Tugas



Nachurarushiata
( YaguraXMitsuki ver. )






“New and a bit alarming
Who'd have ever thought that this could be? “
.
.
Pagi dikota ini dibuka dengan harum semerbak bunga-bunga yang baru saja bermekaran. Bau basah dari embun yang khas tercium sepanjang jalan, sebelum akhirnya semua ini akan sirna seiring beranjaknya hari. Ini hari pertama dimulainya aktivitas setelah akhir pekan. Dapat disimpulkan semakin hari menuju siang bau basah ini akan lenyap begitu saja.

Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk merasakan nikmat alam ini, seorang perempuan berseragam rapi memasuki area sebuah kampus terfavorit dikota ini. Perempuan yang memiliki surai berwarna pirang kecoklatan itu berjalan santai melewati parkiran. Sesekali mata oranye sewarna daun gugurnya itu berbinar ketika retinanya menangkap seekor kupu-kupu yang tengah merayu bunga disekitar taman yang tak jauh dari parkiran.

Sedikit ide jahil dibenaknya muncul. Perempuan itu memperhatikan sekelilingnya, setelah ia rasa tidak ada satu orangpun disana ia mulai fokus memperhatikan objek yang akan menjadi hiburannya.

Bunga mawar pink menggoda itu perlahan bergerak menjauh saat kupu-kupu mendekatinya. Ketika kupu-kupu itu mendekatinya dari arah berlawanan mawarpun melakukan hal yang sama, menjauh ke arah yang berbeda. Begitu seterusnya hingga perempuan tadi merasa bosan. Sebelum akhirnya didetik berikutnya ia tersenyum licik.

Perempuan itu mengarahkan mawar tadi kearah pagar kawat listrik yang melindungi kampusnya tercinta, dan kupu-kupu senantiasa mengikutinya. Melihat hewan itu menjadi percobaan untuk membuktikan seberapa kuat aliran listrik yang mengelilingi kampus ini sepertinya tidak ada salahnya. Bisiknya dalam hati.

Namun sayang, belum sempat kupu-kupu itu menyentuh pagar kawat bersama sang bunga, tiba-tiba waktu terhenti begitu saja. Seseorang dengan mantel coklat berjalan menuju arah kupu-kupu. Kemudian mengambilnya dan meletakkan kupu-kupu itu diudara yang berada diluar pagar kawat, menatap sekilas perempuan tadi dengan sinis. "Dasar bodoh." Setelahnya pergi memasuki gedung utama kampus.

Waktu kembali berputar. Perempuan tadi mengerjapkan matanya yang tiba-tiba berair. 'Apa yang terjadi?' Tanyanya dalam hati. Sepertinya dia lupa dengan apa yang beberapa saat lalu ia lakukan.

Dia hanya mengangkat bahunya acuh, lalu kembali melanjutkan langkahnya untuk memasuki gedung utama kampus. Sebelum sebuah suara melengking menghentikan langkahnya.

"Mitsuki.." merasa terpanggil perempuan itu menolehkan kepalanya. Dapat dia lihat seorang gadis dengan seragam sama sepertinya berlari kecil ke arahnya.

"Tidak biasanya kau berada dikampus sepagi ini." Gadis yang lebih pendek itu menyeret tangan Mitsuki memasuki gedung. "Memangnya tidak boleh ya? Aku kan juga mahasiswi disini."

"Ya tumben saja, apa karena akan ada anak baru dikelas kita?"

Mitsuki mengerutkan keningnya bingung. "Memangnya ada mahasiswa baru dikelas kita, Sora? Kenapa aku tidak tahu?" Gadis yang dipanggil Sora itu menatap Mitsuki gemas.

"Kemarin wali kelas kita sudah mengatakannya empat kali, jika kau memperhatikannya saat dia berbicara didepan. Telingaku saja rasanya sakit karena bosan mendengar itu."

Mereka memasuki lift yang kosong itu, lalu menekan angka 3. Mitsuki menatap temannya itu malas. "Pasti ingin melihat si matahari musim panas."

"Tidak tuh!"

"Lalu untuk apa ke lantai 3? Kelas kita kan dilantai 4."

"Aku ingin membeli minuman dulu." Mitsuki menyerngit heran. "Biasanya juga kau bawa dari rumah."

Tringg.

Dan lift terbuka, keduannya keluar dan melangkah menuju mini market yang ada dikampus mereka. Misora langsung menuju kearah rak botol air mineral yang berjajar, sedangkan Mitsuki memilih menyeduh coklat panas. Sekedar untuk mengembalikan moodnya yang tiba-tiba hilang entah kenapa. Padahal saat digerbang kampus dia merasa sangat bersemangat.

Keduanya kembali berjalan kearah lift setelah membayar masing-masing barang yang mereka beli. Mereka larut dalam pikiran mereka masing-masing sampai sebuah suara menyadarkan mereka.

"Ohayo gozaimasu Mitsuki, Misora..." keduanya mendongkang kearah suara itu.

"Ohayo gozaimasu, Nikkou." Mitsuki menjawab dengan senyuman. Sedikit terkekeh sebenarnya melihat gadis disampingnya malah diam dan membuang muka, padahal jelas sebelumnya rona merah menguasai pipinya.

Perlu dicatat laki-laki dihadapan mereka itu adalah pemuda yang Misora sukai sejak 3 bulan yang lalu. Dan menduduki tahta tertinggi diistana cintanya. Itu yang sering Misora katakan pada Mitsuki. Misora itu memang menyukai sastra jadi tidak heran setiap dia bicara diikuti dengan ekspresi yang berlebihan. Berlawanan dengan Mitsuki yang lebih hemat berekspresi.

"Ah iya, apa kalian sudah mempersiapkan penampilan untuk festival budaya bulan depan?" Pemuda dengan perawakan tegap itu berbicara lagi. "Tentu saja Nikkou, pencetus ide untuk tema kelas kami saja sangat bersemangat. Iya kan, Sora?" Mitsuki melirik Misora dengan sedikit menggoda. Drama pagi yang seru. Pikirnya.

Bukannya menjawab gadis dengan rambut coklat sewarna mahoni itu malah menarik Mitsuki masuk kedalam lift setelah lift terbuka . Mitsuki yang ditarik tanpa persiapan apapun tanpa sengaja menabrak bahu seseorang yang baru keluar dari lift karena sedikit limbung. Lelaki bermanik karamel itu menatap Mitsuki tajam ketika coklat panas yang dibawa Mitsuki sedikit mengotori kemeja putihnya.

"Bodoh." Ucapan pemuda itu sakratis, lalu melenggang begitu saja ke arah mini market kampus. Mitsuki yang tadinya berniat meminta maaf menjadi merenggut sebal. Melupakan jika mereka meninggalkan seorang lelaki bernama Nikkou Natsuyo yang masih menunggu mereka didepan lift yang kini sudah tertutup sepenuhnya.

"Apa-apaan dia menyebutku bodoh? Aku kan tidak sengaja, lagi pula kan aku ingin minta maaf." Mitsuki menggerutu sambil sesekali menyeruput coklat panasnya. Netra jingganya melirik pada gadis disampingnya yang tengah memejamkan matanya dengan wajah memerah. Mitsuki memutar matanya bosan. Sahabatnya ini memang seperti itu jika tengah malu. Berlebihan sekali.

"Dan kenapa kau malah menarikku, Sora?" Meski sudah tahu jawabannya tetap saja Mitsuki kesal. Karena ditarik Misora, dia jadi tidak sengaja menabrak laki-laki sedatar tembok dengan mulut pedas melebihi cabai itu, dan tentunya dia mendapat panggilan cap bodoh darinya. "Salahmu sendiri jahil, lagi pula kau kan tahu aku tidak bisa mengendalikan diriku ketika bertemu Nikkou."

Mitsuki memutar matanya lagi. Benarkan gadis ini berlebihan. "Aku kan hanya bertanya, itu sangat wajar." Misora cemberut. "Kau tidak tahu yang aku rasa, Tsuki."

"Tentu saja, aku kan tidak berlebihan dan tidak suka seseorang." Misora mendelik. "Ku doakan semoga gadis sedingin es ini akan jatuh cinta tidak lama lagi." Misora berdoa dengan mendramatisir suaranya agar terdengar lirih, juga dengan raut memelas yang sebenarnya membuat Mitsuki ingin muntah. Dia memang tidak suka dengan orang yang dramatis, tapi entah kenapa dia bisa bersahabat dengan gadis penuh drama seperti Misora.

Lift terbuka, keduanya keluar.

"Dalam mimpimu saja teman cerewet ku." Mitsuki bergumam meledek, sedang Misora yang mengikutinya dibelakang memanyunkan bibirnya sambil menggerutu pelan.

Mitsuki tiba-tiba menghentikan langkahnya, netra jingganya melotot tak percaya. Sebenarnya ini hari apa? Kenapa rasanya sial sekali? Bisiknya dalam hati. Misora yang tidak menyadari langkah sabahatnya berhenti akhirnya menabrak punggung gadis yang lebih tinggi darinya itu. "Aww.. Ya ampun Tsuki kenapa kau tiba-tiba berhenti? Lihat dahiku sakit." Misora mengusap keningnya pelan. Tak mendengar jawaban apapun dari sahabatnya, gadis bersurai merah muda itu menolehkan kepalanya kedalam kelas. Dan matanya membulat seketika saat melihat siapa yang duduk tenang dikelas dengan mata terpejam dilengkapi dengan headset putih yang menggantung dikedua telinganya.

"Dia.." Mitsuki menatap tajam orang itu. "Oh jadi dia anak baru itu." Mitsuki menoleh ke arah Misora.

"Dia anak baru? Dan sudah berani menyebutku bodoh?" Misora meringis mendengar suara Mitsuki, cukup tahu saja bagaimana menyeramkannya wanita itu ketika seseorang mengusik kedamaiannya.

Misora bergidik ngeri ketika sedetik kemudian melihat seringaian diwajah cantik sahabatnya itu. Dia benar-benar tahu artinya, Misora menoleh ke arah pemuda yang seakan tidak terusik dengan suara mereka. Ia berharap semoga pemuda itu baik-baik saja menghadapi sikap ajaib sahabatnya ini. Tapi sedetik kemudian dia menyerngit heran.

"Tunggu Tsuki.. sejak kapan dia disini?" Mitsuki melenggang masuk dan duduk dikursinya. "Aku bukan ibunya Sora, kenapa bertanya padaku?" Gadis dengan rambut pirang digerai itu berkata acuh sambil memainkan ponselnya, menghiraukan wajah Misora yang mulai memucat.

"Tapi.. tadi dia kan di lantai 3.." Mitsuki menghentikan jarinya yang sedang mengetik, dia menatap Misora was-was. "Misora apa kau pernah mendengar jika dilantai teratas gedung ini angker?" Misora menggeleng kaku, bisa Mitsuki lihat keringat dingin mulai muncul ditelapak tangan dan dahi gadis itu. Mitsuki berbisik ditelinga Misora. "Mungkin dia..."

"Hantu...aaaa" Mitsuki tertawa melihat sahabatnya pergi dari kelas dengan panik. Anak itu selain dramatis juga sangat penakut. Diceritakan sedikit saja tentang hantu langsung berteriak histeris.

"Bodoh.." desisan itu membuat Mitsuki menoleh ke arah pemuda tadi, secara tidak ada siapapun kecuali hanya mereka berdua dikelas ini. Matanya menyipit memperhatikan pemuda yang masih setia memejamkan matanya, menyembunyikan tatapan karamel tajamnya. Tenang dan nyaman seolah tidak tergerak walau seincipun. Jadi, siapa yang berbicara tadi? Apa benar dikelas ini ada hantu?

Gadis itu terkekeh sendiri atas pikirannya. Tapi melihat pemuda tadi tidak terganggu sepertinya seru jika dia sedikit memberi hadiah karena pemuda itu telah menyebutnya bodoh. Jadi, dengan cepat Mitsuki menggerakan spidol pink kesayangannya untuk sedikit menari diwajah pria bersurai merah yang terpejam itu. "Anggap saja ini tanda perkenalan dari ku, anak baru."

Spidol pink itu hampir saja menggoreskan warnanya dipipi pemuda tadi sebelum akhirnya terjatuh. Mitsuki menyergit, dia kembali konsentrasi untuk menggerakkan spidol yang jatuh itu ke wajah pemuda itu. Bukannya bergerak untuk mencoret wajah yang dituju spidol itu malah tertuju kearahnya dengan cepat hingga dia tidak sempat untuk menghindar.

"Senang bisa berkenalan denganmu, gadis bodoh." Mitsuki menatap tajam kearah lelaki yang kini tengah tersenyum sinis kearahnya. "Apa-apaan dengan sebutan bodohmu itu?" Mitsuki menggebrak meja, dia tidak terima tentu saja.

"Kau memang bodoh!" Mitsuki kembali menggerakkan spidol yang telah mencoret wajahnya untuk menyerang mahasiswa baru yang berulang kali menyebutnya bodoh pagi ini. Tapi sebuah buku yang terbuka terbang menghalangi spidol itu. "Kau juga telekinesis?"

Kedua benda yang melayang itu bergerak dan tergeletak rapi di meja Mitsuki. Sedang lelaki yang dimaksud Mitsuki hanya memberikan senyuman meremehkan. "Tentu saja aku manusia. Dasar bodoh." Dan setelah mengatakannya dia melenggang pergi, meninggalkan Mitsuki dengan wajah merah menahan marah. Benar-benar orang itu membuatnya kesal sejak dilift tadi.

***

“You know, perhaps there's something there that wasn't there before”
.
.

Misora menatap bosan perempuan yang sedang mondar-mandir didepannya sejak 20 menit yang lalu. Ingin rasanya dia mengikat kaki gadis itu agar berhenti membuatnya pusing. Itu juga seandainya dia memiliki keberanian besar. Karena demi apapun dia tidak mau membangunkan singa betina yang sedang tidur didalam diri sahabatnya itu. Misora bergidik membayangkan kena amukan dari Mitsuki. Kemarahan Mitsuki memang sesuatu yang harus dihindari.

"Aarghhh..." Misora mendelik ke arah Mitsuki, karena teriakan tiba-tibanya itu membuat ia menjatuhkan novel tebal yang tengah ia baca saking kagetnya. "Bisakah kau berhenti berteriak? Aku sudah 3 kali menjatuhkan buku ku karena teriakan drama mu itu."

"Aku tidak menyuruhmu untuk mendengarkan teriakanku!" Misora cemberut mendengar ucapan sinis dari sahabatnya itu. "Lalu kenapa kau uring-uringan seperti itu setelah mendapat peran utama untuk teater nanti? Bukankah saat festival budaya lalu kau yang mengharuskan kelas kita menampilkan teater untuk tahun ini dengan kau sebagai pemeran utama?" Mitsuki duduk disamping Misora. "Masalahnya kenapa lawan mainku harus orang menyebalkan itu."

"Namanya Yagura, Tsuki." Misora mengoreksi. "Ya ya terserah, aku tak peduli namanya."

"Jadi kau hanya peduli orangnya?" Giliran Mitsuki yang mendelik. "Never care!"

"Aku hanya mengingatkan perasaan benci itu bisa jadi cinta." Misora menaik turunkan alisnya jahil. "Maaf tapi aku tidak tertarik dengan orang yang hanya bisa berkata bodoh."
Misora menatap Mitsuki -sok- serius. "Ayolah dear, kita tidak tahu bagaimana masa depan kan?"

"Misora serius, aku benar-benar kesal dengan si idiot rambut merah yang sejak awal membuat semua moodku hancur. Dan sekarang aku dipilih menjadi pemeran utama teater kita dengan dia sebagai pemain utama laki-lakinya. Oh ya ampun aku rasa dunia akan kiamat."

"Itu sudah keputusan dari voting kelas, lagipula ku rasa dia memang cocok memerankan karakter pemain utama." Misora menjawab malas, oke sahabatnya itu memang punya sedikit masalah dengan si mahasiswa baru. "Lalu kenapa kau tidak ikut berpartisipasi dalam teater?" Mitsuki merajuk, Misora mengendus sebal. Ternyata putri es ini dapat merajuk juga. Bisik Misora dalam hati.

"Aku yang menulis naskah jika kau lupa."

"Maksudku berpartisipasi dipanggung nanti bukan dibalik layar. Padahalkan itu bisa menjadi kesempatanmu supaya Nikkou melihatmu nanti." Misora menghela nafas pelan. "Justru karena itu aku ingin berada dibalik layar." Misora berbicara dengan pelan, bisa Mitsuki lihat ada guratan sendu dimata gadis itu yang menghilang beberapa detik kemudian. Mitsuki tahu ada sesuatu yang disembunyikan temannya ini, karena sudah 2 hari ini dia melihat sekilas kesedihan diraut wajah Misora. "Memang kenapa kau tidak mau Nikkou melihatmu?" Misora hanya menggedikkan bahu membuat Mitsuki kembali merengut sebal.

Misora tersenyum kecil melihat Mitsuki berekspresi. Jarang-jarang perempuan itu tidak sedingin biasanya. "Oh ya, kau mengatakan jika Yagura itu adalah telekinesis juga?" Mitsuki mengangguk, dia sudah menceritakan semua yang dia alami dikelas seminggu yang lalu pada Misora. "Aku kira dia teleporter."

"Dia itu pasti telekinesis, buktinya dia menggerakkan buku untuk menghalangi spidol yang akan aku coretkan ke wajahnya." Misora mengerutkan dahinya.

"Tapi tadi kau bilang, dia bisa menjatuhkan spidolmu kan?" Mitsuki bergumam sebagai jawaban. "Seperti yang kita ketahui sesama telekinesis itu tidak bisa mempengaruhi pikiran lawan masing-masing. Telekinesis hanya bisa melindungi diri dengan menahan atau melawan serangan benda, bukan mempengaruhi pikiran lawannya untuk melemahkan benda. Lagipula dia tidak akan bisa secepat itu berada dikelas setelah dari minimart jika dia juga bukan teleporter kan?" Mitsuki terdiam. Perkataan Misora memang benar, dia dan Haruna-saudara perempuannya- saja yang sama-sama memiliki kekuatan telekinesis hanya menggunakan benda untuk menyerang dan melindungi diri. Tidak saling mengendalikan pikiran masing-masing lawan.

Namun, memang apa pedulinya dia dengan kekuatan si pemuda menyebalkan itu. Mau telekinesis, pengendali pikiran, atau teleporterpun masa bodo. Yang penting dia tidak mau menjadi pasangan si idot rambut merah itu diteater festival nanti.

Brakk. Mitsuki terjungkal dari kursinya ketika mendengar Misora menggebrak meja secara tiba-tiba. Dia menggerutu, tentu saja. Dia tengah melamun dan gadis itu dengan seenaknya mengagetkan acara melamunkan si menyebalkan itu. Eh apa? Maksudnya melamunkan cara untuk tidak jadi pasangan teater dengan dia. Ralatnya cepat dalam hati.

"Kenapa kau selalu mengangetkanku Sora, ya ampun." Misora nyengir. "Aku jadi berpikir mungkin Yagura itu double elementer, Tsuki."

"Double elementer?" Ulang Mitsuki, Misora mengangguk. "Iya double elementer, seseorang yang mempunyai elemen baku dan elemen terusan."


"Jelaskan! Aku tidak mengerti." Misora merotasi matanya malas mendengar kata yang lebih mengarah pada kata perintah dibanding permintaan.

" Jadi begini, dalam beberapa kasus orang-orang khusus seperti kita ada yang memiliki elemen terkuat, dan pemilik elemen itu disebut double elementer.

Orang dengan double elementer ini memiliki 2 kekuatan yang berkaitan dan menghasilkan sebuah kekuatan baru yang cukup berbahaya. Dua elemen ini terdiri dari elemen baku dan elemen terusan.

Misalkan, aku memiliki elemen baku water dan elemen terusan frost, maka aku bisa menghasilkan kekuatan baru berupa thunder. Jadi ketika aku mengendalikan 2 elemen utama, maka elemen gabungan akan terbentuk dengan sendirinya."

"Berarti mereka mengeluarkan 3 elemen sekali serang?" Misora mengiyakan. "Hanya saja itu berbahaya sekali."

"Memangnya kenapa?" Mitsuki penasaran dengan double elementer dan hubungannya dengan si menyebalkan. "Ketika 3 elemen digunakan secara bersamaan, maka pertahanan tubuh akan menurun dan bisa mempengaruhi hilangnya sebagian ingatan."

"Kenapa itu bisa terjadi?"

"Tubuh tidak bisa menahan partikel elemen lebih dari 1,5 elemen gabungan. Sehingga kemampuan otak untuk mengendalikan elemen pun menurun yang otomatis membuat elemen itu tak terarah dan bisa menyerang balik kepada pemilik elemen. Jadi, biasanya para double elementer hanya menggunakan satu elemen secara bergantian diwaktu yang berbeda."

"Lalu apa yang membuatmu berpendapat jika Yagura seorang double elementer?" Mitsuki memperhatikan penjelasan Misora baik-baik. Entah kenapa pembahasan ini jadi makin menarik perhatiannya. "Dia memiliki telekinesis dan teleportasi."

" hey dia hanya telekinesis." Mitsuki membantah. "Tapi dia ada dikelas lebih dulu dari kita yang jelas-jelas sebelumnya berpapasan dilift, ingat?"

"Tapi aku tidak tahu kekuatan apa yang dihasilkan dari perpaduan 2 elemen kuat ini." Misora menerawang untuk menebak.

"Mungkin mengendalikan pikiran orang lain."

"Bisa iya, bisa juga tidak." Jawab Misora cepat. "Karena dia memiliki elemen terusan teleportasi yang selain bisa mempengaruhi pikiran untuk berpindah tempat, juga bisa menyusup kedalam pikiran lain." Lanjutnya.

"Berarti emang mengendalikan pikiran, maybe." Misora menggedikan bahunya. "Tapi aku rasa elemen gabungannya lebih hebat daripada sekedar mengendalikan pikiran. Karena kedua elemen utamanya saja berada pada tingkat tinggi seluruh elemen."

Mitsuki memincingkan tatapannya pada Misora. "Apa kau juga termasuk double elementer? Kau sepertinya tahu sekali tentang semua elemen." Misora berdecak sebal. Apa kepala sahabatnya ini terbentur sehingga dia lupa dengan kebiasaan gadis berambut sebahu itu yang selalu membaca 3 buku dalam sehari. "Tentu saja bukan, aku baca dari buku tahu ! Lagipula perempuan spesial seperti kita tidak akan memiliki double elementer, pertahanan tubuh kita 2 tingkat lebih rendah dibanding laki-laki untuk bisa mengendalikan double elementer."

Mitsuki baru saja akan kembali bersuara ketika suara yang tidak asing menyapa pendengarannya. Suara yang tidak mau ia dengar lagi selamanya kalau bisa."Bisakah kalian berhenti bergosip dipagi hari?"

"Kami tidak bergosip, kami sedang membahas elemenhmp.." ucapan Misora terhenti karena Mitsuki dengan cepat membekap mulut gadis itu. "Membahas apa?" Dahi pemuda diambang pintu itu mengerut heran.

"Bukan urusanmu! Untuk apa kau kemari?" Mitsuki menjawab ketus. Menghiraukan Misora yang menggerutu pelan karena perlakuan Mitsuki beberapa menit yang lalu.

"Hari ini jadwal kita latihan, jika kau lupa." Mitsuki merengut. "Aku tidak mau!"

"Aku sudah berbaik hati menyusulmu kemari dan kau dengan seenaknya menolak?" Mitsuki menatap Yagura-pemuda diambang pintu itu- dengan angkuh. "Terserah padaku, itu hak ku."

Yagura mendecak sebal, perempuan ini dari awal mereka bertemu kenapa selalu membuat dia kesal sih? Pemuda itu mendekat pada Mitsuki, gadis kurang ekspresi yang selalu saja berselisih dengannya karena hal-hal yang bahkan sangat sepele. "Yasudah aku akan mengatakan ini pada Mr. Nakamoto, lalu kelas kita dicoret dari lomba festival dan kau akan dimusuhi seluruh kelas. Mau?"

"Kau tinggal mengganti peranku dengan anak lain." Yagura menatap tajam Mitsuki yang cuek-cuek saja. "Kau tidak ingat perjanjian sebelum pemilihan pemain bahwa tidak boleh ada yang protes atas penetapan peran?"

"Lagipula kau itu sudah diberi kepercayaan, kau ingin mengecewakan orang-orang yang sudah percaya padamu? Atau kau takut untuk tampil? Hmm mental pengecut." Ucapan terakhir pemuda itu membuat emosi Mitsuki tersulut, terlihat dari wajahnya yang tertekuk dan memerah.

"Aku bukan pengecut, mari kita latihan!" Gadis itu hanya melirik Yagyra dengan tatapan yang seakan dapat membunuh, menyambar tasnya yang tergeletak dilantai lalu berjalan keluar. "Diruang 401 ya, judes." Teriak Yagura kepada Mitsuki yang sudah agak jauh, lalu setelahnya terkekeh puas.

"Heh Yagura, Kenapa kau masih disini?" Suara cempreng itu menghentikan kekehan Yagura. Dia lupa jika dikelas ini masih ada orang lain. Pemuda itu merubah raut wajahnya menjadi datar. "Yasudah, aku duluan ya pendek."

Misora melongo mendengar sebutan terakhir pemuda yang berjalan keluar dengan santai dari ruangan. Dan sedetik kemudian terdengar teriakan cempreng yang didramatisir dari ruangan itu. Itu suara Misora, dan yang perlu diketahui dia paling benci disebut pendek oleh orang lain-apalagi dia baru kenal-kecuali Mitsuki, tentu saja. Dia kan sahabat sehati sekata dengan Misora. Mulai detik itu Misora menyetujui jika Yagura Kogarashi adalah hal yang paling menyebalkan nomor satu didunia.


***

“There something sweet and almost kind
I wonder why didn't see it there before..”
.
.
"Bagaimana, bisa tidak?" Perempuan berambut pirang itu bertanya pada pemuda-yang sedang membungkuk sejajar dengan lubang kunci pintu dihadapannya-dengan tidak sabar.

"Diamlah, aku sedang berusaha."

Tak. Bunyi kecil itu membuat pemuda tadi melotot tak percaya. Oh tidak, apakah dia baru saja mematahkan satu-satunya harapan agar mereka bisa keluar dari ruangan itu?

"Kenapa kau malah diam, Yagura?" Yagura mengangkat tangannya dan menunjukkan sebuah jepit rambut hitam tipis yang patah sebagai jawaban. Perempuan itu terbelalak. "Kenapa kau malah mematahkan penolong kita YAGURA..??"

Yagura menutup telinganya dari teriakan 7 oktaf perempuan disampingnya ini. Yang dia heran sejak kapan gadis dengan tampang dingin seantero kampus itu bisa berteriak dengan suara secempreng ini dengan ekspresi yang sangat berlebihan. Oh apakah gadis itu sudah tertular kedramatisan sahabat yang selalu membuntutinya? Ingatkan Yagura untuk memeriksa kupingnya ke dokter THT setelah ini, sungguh jika diibaratkan mungkin burung-burung yang sedang bersenandung riang pun langsung terbang bebas karena teriakan memekakan telinga itu.

"Kau tidak perlu berteriak pirang, telingaku sakit rasanya." Yagura mengusap telinganya, tidak mempedulikan Mitsuki yang menatap tajam ke arahnya. "Ini semua gara-gara kau membawaku ke tempat ini."

"Ya mana aku tahu akan terjebak disini." Jawaban tanpa dosa Yagura malah membuat Mitsuki makin kesal.

Seandainya saja dia tadi langsung pergi ke Aula dan menunggu urutan kelas mereka dipanggil untuk tampil, pasti sekarang dia sedang duduk dengan tenang sambil mempersiapkan ingatannya untuk berakting dilomba nanti. Bukannya malah terjebak diruang kelas yang terkunci beberapa menit sebelum kelas mereka dipanggil seperti ini, dan jangan lupakan bersama siapa dia terkunci, tentu saja si mahasiswa baru menyebalkan yang menjadi dalang penyebab mereka terkurung disini. Ya, kalo saja si Yagura itu tidak menarik ujung tas gendongnya lalu menyeretnya ke lantai teratas untuk melatih chemistry agar penampilan mereka memukau, Mitsuki yakin dia dan si menyebalkan ini tidak perlu memutar otak untuk mencari jalan keluar.

Tidak masalah jika mereka terkunci dikelas yang ada dilantai 2, karena dekat Aula pasti banyak yang bisa mereka mintai bantuan dan mereka bisa terbebas dengan cepat. Tapi ini? Mereka bahkan terkunci dilantai teratas kampus mereka yang memang sepi jika ada acara kampus seperti hari ini. Dan masalah terbesarnya adalah mereka terjebak diruangan yang berada di ujung koridor. Tanpa alat apapun yang bisa digunakan mereka untuk keluar. Ah ya kecuali jepit rambut tipis milik Mitsuki yang baru saja dipatahkan si menyebalkan Yagura.

Jangan tanyakan kenapa mereka tidak menggunakan ponsel untuk meminta bantuan, karena Mitsuki akan melakukannya sejak beberapa waktu yang lalu jika saja ponsel pink kesayangannya itu tidak berada ditangan Misora ketika dia diseret Yagura. Dan ponsel si menyebalkan ini benar-benar tidak bisa diandalkan karena kehabisan energi dan cerobohnya pemuda itu tidak membawa charger untuk mengisi daya ponselnya. Mengesalkan sekali bukan? Jika saja si menyebalkan ini tidak seceroboh itu. Dan bodohnya dia tidak ingat jika ruangan diujung koridor ini terhias tulisan 'akan direnovasi' dipintu masuknya sejak dua hari yang lalu. Gara-gara sibuk menggerutu pada si pria aneh menyebalkan bernama Yagura itu.

Mitsuki melirik jam coklat yang menghiasi pergelangan tangan sebelah kirinya. Pikirannya makin kalut karena waktu mereka untuk tampil tinggal 10 menit lagi, dan mereka masih terjebak disini. Dia hanya bisa berdoa semoga Misora segera menemukannya.

Yagura mengikuti Mitsuki yang telah duduk dilantai. Pemuda itu menatap ragu ke arah Mitsuki. "Sebenernya aku punya satu cara lagi untuk keluar." Mendengar itu Mitsuki langsung menoleh kearah Yagura. Laki-laki menyebalkan ini kenapa tidak dari tadi sih bicara jika masih ada jalan lain. "Apa?"

"Teleportasi." Mitsuki merutuki dirinya sendiri, kenapa dia melupakan kemampuan Yagura dalam hal berpindah tempat? Mitsuki berdiri dan menepuk gaun kuning kecoklatannya yang terkena debu karena duduk dilantai.

"Kenapa kau tidak bilang itu sejak tadi? Ya sudah cepet bawa aku teleportasi ke aula."

"Tapi.."

"Tapi apalagi Kogarashi? Kita sudah hampir terlambat untuk tampil, bagaimana jika kita didiskualifikasi?"

Yagura ikut berdiri, menarik dan menghembuskan nafasnya kasar. Ck, Ternyata perempuan judes bisa panik juga, bisiknya dalam hati."Begini, ketika seorang teleporter membawa orang lain untuk ikut teleportasi, dia harus menyalurkan energi teleportasinya ke orang lain itu melalui media. Dan medianya adalah berpegangan tangan..."

"Aku tidak mau ! Enak saja kau ingin mencuri kesempatan." Yagura memutar matanya malas karena omongannya lagi-lagi dipotong oleh gadis pirang itu. "Tidak bisakah kau tidak memotong ucapanku? Lagipula siapa yang ingin mencuri kesempatan? Aku juga sudah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak menyentuh perempuan kecuali sudah menjadi istriku. Dari itu sejak tadi aku tidak mengusulkan teleportasi."

"Kalau begitu, kau saja yang berteleportasi sendirian lalu mencari orang lain untuk membuka ruangan ini, kita keluar, kita ikut lomba. Tamat."

"Kau tidak lihat jam berapa sekarang? Waktu 4 menit tidak akan menolong kita untuk ikut lomba tepat waktu. Yang ada kelas kita didiskualifikasi saat aku mencari bantuan untuk membuka ruangan ini." Mitsuki cemberut. Lagipula ini salah si Kogarashi itu karena tidak membahas teleportasi sejak tadi, pasti usulan kedua bisa dilakukan karena masih banyak waktu.

"Jadi bagaimana?"

"Ya mau bagaimana lagi? pakai cara yang pertama."

"Tapi aku belum pernah berpegangan dengan laki-laki kecuali ayahku."

"Kau pikir aku sudah?"

"Aku belum menikah, aku tidak mau."

"Kau pikir aku mau?"

"Aku hanya ingin yang menggenggam tanganku pertama kali adalah suamiku."

"Yasudah kita menikah saja." Mitsuki terdiam, semburat merah jambu mulai menjalar dipipinya. Sebelum akhirnya ucapan sakratis keluar dari bibir sewarna cerrynya.

"Tidak lucu idiot !"

Mitsuki memanyunkan bibirnya seperti anak kecil yang tidak diberi permen. Dan itu tidak luput dari pandangan Yagura. Baru kali ini dia melihat sisi lain dari perempuan dingin dan arogan disampingnya. Tanpa sadar dia tersenyum kecil.

"Serius Yagura, waktu kita makin sempit." Tanpa menjawab Mitsuki, Yagura berjalan kearah meja dosen. Membongkar lacinya berharap menemukan sesuatu yang bisa dia pakai untuk membawa gadis pirang itu berteleportasi tanpa harus tangan keduanya bersentuhan.

"Kau sedang mencari apa?"

"Kertas, buku atau apapun itu untuk kita teleportasi tapi tidak bersentuhan langsung." Mendengar itu muka Mitsuki kembali berbinar, setidaknya dia tidak perlu khawatir akan bersentuhan dengan pemuda yang bukan suaminya. Bagaimanapun dia sudah berusaha keras dari dulu tidak pernah bersentuhan dengan laki-laki, walau itu gurunya sendiri. Memang aneh untuk gadis Jepang seumurannya karena dia tidak pernah kencan sekalipun, tapi itu sudah menjadi prinsip hidupnya. Dan dia senang dengan prinsipnya itu, bukankah berarti dia menjaga dirinya hanya untuk suaminya kelak.

"Ada tidak?" Mitsuki bertanya. "Tidak ada satupun kertas disini, aku lupa tidak membawa sapu tangan atau tissue."

Mendengar itu Mitsuki jadi ingat kemarin dia membawa sapu tangan biru milik Misora yang rencananya akan ia kembalikan hari ini. Semoga saja dia tidak lupa membawanya ditas gendongnya. Dengan cepat perempuan cantik itu memeriksa tasnya, dan dia bisa bernafas lega karena ternyata sapu tangan itu tersimpan rapi disaku tasnya. Akhirnya dia bisa keluar.

Ingatkan dia untuk mengucapkan terima kasih pada Misora karena telah meninggalkan sapu tangan birunya itu ketika mereka sedang menginap untuk membahas naskah dan property yang akan ditampilkan untuk teater dirumah Mitsuki minggu lalu.

Mitsuki mengeluarkan sapu tangan Misora dari tasnya. "Kita bisa memakai ini kan?"

"Good job ! Kita akan sampai diaula tepat waktu." Yagura mengambil sapu tangan itu dari Mitsuki, meletakannya ditelapak tangan kirinya yang memiliki simbol teleportasi. "Kau hanya perlu meletakan tanganmu diatas sapu tangan, lalu pusatkan pikiran ditempat tujuan."
Tanpa ba bi bu lagi, Mitsuki langsung mengikuti intruksi Yagura. "Kau siap?" Mitsuki mengangguk, Yagura melirik jam tangan hitam ditangan kanannya. Tersisa 2 menit lagi.

Yagura mulai memusatkan pikirannya untuk membuka ruang yang akan ia tuju, namun sebelum seluruh pikirannya terpusat diaula. Dia menyempatkan diri untuk melirik gadis yang tengah berkonsentrasi disampingnya. Yagura tersenyum cerah melihat mata indah yang terpejam dibalik kacamata bening itu. Dengan hati-hati dia mencondongkan wajahnya dan berbisik ditelingan kanan perempuan pirang itu.

"Tsuki, kau manis jika sedang panik." Mitsuki tersentak dengan wajah yang memerah. Belum sempat ia protes.

Wushhh. Keduanya menghilang, seolah angin menghapus kedua tubuh orang dengan beda ekspresi itu tanpa bekas, kecuali hanya menyisakan kesunyian diruang kelas yang mereka tinggalkan.

***

“We'll wait and see
A few days more
There something in him that i simply didn't see..”
.
.
"Tsuki.. Mitsuki!" Misora menepuk pundak sahabatnya itu pelan ketika lagi-lagi ia menemukan gadis bersurai pirang itu melamun saat ia sedang berbicara.

"Ah, iya ada apa Sora?" Jawab Mitsuki gelagapan, mencoba menyembunyikan rasa terkejutnya karena fokusnya yang ada ditempat lain. Misora memutar matanya malas.

"Kau ini kenapa sih? Sejak seminggu ini terus melamun?" Misora menyelidik. Bisa ia ingat begitu banyak ketidak beresan perempuan itu selama seminggu ini. Dari mulai tidak fokus pada saat pembelajaran, kecerobohan yang jarang ia lakukan karena sifat perfeksionisnya, bahkan tak jarang Misora mendapati sahabatnya itu termenung saat dikeramaian ataupun saat sedang berbicara dengan dirinya seperti barusan. Misora heran karena itu bukan kebiasaan seorang Mitsuki.

Karena meski dingin tapi Mitsuki adalah gadis yang baik dan juga menyenangkan jika sudah dekat dengannya seperti Misora. Dan Misora sangat tahu akan diri Mitsuki, ditambah Misora termasuk orang yang perasa, tidak heran jika Misora tahu ada yang tidak beres ketika sahabatnya itu sedikit berubah.

"Aku baik-baik saja, Sora." Jawabnya pelan, ia alihkan tatapannya agar tak bertemu dengan netra biru gelap milik sahabatnya itu. Namun sikap Mitsuki yang seperti itu malah menguatkan keyakinan Misora.

Misora beralih duduk didepan Mitsuki, dia kunci iris jingga milik Mitsuki agar tak mengalihkan pandangannya lagi ketika ia berbicara. "Dengar, kau mungkin bisa membohongi banyak orang dengan sikap dinginmu agar terlihat baik-baik saja seperti yang kau katakan. Tapi tidak denganku, aku memang bukan sahabatmu sejak kecil ataupun keluarga yang tahu keseharianmu. Tapi aku tahu ketika kau tidak baik-baik saja, aku tahu ada yang kau pendam sendiri dalam hatimu. Kau harus tahu, kau mudah ditebak oleh orang terdekatmu."

Mitsuki meremas ujung seragamnya, ia benar-benar dilema untuk mengatakan apa yang mengganggunya selama ini kepada Misora atau tidak.

"Tsuki.." Mitsuki kembali menatap manik Misora. Gadis itu tersenyum pelan, seolah memberi kekuatan untuk dirinya yang tengah kebingungan.

"Kau bisa meluapkan semua yang membebani pikiranmu, meski aku juga tidak tahu bisa membantumu atau tidak, setidaknya kau tak harus memikul itu sendirian. Berbagilah kepadaku sebagai seorang saudara, karena kau pun telah berulang kali ikut meringankan bebanku."

Mitsuki merenungkan ucapan Misora, ia bisa sangat terbuka kepada orang terdekatnya tentang berbagai hal, tapi masalah ini ia tidak yakin bisa terbuka begitu saja. Mitsuki tidak pernah merasakan ini sebelumnya, ia hanya takut salah langkah dan mendapat realita yang tidak sesuai dengan ekspentasinya karena ia juga tidak yakin dengan apa yang ia rasakan. Tapi disisi lain, dia butuh tempat untuk meluapkan semua emosi yang ia tahan selama ini, ada satu hal yang begitu ia benci dari semua ini. Dia menyukai seorang Yagura Kogarashi, pemuda menyebalkan berambut merah yang selalu berselisih dengannya.

Mitsuki juga tidak tahu kapan pastinya dia mulai merasakan ini, tapi yang ia ingat dia mulai memperhatikannya sejak empat bulan yang lalu. Lebih tepatnya, sejak mereka berteleportasi bersama.

"Hei Tsuki, apa kau sakit? Wajahmu memerah." Lihat, hanya ingat hal seperti itu pun dia langsung salah tingkah.

"Atau karena pertanyaanku ya? Tidak apa-apa jika kau tidak mau membicarakannya, daripada kau sakit seperti ini dan membuatku khawatir, atau kita pergi ke ruang kesehatan saja? Nanti akan ku antarkan kau pul..." ucapan Misora terhenti karena Mitsuki menyumpal mulutnya dengan kue beras yang ada ditangan gadis pirang itu. Misora jika sudah dalam mode cerewet sangat mengesalkan, membuat kepala Mitsuki mau pecah rasanya karena ucapan tiada berujung dari Misora.

Sedang Misora merenggut sambil tetap mengunyah kue beras yang dijejalkan Mitsuki padanya. "Aku kan hanya bertanya, kenapa kau malah menyumpali mulutku, Tsuki."

"Habiskan dulu makananmu." Ucap Mitsuki karena suara gadis berambut pendek itu tak terdengar jelas karena mulutnya penuh dengan makanan. "Lagipula bisa tidak jika bertanya tidak sepanjang kereta? Dasar cerewet."

"Dasar dingin, es batu, es kutub.." Misora membalas ucapan Mitsuki, sedang gadis yang diledek hanya menggedikkan bahunya acuh sambil sesekali memakan kue berasnya.

"Hei, Sora.."

"Sora.."

"Misora.."

"Yak! Misora Momiji jawab aku." Misora hanya melirik sekilas sambil bergumam. "Ku kira aku harus diam karena cerewet."

Mitsuki memutar matanya malas, oh temannya itu sedang merajuk ternyata. "Ya tadinya aku mau bercerita tentang kegundahanku, tapi sepertinya tak tertarik ya? Yasudah.."

"Aku tertarik tentu saja, ceritakan.. ceritakan." Dan lagi Mitsuki merotasi matanya malas, kan sifat cerewetnya kembali lagi, dasar Misora.

"Mungkin aku menyukai seseorang.."

"Jangan bilang itu Yagura?" Mitsuki merasakan tubuhnya kaku ketika Misora mengatakan itu. Matanya membola saking terkejutnya, kenapa permpuan itu tahu perasaannya? Seingatnya Misora tidak memiliki kemampuan untuk membaca pikiran.

Mitsuki merengut ketika ada sesuatu yang dingin yang menempel didahinya. "Apapun yang kau pikirkan semoga tidak membakar otakmu, Tsuki."

"Apa yang kau lakukan dengan dahiku, Sora." Mitsuki berdecak sebal karena Misora menempelkan partikel air yang membentuk plester didahinya, memang gadis itu pikir Mitsuki sedang demam.

"Aku tahu kau sedang memikirkan Yagura, kau tahu kan ketika perempuan memikirkan seseorang daya pikirnya akan berpacu cepat dan membuat otaknya panas, aku hanya mendinginkannya."

"Teori macam apa itu?"

"Hei wajahmu saja sangat merah melebihi kepiting rebus, tahu!"

"Misora serius, lepaskan plester water ini dari dahiku atau aku tidak akan menceritakan apapun lagi." Misora menggerutu tapi menuruti perintah Mitsuki, daripada dia tidak tahu tentang cerita sahabatnya itu kan? Dia kan pendukung nomor satu supaya Mitsuki jatuh cinta.

"Jadi bagaimana bisa kau jatuh cinta pada lelaki menyebalkan berambut merah bernama Yagura Kogarashi yang selalu menyebutmu bodoh?" Mitsuki lagi-lagi merotasi matanya, kenapa sahabatnya harus sedetail itu sih? Dia kan jadi.. ah sudahlah.

"Kau mau aku sumpali lagi dengan kue beras ya?"

"Aku berbicara fakta. Sekarang jelaskan sejelas-jelasnya." Itu kata perintah dari Misora dan Mitsuki tidak terlalu suka kata perintah dari siapapun. Jadi perempuan itu menjawab dengan sangat menyebalkan menurut Misora.

"Jelaskan apa? Aku tidak ingat."Setelah mengatakan itu Mitsuki bangkit dari duduknya karena bel tanda istirahat sudah berakhir tanpa mempedulikan wajah sahabatnya yang tergagu karena ditinggalkan begitu saja. Dasar es kutub yang selalu seenaknya. Umpatnya dalam hati.

"Yak ! Mitsuki Kirei, katakan dulu ceritamu." Misora berlari menyusul sahabat dinginnya itu menuju kelas untuk mulai belajar lagi dan ah ya jangan lupakan untuk menginterogasi gadis pirang itu habis-habisan tentu saja.


***


“Who'd have ever thought that this could be?
There maybe something there that wasn't there before..”
.
.
Mitsuki berjalan pelan menuju meja yang berada dipojok ruangan. Ia dapat melihat pria berkemeja abu-abu yang bagian lengannya dilipat hingga sikut, benar-benar gaya andalannya sekali. Pria itu tidak melihat kearahnya, lebih memilih fokus dengan laptop dihadapannya dan juga headset putih yang menggantung indah dikedua telinganya. Hingga dia tidak sadar jika perempuan yang ditunggunya sejak tadi telah berdiri diseberang meja coklat yang ditempati olehnya.

Brak. Yagura langsung mendongkang, melihat siapa yang dengan seenaknya menggebrak meja yang ditempatinya. "Kau tidak perlu memukul meja supaya aku melihatmu." Yagura melepaskan headset putihnya dan menggulungnya sebelum kemudian menyimpan headset itu kedalam tasnya yang ada dikursi sebelahnya.

Sedang Mitsuki yang mendengar ucapan Yagura tergagu, belum apa-apa sudah salting. Rutuknya dalam hati.

"Kau terlalu percaya diri Kogarashi ! Aku memukul meja karena kau tidak menanggapi panggilanku sejak tadi, tahu!" Yagura memincingkan netra karamelnya. "Setahu ku kau belum bilang apa-apa. Yasudah, mana tugas yang ku minta?" Mitsuki berdecak sebal.

"Kau tidak pernah diajarkan kata tolong ya? Bisanya memerintah saja." Mitsuki menyodorkan flashdrive hitam dengan gantungan teddy berwarna oranya. "Kau seperti anak kecil ya." Komentar Yagura saat dia melihat boneka teddy lucu itu-menurut Mitsuki-. Kemudian menyambungkannya dengan laptop hitamnya dan menyalin data yang ia perlukan dari sana.

Mitsuki tidak menanggapi ucapan Yagura. Dia masih memikirkan bagaimana cara untuk mengawali pembicaraannya-setelah semalaman mempertimbangkan perkataan Misora saat itu- untuk menyampaikan perasaan. Yagura menatap heran gadis dengan balutan sweater berwarna biru serta hiasan pita kecil yang menjepit poninya, membuat wajah bulat itu terlihat manis dan dewasa secara bersamaan kerena kacamata pink yang membingkai netra jingganya. "Hey Tsuki, kau tahu tidak?"

Mitsuki menoleh. "Apa?"

"Tadi aku malu sekali." Mitsuki memandang heran Yagura. "Orang tidak bisa diam sepertimu bisa malu?"

"Aku juga manusia jika kau lupa." Yagura berdecak kesal. Mitsuki terkekeh. "Memangnya kau malu kenapa?"

"Kau tahu kan Inari Shiina?"

"Memang dia kenapa? Apa dia pingsan karena melihat wajahmu yang seperti monster itu?" Yagura merotasi matanya malas karena Mitsuki selalu memotong ceritanya. "Justru karena wajahku ini dia menyatakan jika dia suka padaku, apalagi dihadapan semua kakak tingkat kita.."

"Biasa saja tuh, ku kira apa." Potong Mitsuki cepat. Hatinya langsung terbakar mendengar cerita pemuda itu. Sungguh rasanya dia ingin mencabik-cabik perempuan yang berani-beraninya meminta Yagura menjadi kekasih. Yagura kan hanya akan menjadi masa depannya. Dan tidak boleh ada satupun yang berani meminta dia jadi kekasih apalagi suami kecuali dirinya.

"Kau kenapa selalu memotong ucapanku terus sih?" Yagura menyeruput coklat panasnya. Mitsuki menggedikan bahunya sebagai jawaban.

Yagura fokus kembali ke layar laptopnya yang baru menyalin 50 persen data dari flashdrive Mitsuki. Dia sebenarnya sedang bingung untuk memulai obrolannya dari mana, semua yang akan dia katakan seakan hilang begitu saja ketika gadis pirang itu datang.

"Hey, Yagura." Yagura menatap Mitsuki dengan sebelas alisnya yang terangkat, seolah berkata ada apa.

"Sebenarnya apa yang ingin kau bicarakan padaku?"

Yagura terdiam, mata karamelnya bergerak gelisah. Demi apapun selama ia hidup belum pernah segugup dan sebingung ini.

"Aku ingin bertanya sesuatu padamu."

"Apa?" Mitsuki merasa jantungnya berdebar kencang, entahlah, seperti ada sesuatu yang ia takutkan terjadi.

Yagura menarik nafasnya pelan. "Misora selalu menceritakan tentang diriku kan?"

Mitsuki mengerjap, mencoba memahami ucapan lawan bicaranya. Menceritakan apa yang Yagura maksud hingga tatapannya segugup itu. Pikir Mitsuki. Dan sedetik kemudian dia bisa mengartikan perkataan Yagura.

Memang selama beberpa bulan ini Misora selalu memberitahukan segala berita atau apapun itu yang menyangkut Yagura pada Mitsuki, bahkan kenyataan perempuan yang pemuda berambut merah sukai itupun Mitsuki tahu dari Misora.

"Tidak." Jawab Mitsuki cepat, bisa gawat jika Yagura tahu Misora sudah banyak membeberkan apapun mengenai pemuda itu padanya. Dia tidak mau sahabatnya itu mendapat masalah apapun.

"Kau berbohong." Yagura memincingkan matanya tajam. Mitsuki mengalihkan pandangannya asal tidak menatap netra karamel Yagura.

"Apa untungnya aku berbohong? Lagipula memang apa yang akan Sora ceritakan tentang dirimu pada ku?" Yagura menghela nafas, sungguh suaranya seakan tercekat ditenggorokan untuk mengatakan ini semua.

"Tentang aku yang menyukaimu."

Mata beriris jingga milik Mitsuki membola mendengar cicitan Yagura. Ok, dia memang tahu jika dia adalah perempuan yang pemuda bersurai merah itu sukai tapi Mitsuki tidak menyangka pemuda itu akan mengatakannya secara gamblang sekarang. Dia pikir harus dia yang mengatakan atau sekedar memancing pemuda itu untuk mengatakannya terlebih dahulu.

"Apa kau bilang?" Yagura memutar matanya malas. Ayolah untuk mengatakan serentet kalimat tadi saja rasanya dia ingin mati karena malu. Dia tidak pernah menyatakan rasa suka pada siapapun karena dia hanya mendapat pernyataan suka dari para gadis selama 20 tahun hidupnya ini.

"Ku bilang aku menyukaimu, Mitsuki Kirei."

"Kau serius?" Itu adalah pertanyaan bodoh yang pernah Mitsuki ucapkan, karena sebenarnya dia sudah sangat tahu atas kenyataan yang baru saja Yagura ungkapkan.

"Dibagian mana aku tidak serius nona Kirei?" Yagura mengendus sebal. Kesal juga lama-lama karena perempuan didepannya pura-pura tidak tahu. Padahal dia juga tahu pasti teman si pirang itu sudah mengatakan semua yang Yagura rasakan pada dirinya.

"Aku yang lebih dulu."

Yagura menatap heran Mitsuki. "Apa maksudmu?"

"Aku yang lebih dulu menyukaimu." Giliran Yagura yang membolakan netra karamelnya. Ada sesuatu yang membuncah dalam hatinya ketika mendengar suara lirih gadis didepannya itu. Jika memang ini mimpi, Yagura berharap tidak ada yang pernah membangunkannya.

Setelah mengatakan itu Mitsuki meraih tasnya yang tergeletak dimeja dan beranjak dari kelas itu. Akhirnya dia mengatakan juga apa yang membuatnya resah selama ini. Tapi sungguh, dia belum siap untuk melihat atau menebak reaksi dan tindakan apa yang akan dilakukan Yagura. Jujur saja, dia masih bimbang dan ragu apakah ini sudah tepat. Mitsuki hanya takut patah hati pada akhirnya, ia takut ketika telah terlibat hubungan dengan Yagura, perlahan pemuda itu merasa bosan. Apalagi ia masih sadar mereka masih mahasiswa, masih jauh untuk menapaki jenjang yang lebih serius.

Karena terus menunduk dan larut dalam pikirannya, gadis itu tidak memperhatikan jalan dilorong kampus itu. Tanpa sengaja bahunya menabrak lengan seseorang, membuat minuman yang dibawa orang itu tumpah mengotori bajunya. Pria berwajah garang yang terkena tumpahan minuman itu menatap tajam ke arah Mitsuki. "Maaf aku tidak sengaja."

"Tidak sengaja kau bilang? Lihat bajuku kotor karena ulah cerobohmu."

"Aku minta maaf, minuman mu akan aku ganti."

"Kau mau mengganti minumanku? Ku rasa aku tidak memerlukannya." Pria itu maju merapatkan dirinya pada Mitsuki, gadis itu mundur perlahan hingga punggungnya membentur tembok.

Srett. Pria itu mencengkram bahu sempit Mitsuki. "Kau cantik juga, ku kira aku lebih berminat padamu daripada ganti minuman ku." Senyuman sinis tercetak jelas dibibir pria itu. Tubuh gadis itu gemetar, tidak ada satu pun orang disana. Apalagi mengingat ini sudah sore menjelang malam, keadaan kampus pasti akan sangat sepi. Tangan kasar pria itu hampir saja menyentuh pipi Mitsuki jika saja tubuhnya tidak kaku. Tunggu.. Mitsuki mengerjapkan matanya.

"Mau sampai kapan kau dalam posisi seperti itu?" Mitsuki langsung melepaskan diri. Menatap sekeliling yang diam tak bergerak, waktu seakan terhenti. Mitsuki membulatkan matanya ketika menyadari sesuatu. Netranya menatap Yagura kaget. "Apa kau double elementer?"

"Aku manusia." Mitsuki berdecak sebal. "Serius Kogarashi !"

"Kenapa kau berpikir jika aku double elementer?"

"Kau bisa telekinesis saat kita pertama bertemu, lalu kau juga pernah membawaku teleportasi saat festival dan sekarang kau memberhentikan waktu.."

Waktu kembali berputar, pria garang tadi mendekati mereka. Mitsuki yang melihat itu beringsut berdiri dibelakang Yagura. "Maaf aku ingin mengambil tas ku yang ada dikursi belakang kekasihmu." Yagura melirik kursi panjang yang menghiasi lorong dibelakang Mitsuki kemudian mengambil tas putih yang tergeletak lalu memberikannya kepada pemuda tadi. "Terima kasih, oh ya kekasihmu cantik."

"Ya, dia calon istriku." Yagura menjawab cepat ketika pria itu mulai memperhatikan Mitsuki dengan mata lelaki keranjang, sedang gadis itu hanya menundukkan wajahnya yang memerah karena ucapan Yagura.

Yagura kembali berjalan menuju kelas yang mereka tempati tadi dengan Mitsuki yang membuntuti. "Yagura, kau belum menjawab ku."

"Ya, aku adalah double elementer, dengan time controller sebagai elemen gabungan." Yagura memberikan flashdrive teddy Mitsuki. "Dan lagi kenapa kau kabur setelah mengatakan perasaanmu?"

"Aku tidak kabur?"

"Lalu aku harus menyebutnya apa? Pergi tiba-tiba, begitu?" Pemuda itu membereskan laptopnya. Yagura menyampirkan tas gendongnya dibahu kanannya, dia tersenyum sebelum melangkah pergi.

"Oh iya Tsuki..." Yagura menghentikan langkahnya dan menatap Mitsuki yang berbalik.

"Apa kau ada acara nanti malam?"

"Tidak, memang kenapa?"

"Aku akan kerumahmu."

"Untuk apa?"

"Melamar mungkin."

"Dan ini serius.." lanjut Yagura ketika Mitsuki akan bersuara.

"Yagura..."

"Cepat pulang dan dandan secantik mungkin." Yagura tersenyum kecil melihat semburat merah muda diwajah gadis pirang itu. "Sampai bertemu nanti, calon istriku." Lalu menghilang setelahnya.

"Calon istri..." Mitsuki masih mencerna perkataan pemuda yang sukses mendebarkan hatinya.

"Tapi kita masih kuliah KOGARASHI.."

Yagura terkekeh mendengar teriakan menggelar diparkiran kampus. Sambil menggenggam mawar kering yang dulu pernah tersengat listrik dari pagar listrik dikampusnya. Bunga yang menjadi saksi pertemuannya dengan gadis dingin yang sejak pertama telah mencuri perhatiannya. Dan telah menumbuhkan cinta dalam hatinya untuk pertama kalinya.

Senja disore itu menjadi saksi atas bersatunya dua hati yang saling memegang ego selama ini. Dengan kisah yang menggelitik disetiap pertemuannya. Kisah yang akan mereka bangun dan mereka perjuangkan sampai mereka bisa mencapai tujuannya. Mitsuki dan Yagura tersenyum bersama ditempat yang berbeda, keduanya lega dengan perasaan yang telah mereka luapkan satu sama lain.



-THE END-


if you want to know the sequel of this story, you can visit her blog:
 https://arevn.blogspot.com/?m=1


And this is a Trailer





Will you know about me ? Let's Check this out.










Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Spasi diantara waktu

Menikmati musim gugur dipulau Nami, menyaksikan ribuan daun-daun kemerahan gugur dari tangkainya, dan bersenda gurau diatas kain yang terge...