima kenapa harus terganggu heuh? Dan bagaimana jika aku yang mengirimnya?"
"Aku akan membunuhmu Nath haha" canda Nana horror lalu beranjak menuju kelasnya.
' Ah apa benar seperti itu? Jadi aku tak boleh mencintaimu ya Nona Kim ' bisik Nathan menatap punggung Nana yang semakin pergi menjauh.
'Dan aku sangat berharap kata-kata mu itu benar Nath, karena aku berharap kau mencintaiku ' Nana berbisik dalam hati.
.
Nana menekan tuts piano dengan asal, membuat bunyi tak karuan mengalun dengan nyaring. Ia kesal, kenapa tak dapat menguasai lagu baru itu dengan baik padahal dia sudah sangat berusaha keras apalagi untuk penampilannya kali ini, ia ingin memenangkan kompetisi itu tapi bahkan tinggal beberapa minggu lagi lagu yang akan ia tampilkan tak bisa dimainkannya. Gadis itu menghela nafas sedih, haruskah ia mundur dari kompetisi yang telah lama ia inginkan?
Tiba-tiba seseorang duduk disampingnya dan mulai memainkan piano dihadapannya, nada yang indah mulai mengalun dengan merdu dan sempurna. lagu yg akan Nana bawakan kenapa malah orang ini yang bisa memainkannya dari pada dirinya.
"Hiks.." Satu isakan terdengar dari bibir sewarna cerry Nana. Orang yang duduk disamping Nana berhenti memainkan pianonya.
"Hei, kenapa malah menangis?" Nathan meraih wajah Nana.
"Aku gagal, aku bahkan tak bisa memainkannya dan kau malah membawakannya dengan sempurna"
"Jadi kau menangis hanya karna belum bisa memainkannya?"
"Aku tak bisa Nath, aku ini bodoh"
"Kau belum bisa bukannya tidak bisa, rasakan dengan hati mu maka akan kau dapatkan penampilan yang sempurna" Nathan menuntun jemari Nana untuk menekan tuts pianonya lagi.
'Sesempurna kau mendapatkan hatiku' Nathan dengan senyuman mirisnya.
.
Riuh tepuk tangan menggema diruangan itu seiring dengan selesainya penampilan bermain piano yang memukau dari gadis manis itu. Bahkan Nathan memandang dengan senyum merekah diwajahnya.
"Kau tahu aku mencintaimu, kenapa kau tak pernah mengerti itu?" Ucap Nathan pelan tetap menatap gadis yang mulai turun dari panggung dan berjalan menghampirinya.
"Aku berhasil Nath" Nana menghambur kepelukan Nathan yang hampir terjengkang kebelakang karena pelukan tiba-tibanya.
"Sudah ku bilang kau pasti bisa menampilkannya dengan sangat baik" Nathan mengelus rambut gadis dipelukannya dengan sayang.
"Terima Kasih Nath, kau teman terbaik" Nana semakin memeluk Nathan tanpa tahu hati pria itu terluka dengan kata yang baru terlontar dari mulutnya.
"Y-ya tentu, itulah gunanya teman" balas Nathan sedikit bergetar.
.
Nathan menghela nafas untuk yang kesekian kalinya. Pikirannya makin rumit, perasaan yang menggebu membuat hatinya sakit. Dan kini, sebelum perasaan ini tersampaikan ia harus pergi meninggalkannya. Kenapa waktu seperti mempermainkannya?
Pemuda yang memiliki manik sekelam malam itu menatap sendu sebuah kotak yang digenggamnya kini menatapnya lama dan kemuadia meraih ponselnya, tangannya mulai mengetik sesuatu lalu ia kirim pada nomor yang ia hafal. Besok ia harus bisa mengatakan semuanya, mengatakan apa yang harus dia katakan pada gadis itu. Semoga kali ini takdir berada dipihaknya.
.
Nana melirik jam tangan yang terpasang indah ditangan kirinya, hatinya gelisah kenapa pemuda itu belum datang juga? Ini sudah lebih dari waktu yang dia janjikan dipesan singkatnya. Dan lagi dia tidak melihat temannya itu disekolah hari ini. Ahh, dia sangat merindukan pria berdimple itu. Terdengar derap langkah dari belakang, gadis itu mulai memasang wajah kesalnya.
"Kau kemana saja Nath.. Kau" kaget Nana saat membalikkan badannya ternyata bukan pemuda yang ia tunggu.
"Hey Nana, bagaimana kabarmu?" Tanya lelaki tampan dihadapannya.
"Aku baik sangat baik malah"
"Syukurlah jika kau baik, lama tidak berjumpa"
"Tentu saja, kau kan sudah lulus dari sini. Wajar jika kita jarang bertemu"
Keduanya memilih diam dan larut dalam pemikirannya masing-masing.
"Lalu bagaimana dengan kau dan Sulli?"Ucap Nana memecahkan keheningan diantara mereka.
"Kami sangat baik, bahkan Sulli mungkin sudah bahagia disana bersama-Nya" ucap Vincent -lelaki itu- menatap awan yang bergerak dilangit.
"Apa maksudmu? Dia siapa?"Nana menatap penasaran pada pemuda dihadapannya.
"Tentu saja tuhan"
"Maksud mu dia .."
"Ya, seperti perkiraanmu dia sudah pergi untuk selamanya"Vincent balik menatap Nana.
"Tapi kenapa?"
"Karena kecelakaan yang dia alami bersama ku, tapi bahkan aku masih bisa membuka mata dan bernafas sedangkan dia.. Dia justru pergi meninggalkan ku untuk selamanya. Dan kau tahu itu sangat menyakitkan seakan kehilangan setengah nyawa apalagi aku yang menyebabkannya, bukankah aku jahat Na?" ucap Vincent dengan air mata disudut kedua mata sendunya. Nana memeluk Vincent dan mengusap punggung lelaki yang lama hilang darinya.
"Berhenti menyalahkan dirimu sendiri Vince, ini sudah jalan tuhan lagi pula jika Sulli melihatmu seperti ini dia pasti akan sedih"
"Ini sulit, dia yang paling berarti dihatiku"
Nana merasa nyeri disudut hatinya, meskipun tak mencintainya lagi tetap ada rasa sakit bukan mendengar pengakuan langsung dari seseorang yang pernah menjadi pelabuhan hatimu.
"Meskipun saat ini terasa berat, kau pasti bisa melaluinya"
"Ya kau benar, terima kasih" Vincent mempererat pelukanya.
Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang menyiratkan kesakitan saat melihat adegan dihadapannya, pemuda itu memegang dadanya yang terasa sesak.
"Mungkin semua ini terlambat, seharusnya memang rasa ini tak pernah ada" ucapnya sebelum berbalik dan melangkah pergi, membiarkan kotak yang ia bawa tergeletak begitu saja diatas rumput hijau yang ia pijak.
.
Gadis dengan seragam sekolah menengah atas itu berlari cepat diairport, melewati orang-orang yang menatapnya aneh. Bahkan tak jarang orang yang marah karena tak sengaja ditabraknya.
'Nathan pergi ke New York dan akan menetap disana untuk waktu yang belum ditentukan, ayahnya yang memintanya karena beliau tengah sakit. Tapi, Nathan tidak memberikan alamatnya disana'
Ucapan dari orang yang mengurus apartemen pemuda itu terus terngiang ditelinganya. Pandanganya terus diedarkan untuk mencari objek yang ia cari, berharap semuanya belum terlambat, dan berharap masih ada waktu untuk mengatakan semuanya.
Namun semua harapannya sirna setelah ada pengumuman bahwa pesawat yang membawa Nathan menuju New York telah lepas landas 15 menit yang lalu. Nana merasa kakinya lemas, ada rasa sakit yang lebih nyata daripada saat bersama Vincent tadi siang, ini tentang harapan barunya yang sudah hilang bahkan sebelum dia memulainya.
Nana menatap kotak yang ia temukan ditaman belakang sekolah tadi, membaca kembali kertas bertuliskan ungkapan cinta yang Nathan tulis dan ditempelkan diatas kotak, lalu membuka kotak itu. Terlihat kalung berbandul hati dengan hiasan ukiran indah namanya dan Nathan ditengahnya. Air matanya kembali menetes, kenapa tadi dia harus memeluk Vincent? Kenapa tadi dia tidak menyadari Nathan melihatnya dan Vincent? Kenapa Nathan tidak mengatakan perasaanya dari dulu? Kenapa dia harus dibuat menunggu lalu ditinggalkan begitu saja? Kenapa takdir terus mempermainkannya? Kenapa dirinya harus merasakan sakitnya ditinggalkan lagi?
Nana terus menangis dikursi tunggu airport tanpa mempedulikan pandangan bertanya dari setiap orang yang berada disana.
.
Nana membuka matanya yang terpejam, air matanya masih setia mengalir dipipi mulusnya. Dan untuk kesekian kalinya takdir tak berada dipihaknya, sakit itu kembali bahkan lebih menyakitkan dari sebelumnya. Penantiannya selama ini, menunggu disekolah ini sebagai siswa bahkan setelah dia menyelesaikan perguruan tingginya dia kembali ke sekolah ini, menjadi guru muda dan menunggu yang ia harapkan kembali di sekolah ini ternyata sia-sia. Bukan pemuda itu yang datang, tapi kenyataan pahit ini yang datang. Undangan pernikahan Nathan, pemuda yang telah lama ia tunggu yang menghancurkan hatinya, yang telah memporak porandakan keyakinannya. Tangan kanannya memegang kalung indah yang terpasang dilehernya.
"Kenapa kau setega ini Nath?"Gumamnya
"KENAPA KAU SETEGA INI? AKU MENUNGGU MU PENGECUT ! AKU MENUNGGU DIRIMU BUKAN UNDANGAN BODOH INI ! Hiks.." Ucap Nana dengan emosi yang meluap begitu saja, dengan rasa sakit yang tak bisa lagi dia sembunyikan.
"Jika seperti ini akhirnya kenapa kau harus membuatku mencintaimu Nath KENAPA?!!" Lanjutnya dengan suara yang sendu.
Cukup 6 tahun yang lalu dia menahannya, cukup 6 tahun yang lalu dia menunggu dengan sabar, cukup 6 tahun yang lalu dia yakin Nathan akan kembali. Nyatanya pemuda itu tak lagi mengingatnya bahkan dia memilih gadis lain daripada dirinya. Kini, dia menyerah atas kenyataan yang telah menamparnya dengan keras, bahwa perasaan ini harus dia lupakan dari awal.
Dengan sekali tarikan kalung itu terlepas dari lehernya, menatapnya dengan rasa sakit yang kentara seolah itu adalah pemuda yang telah menyiratkan luka pada hatinya. Nana mencium bandul itu lama kemudian meleparkanya jauh entah akan jatuh kemana yang penting gadis itu tidak menemukannya lagi. Ia ingin benar-benar beranjak dari keterpurukannya, mungkin melupakan Nathan dan semua kenangannya akan lebih baik. Melupakan semua penantian yang tak terbalaskan, meninggalkan apa yang memang harus dia tinggalkan, termasuk sekolah ini. Mungkin mengajar disekolah lain akan lebih cepat membuatnya melupakan semua sakit disini, ya ini keputusan yang tepat untuk memulai lembaran barunya tanpa bayang-bayang Nathan dan seluruh kenangan tentang pemuda bermanik segelap malam itu.
Ini keputusannya, Nana berjanji akan lebih baik dari saat ini dan 6 tahun lalu. Hatinya sudah mantap untuk melangkah dari masalalunya dan dia yakin akan menemukan yang benar-benar untuknya suatu hari nanti.
'Tapi Nath meski pun aku melupakan semuanya kau akan tetap sama dihatiku sampai kapan pun~ ya kau Nathan Kim, Aku mencintaimu'
Bisik gadis itu pada angin yang mulai berhembus mengiringinya meninggalkan tempat itu dan melangkah kedunia barunya.
.
-the end-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar