Selasa, 11 Februari 2020

Spasi diantara waktu

Menikmati musim gugur dipulau Nami, menyaksikan ribuan daun-daun kemerahan gugur dari tangkainya, dan bersenda gurau diatas kain yang tergelar dengan makanan-makanan ringan bersama orang yang berharga. Seharusnya itu yang dilakukan Jihyun saat berada disana. Namun, berbeda dari bayangannya, ia malah berdiri sendiri diujung keramaian itu, tersingkir dari sekumpulan orang yang tengah tertawa bahagia.

Jihyun mengangkat salah satu sudut bibirnya, tersenyum miris ke arah mereka. Selalu, sejak dulu ia bagai bayangan tak kasat mata untuk mereka, ia seperti tidak ada kaitan apapun. Tidak ada kata keluarga yang disematkan untuknya.

Itu memang menyakitkan, membuat Jihyun terisolasi dari lingkungannya. Perempuan yang memiliki lesung pipi setiap kali tersenyum itu, selalu merasa tak memiliki tempat berlindung lagi semenjak ayah dan ibunya memutuskan berpisah. Cinta sempurna yang ia lihat dan kagumi dari keluarganya hilang tak berbekas. Itu ikut menghempaskannya dalam lubang hitam yang tak Jihyun tahu jalan keluarnya.

Keserakahan ayahnya tentang wajah cantik setiap wanitalah yang menjadi pemicunya. Niat yang hanya mencari kesenangan sementara berkembang menjadi kecanduan yang tak bisa dielakkan. Hingga disatu waktu, ibunya memergoki kelakuan busuk pria itu. Tentu, sebagai wanita ia tak menerimanya. Semua waktu dan pengorbanan yang ia berikan menjadi sia-sia.

Tanpa adegan drama dengan berbagai keributan dan teriakan, ibunya hanya memberikan surat gugatan yang tinggal disetujui ayahnya. Wanita itu tidak meninggalkan sedikitpun jejak airmata diwajah cantiknya.

Awalnya, Jihyun sangka wanita itu menyembunyikan lukanya. Ia kira ibunya adalah sosok pemaaf paling hebat dalam dunianya sehingga dia tidak berpikir dua kali untuk ikut dalam hak asuhnya. Tapi terkadang, kenyataan lebih menyakitkan dari apa yang diduga. Karena tepat satu minggu setelah sidang perceraian selesai, ibunya menikah lagi dengan pria yang merupakan kekasihnya dimasalalu. Dan mereka sudah kembali menikmati cinta yang telah berlalu itu sebelum ibunya bercerai, sebelum ayahnya begitu gila mencari beribu wajah cantik untuk memuaskannya. Itu sangat menjijikan untuk Jihyun.

Sejak itu Jihyun semakin menutup diri, tidak banyak tawa cerita dan rengekan manja seperti sebelumnya. Ia banyak merenung dan kecewa pada keadaan yang ada, membuatnya tak banyak bergaul dengan anak sebayanya disekolah.

Sampai ditahun kedua setelah perpisahan orangtuanya, ibunya melahirkan bayi laki-laki untuk keluarga itu. Semua cinta yang pudar makin tak berbekas untuknya karena semua perhatian kecil dari ibunya hanya tercurah untuk bayi itu. Tidak ada lagi yang mendengarkannya untuk berkeluh kesah.

Jihyun tumbuh menjadi remaja yang cantik dan berprestasi, meski aura dinginnya masih membuatnya tak mendapatkan teman sama sekali. Dan itu tak membuatnya terlepas dari para penindas dikelasnya. Karena wajah cantiknya, seringkali para lelaki kurang ajar itu mencegatnya, membelai wajahnya dengan sesuka hati mereka lalu meludahi wajahnya dan menyeringai dengan bualan jika dia adalah perempuan paling tidak berguna didunia. Jihyun benci, namun ia tak bisa melawan. Dia terlalu lemah untuk melawan anak pemilik sekolah itu, yang ada dia yang mungkin ditendang dari sekolahnya.

Sampai suatu waktu, tindakan mereka sudah diluar batasnya. Para pemuda itu mempermalukannya dikelas, dipuluhan pasang mata para siswa baik dari kelasnya atau dari kelas lain. Jihyun sudah terkapar tidak berdaya dari beberapa pukulan yang ia dapat dari mereka. Masalahnya sepele, hanya karena Jihyun membalas tatapan tajam mereka dan menampar ketua dari biang rusuh itu karena dengan tidak sopan menyentuh tubuhnya sembarang.

Yang didapat Jihyun lebih parah, tamparan dan tendangan telak ditubuhnya yang lemah. Bahkan tanpa ampun sedikitpun, pemuda itu menjambak rambut panjang Jihyun dengan keras. Tangannya yang kurang ajar kembali menggerayangi bagian tubuh Jihyun. Banyak yang menatap gadis itu kasihan, tapi tidak ada yang membantu. Mereka tak mempunyai nyali untuk berurusan dengan orang yang memiliki kuasa disekolah itu.

Jihyun menangis dalam ringisannya, hatinya sakit, harga dirinya sakit. Ia hampir ditelanjangi didepan umum jika saja tidak ada kepalan tangan yang menghantam rahang si pria kurang ajar. Sementara mereka berkelahi, Jihyun beringsut ke pojok kelas, bajunya yang sudah sobek ia benahi untuk menutupi tubuhnya. Ia menangis dengan pilu disana.

Dan setelah pertikaian selesai, sosok itu menghampiri Jihyun. Menyampirkan jaket hangatnya untuk menutupi tubuh gadis itu. Tanpa mempedulikan tatapan heran oranglain, dia membawa Jihyun keluar dari kelas dan berlalu dari pandangan rasa terkejut semua siswa. Begitu heroik, sama seperti prontagonis pria dalam drama televisi kebanyakan.

Jaehyun, pemuda jangkung berkulit putih pucat itu yang menolongnya. Pria yang telah lama hilang dari pandangan Jihyun karena sejak mulai duduk disekolah menengah telah terbang ke negara lain untuk melanjutkan pendidikannya. Rasanya seperti mimpi bertemu lagi dengan pria itu. Jihyun pikir, tidak akan ada kesempatan lagi bertatap dengan wajah tampannya.

Takdir bagai pisau tajam yang terus diasah untuk selalu menusuk Jihyun. Setelah kejadian disekolah kala itu, seperti semua perkiraan pemilik sekolah marah besar. Namun bukan untuk mengasihani Jihyun, dia murka karena anaknya babak belur sampai lengan kirinya patah. Jihyun pun tak terlepas dari disalahkan dan dikeluarkan saat itu juga. Tak ada murid yang berniat menjadi pembicara atas pelecehan Jihyun, padahal dari awal hingga akhir mereka menyaksikan semuannya. Sedang Jaehyun, ia tak tahu kemana pria itu kembali pergi.

Ibunya kecewa, ia lebih mempercayai penjelasan sekolah dari pada ucapan anaknya sendiri. Jihyun mengalami kesedihan yang lebih dalam lagi.

Seakan tak cukup sampai disana, luka yang didapat Jihyun makin perih terasa saat ayah tirinya mencoba untuk melecehkannya juga. Ada sedikit keberuntungan ia bisa melepaskan diri dari cengkramannya. Namun tetap saja sandiwara tetap menjadi pemenang daripada kebenaran, karena pada akhirnya ibunya pun lebih percaya pada pria itu, pria yang hampir merenggut masa depan putrinya. Dan seakan tak cukup dengan luka karena dua kepercayaan yang telah ia hempaskan, wanita yang selama ini Jihyun jadikan acuan hidupnya mengusirnya, seakan tidak ingat jika dia masih darah dangingnya sendiri.

Jihyun hanya pergi dengan hati yang hampa. Tidak ada yang ia bawa bersamanya, entah itu uang, ponsel atau pakaian sedikitpun. Pikirannya terlalu kacau untuk semua yang telah dia alami.

Disaat terombang-ambingnya itu takdir menyeretnya kembali pada Jaehyun. Laki-laki itu telah lama berdiri didepan pagar rumah mewah itu, berdiri dengan wajah yang tidak yakin. Dan setelah melihat Jihyun keluar dengan wajah yang begitu berantakkan, pria itu tidak bisa diam. Dia langsung melangkah dan mendekap gadis itu dengan hangat. Ikut merasakan sesak yang terpancar dari sepasang mata coklat milik Jihyun.

"Mama bukan lagi Mama ku.."

Kalimat dengan nada putus itu yang pertama terlontar dari bibir tipis Jihyun. Jaehyun tertegun, melihat sorot tak berdaya itu dari wajah Jihyun yang ia ketahui selalu ceria, membuat hatinya berdenyut sakit. Jaehyun lupa berapa waktu yang ia lewatkan untuk pergi dari sisi gadis itu.

Semenjak itu, Jaehyun yang menjaga Jihyun. Dia yang membiayai pendidikan gadis itu dan kebutuhan hidupnya. Jaehyun tidak pernah mengungkit apapun lagi tentang keluarga Jihyun. Mereka menjalani hidup dengan normal dan menyenangkan. Bahkan senyuman Jihyun yang hilang, perlahan kembali dan semakin merekah setiap harinya. Tapi sepertinya takdir tak membiarkannya untuk bahagia lebih lama. Karena kemudian Jihyun mendapatkan rasa yang salah.

Gadis itu menemukan Jaehyun sebagai cinta pertamanya.

Jihyun tidak pernah berani mengatakannya. Ia lebih memilih untuk menekan rasa dan menikmati rindu bercampur pilu itu. Karena sampai kapanpun cinta itu tak akan mungkin terbalas untuknya. Sama seperti senja yang mengharapkan bertatap dengan rembulan. Terlalu mustahil. Apalagi Jaehyun sendiri sudah memiliki gadis yang dicintainya, yang ia simpan sepenuhnya dalam hatinya.

"Bukankah tak baik melamun dihari bahagia seperti ini?"

Suara familiar itu membuyarkan lamunan Jihyun. Dia menoleh dan tersenyum kearah Jaehyun, menutupi luka yang semakin perih terasa.

"Kenapa kau disini?" Jihyun berkata tenang, suaranya seindah gemuruh ombak yang menghantam karang. Tak akan bosan jika didengarkan.

"Apa aku tak boleh duduk bersamamu?"

Jihyun tersenyum kecut. Bagaimana ia bisa mengubur semua cintanya jika lelaki itu terus mendekatkan diri padanya, walau sebenarnya tidak ada yang salah tentang itu.

"Kau sudah memiliki istri saat ini."

"Apa yang salah? memangnya ada aturan jika menikah aku tidak boleh dekat denganmu?"

Jihyun menggedikkan bahunya acuh, meski dalam hati ia ingin berteriak jika sikap pria itu malah semakin membuatnya terjatuh saat ini.

Jaehyun merangkul bahu sempit Jihyun, matanya mengelana ke arah kumpulan orang yang diperhatikan Jihyun sejak tadi. "Setidaknya kau harus ikut bergabung dengan mereka dan mulai berdamai."

Jihyun tertawa, merasa lucu dengan perkataan pemuda itu. Meski sekarang ayahnya sudah berhenti mencari wanita pemuas seperti dulu, dan ibunya sudah berpisah dengan si brengsek yang ternyata seorang bandar pengedar narkoba. Dan meski mereka meminta maaf atas semua kesalahan besarnya pada Jihyun dengan tulus, itu tak membuat setiap bayangan kelam terhapus dari ingatan gadis itu. Hati Jihyun sudah terlanjur mati untuk menerima mereka kembali. Bahkan hidupnya makin tak berarti karena kehilangan cinta lelaki disampingnya itu.

"Kau tahu pasti jawabanku."

Jaehyun menghela nafasnya berat, sebelah tangannya mengusap surai sewarna mahoni milik Jihyun. "Tidak bisakah kau mencoba lagi?"

"Jika karena kau sudah tak bisa disampingku karena pernikahanmu ini, berhentilah memintaku untuk menerima mereka kembali. Jangan khawatir, karena saat ini aku sudah bisa menjaga diriku sendiri. Aku bukan Jihyun yang lemah seperti dulu." Jihyun kembali tersenyum, lesung pipinya menambahkan keindahan wajahnya. Serupa dengan sakura yang mengiasi musim semi. Sangat cantik.

Jaehyun membawa gadis itu dalam pelukannya, memberikan gambaran permintaan maaf dalam benak Jihyun karena tak bisa membalas perasaannya.

"Jangan berpikiran seperti itu. Aku akan selalu melindungimu kapanpun Jihyun-ah, meski aku sudah memiliki istri, anak atau cucu sekalipun. Karena kau tetap adikku sampai kapanpun."

Jihyun tersenyum pilu didalam dekapan lelaki itu, karena benar yang diucapkan Jaehyun. Sampai kapanpun dia adalah adiknya, tidak akan ada yang berubah dari itu.

Seandainya bisa, Jihyun ingin menciptakan ruang dalam waktu, menghentikan detik dan menit yang berputar menjadi satu kesatuan. Ia ingin menghentikan kepahitan yang ia tuai saat ini. Mungkin dengan kembali menyeret waktu dimasa ia menyadari ketergantungannya berubah menjadi romansa pada Jaehyun, atau setidaknya kemasa ia terkurung dalam kesedihan dan mengabaikan uluran tangan Jaehyun, atau mungkin kemasa harusnya ia terlahir kedunia, ia memiliki orang tua yang berbeda. Bukan berbagi darah yang sama dengan pria yang kedepannya akan membuatnya jatuh cinta.

Jaehyun kakaknya, saudara kandungnya dari orangtua yang sama. Dan selamanya, tak akan pernah ada kesempatan untuk saudara mengikat jalinan percintaan. Itu telalu gila dan melawan kehendak Tuhan.

Jihyun pun tahu itu, ia sangat mengerti pada kata ketidakmungkinan. Namun kembali, bagaimana ia harus menyudahi perasaan itu pada Jaehyun jika yang selama ini yang membawanya dalam kenyamanan hanyalah Jaehyun.

"Lepaskanlah, aku sudah tidak tahan dengan badanmu yang semakin bau, Okay." Jihyun mendengus sebal. Wajah manisnya tertekuk semakin menggemaskan untuk Jaehyun.

Jaehyun tertawa, ia menjentikkan jarinya didahi gadis itu. Menggoda adiknya selalu menjadi hal kesukaannya sejak mereka kecil dulu.

"Enak saja, bagaimana orang tampan sepertiku menjadi bau?"

"Sudahlah kak, bukankah ini waktunya berfoto, kenapa kau masih disini?"

Jaehyun merengut, "Kau juga harus ikut berfoto kalau begitu."

Tangan Jaehyun menggenggam pergelangan tangan Jihyun dan beranjak, namun Jihyun masih duduk dengan tenang tanpa berniat sedikitpun mengikuti sang kakak. Alis Jaehyun terangkat. "Ayo." ajaknya lagi.

Jihyun menggeleng pelan, tangannya melepaskan genggaman Jaehyun. "Kau bisa duluan, aku akan menyusul setelah mereka selesai."

Jaehyun mendesah kecewa, namun dalam beberapa detik senyuman kembali tergambar dalam wajahnya. Hanya senyuman tipis yang membuat lesung pipinya muncul sedikit. Ia mengerti berada dekat orang yang menyebabkan masalalu kelam masih sangat menyiksa untuk Jihyun, dia tidak bisa memaksakannya lagi.

"Tapi kau harus janji untuk kesana juga, Okay."

Jihyun hanya mengangguk pelan. Pandangannya mengikuti langkah mantap Jaehyun ke arah pengantin wanita. Melihat semerbak kebahagiaan yang terpancar diwajah keduanya, membuat satu sisi dihati Jihyun berdenyut sakit. Cinta yang Jaehyun bagi untuk perempuan itu berbeda dengan cinta yang diberikan padanya. Semua sudah jelas menunjukkan mustahil yang seharusnya Jihyun pahami, mungkin memang Jihyun mengerti itu, hanya saja ia menutup mata dan telinganya. Menghiraukan kebenaran yang ada untuk mempertahankan cintanya yang semakin dalam pada Jaehyun. Sampai terlambat untuk dia pergi darinya saat ini.

Jihyun menengadahkan wajahnya, menatap hamparan daun-daun kemerahan yang sedang berguguran. Mereka terombang-ambing terbawa angin, sama seperti perasaannya sejak dulu sampai sekarang. Tidak pernah ada landasan, tidak ada pemberhentian untuk hatinya berlabuh dan menetap hingga maut menjemput. Itu hanya menjadi mimpi dan angan-angan Jihyun yang tidak berkesudahan.

Semilir angin yang kembut ikut membelai wajahnya, seolah sedang menghapus airmatanya yang tak terlihat jejaknya. Jihyun memejamkan netra coklatnya, menikmati kedamaian sesaat yang ia rasa. Jihyun membuka mata hanya untuk kembali melihat ribuan daun yang semakin bersemangat meninggalkan tangkai. Berkorban begitu besar agar pohon itu tetap hidup. Tidak heran, daun mapel yang gugur melambangkan kesetiaan yang mendalam.

"Apa aku juga harus seperti mereka untuk membuatmu bahagia, kak Jaehyun?"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Spasi diantara waktu

Menikmati musim gugur dipulau Nami, menyaksikan ribuan daun-daun kemerahan gugur dari tangkainya, dan bersenda gurau diatas kain yang terge...