.
.
.
Aku berjalan perlahan memasuki gerbang sekolah yang masih terlihat sepi, menyusuri lorong-lorong yang akan menuntunku ke arah kelas. Hawa sejuk dari embun pagi masih terasa dari setiap tanaman yang aku lewati yang tergantung dipot-pot kecil. Bahkan para kupu-kupu dengan beragam warna menghampiri mereka seakan sedang merayu bunga-bunga yang mulai mekar itu. Bukankah itu terlihat sangat manis?
Aku melanjutkan langkahku yang tadi sempat terhenti, senyum ku tidak bisa aku hentikan. Rasanya melihat kupu-kupu dan bunga tadi membuatku iri. Cinta terlihat indah untuk mereka, karena masing-masing mempunyai daya tariknya sendiri. Saling mengerti jika mereka akan lebih dicintai jika bersama. Jika diibaratkan bunga sebagai lambang kesetiaan, menunggu hingga yang ia tunggu datang menemukan dan menghampirinya. Sedangkan kupu-kupu menggambarkan perjuangan, tidak menyerah sampai ia bisa menemukan dan mendapatkan kecantikan yang selama ini dicarinya. Ahh, cinta memang indah.
"Adiva !"
Suara berat itu sontak membuatku menghentikan langkah tepat didepan pintu kelas yang aku tuju. Jantungku terasa berdetak lebih cepat dari biasanya saat aku dengar langkah kaki orang itu mulai mendekat.
Aku mendekap erat buku yang sejak tadi ada ditanganku. Bisa aku rasakan tangan ku mulai mendingin, gugup seakan mengalir ke seluruh tubuhku.
" Adiva " panggilnya lagi dengan tangan menepuk pundak ku pelan. Aku menoleh untuk menunjukkan senyuman terbaik ku padanya.
Dia balas tersenyum ramah, mata bulatnya agak menyipit membuat kesan tampan bertambah pada wajahnya. Ditambah bibir berbentuk hati yang menampilkan barisan putih yang berjejer rapih didalamnya.
"Hei, kaktus kecil kemana saja kau ini menghilang tiba-tiba heuh?"
Aku terkekeh kecil mendengar panggilan itu, ya panggilan yang hanya dia yang menggunakannya.
"Kau merindukan ku ya?" Aku mengedipkan mata ku manja, menimpali candaan yang ia lontarkan sebelumnya.
Pemuda itu hanya tertawa kecil, mengacak pucuk kepalaku dengan tangan lembutnya.
"Percaya diri sekali ! Lagi pula aku rindu pada Dodo yang cantik bukan kau" Aku memanyunkan bibirku, membuat tawanya perlahan mengeras karena raut wajahku.
"Hei hei, aku hanya bercanda. Ya walaupun memang Dodo lebih cantik darimu.. Aww" ia meringis ketika aku mencubit pinggangnya.
"Dodo itu hanya boneka, Rey!" Aku memutar mataku malas.
"Ya boneka kaktus yang cantik, dan sangat mirip seperti mu" Aku menundukkan wajahku yang terasa panas. Sedikit kata manis dari pemuda dihadapan ku sudah membuat sesuatu yang ada dihatiku membuncah.
Pemuda tampan itu kembali tersenyum lembut, membuat ada desiran aneh dalam darahku. Pemuda yang telah lama menempati kedudukan tertinggi dihatiku. Pemuda yang telah menghadirkan sebuah rasa bernama cinta. Dengan pandangan tajam melalui matanya yang terkadang lembut. Rambut hitam kecoklatan yang alami, hidung mancung dan bibir berbentuk hati ketika menampilkan lengkungan senyumannya. Dia pemuda yang aku cintai. Dekat denganku tapi tak bisa aku-
"Rey!"
-Gapai.
"Karin"
Rey menghampiri gadis berambut pirang itu, memeluknya hangat dan memberi ciuman ringan didahinya. Seolah menjelaskan betapa ia menyayangi gadis dalam pelukannya itu.
Dan aku merasa nyeri yang secara perlahan menyebar dihatiku, membuat dadaku merasa sesak. Mataku terasa perih menyaksikan adegan cinta yang mereka tontonkan.
"Adiva, kenapa tidak memberitahu ku kau sudah pulang dari Bandung?" Karin menghambur merentangkan tangannya pada ku.
"Aku bosan jika harus mendengar rentetan pertanyaan dari mu, tahu!" Karin menatap ku tajam.
"Apa? Bukankah kau memang sangat berisik?" Aku menjulurkan lidahku, meledek Karin.
"Kau ini, dasar !! Sepupu kurang ajar" Wajah putihnya memerah menahan kesal, tangannya melayang dan akan mendarat didahiku jika saja tangan Rey tidak menahannya.
"Hei, sudahlah Karin yang penting Adiva tidak apa-apa kan?" Rey membuka kepalan tangan Karin, lalu menggenggamnya erat.
"Ya dia memang tidak apa-apa, tapi haruskah dia pergi tannpa kabar sedikitpun? Aku kan ingin bercerita banyak hal padanya" Rey tertawa kecil melihat Karin menggerutu tanpa henti, terkadang tangannya akan membenarkan poni pirang gadis disampingnya itu. Dan itu akan membuat sesak didadaku bertambah setiap detiknya. Bahkan aku mati-matian menahan embun yang siap meluncur dari kedua mataku.
"emm.. Sebenarnya Karin aku sudah tahu"
"Tahu tentang apa kau? Kau kan menghilang seperti ditelan bumi selama 2 minggu ini." Karin menyilangkan tangannya didepan dada.
"Haruskah aku umumkan bahwa Reynaldi dan Karin sudah resmi menjadi pasangan romantis yang selama ini diidam-idamkan oleh para penggemar kurang kerjaan mereka?" Aku menekankan suara ku agar terdengar ketus. Menutupi suara bergetar akibat menahan tangisku.
"Apa ? Kau kaget aku tahu darimana? Tanya saja si manusia es itu" Aku menunjuk Rey dengan dagu ku, angkuh.
"Rey!"
"Aku memberitahunya seminggu yang lalu" Rey berkata datar, entah menyadari atau tidak dibelakang Karin tiba-tiba merasa mencekam dengan tatapan membunuh yang terarah kepadanya.
"Kenapa kau harus memberitahu dia dulu Rey? Aku kan ingin membuat dia terkejut"
"Aku tidak akan terkejut dengan drama membosankan yang selalu kalian sajikan selama ini, Karin"
"Tapi..."
"Sudahlah, ayo Karin kelas akan mulai 7 menit lagi." Rey menarik tangan Karin yang sejak tadi digenggamnya. Gadis pirang itu masih terus berceloteh tidak terima. Pemuda bebadan tinggi itu menghentikan langkahnya, membisikan sesuatu pada gadis yang berstatus sebagai kekasihnya itu. Tak lama ia kembali berbalik kearahku dan melangkah dengan tergesa.
Mataku membola ketika Rey memelukku tiba-tiba. Pelukan hangatnya ini membuat ku ingin menangis, menumpahkan apa yang selama ini tidak pernah bisa aku jelaskan padanya dengan rangkaian kata. Kemudian pemuda bersurai hitam kecoklatan itu mencium keningku lembut. Hal yang hanya bisa aku temui dimimpi ku setiap malam. Sesuatu yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya.
"Rey.."
"Aku menyayangi mu" Aku tersentak mendengar ucapan yang lebih terdengar sebagai bisikan.
"Rey.."
"Sebagai adik ku"
Kata selanjutnya mampu membuatku membeku, air mata seakan berlomba ingin keluar dari kelopak mataku.
"Jadi jika kau ada masalah jangan ragu untuk bercerita, okay. Jangan menutup diri seperti 2 minggu kemarin, kaktus kecil" Rey mengacak rambutku dengan senyum ceria andalannya, mau tak mau aku ikut tersenyum. Senyum miris lebih tepatnya.
Lalu dia kembali mengandeng Karin, merangkul pundak sempit itu hangat. Saling tertawa dalam kebahagiaannya, berpandangan dengan penuh cinta. Posisi yang membuat aku cemburu. Hingga tanpa aku sadari setetes cairan bening mengalir dikedua pipiku. Seiring dengan memuncaknya sesak dalam dadaku.
Perasaan ini, sakit ini, yang telah 2 minggu ini aku coba hilangkan ternyata tidak bisa musnah begitu saja. Melihat senyumnya, tawa riangnya saja kembali membuat goresan luka itu kembali melebar.
Seharusnya memang perasaan ini tidak pernah hadir. Karena nyatanya tidak akan ada balasan sedikit pun, tidak akan ada celah sekecil apapun untuk ku. Aku hanya akan menjadi pecinta rahasia dibelakangnya. Menunjukkannya melewati angin yang berhembus membawa sejuk, mengungkapkan rindu melalui hamparan bintang dilangit malam, dan melampiaskan airmata dibawah guyuran hujan. Menyamarkan airmata yang telah lama menemani kisah yang tidak akan pernah terjadi ini.
Ya, aku hanya akan menatapnya dari belakang. Menjadi cinta dalam rahasia. Karena kedudukan yang tidak akan pernah bisa aku tandingi, posisi seorang pasangan-Karin- yang tidak akan pernah terlepas darinya. Tapi aku tidak pernah membenci semua yang ada pada dirinya karena aku telah jatuh terlalu dalam pada pesonanya. Aku tidak apa-apa, sungguh ! Asal dia bahagia, aku akan berusaha bahagia. Aku rela atas apa yang telah Tuhan gariskan, karena aku percaya akan ada pengobat disetiap luka dan akan ada pengganti disaat yang lain telah pergi. Meski terasa menyakitkan, namun aku yakin akan ada keindahan dibaliknya.
Sama seperti Kaktus kecil yang sering ia sebut. Meski berduri, ada bunga kecil yang menjadikan ia cantik tapi juga istimewa. Meski tidak seharum melati atau seindah mawar, Kaktus menjadi pelindung karena manfaatnya. Lambang dari Keikhlasan dan ketabahan, Meskipun keberadaannya tidak dihiraukan tapi dia tetap bertahan hingga akhirnya ia menjadi sesuatu yang sangat dicari oleh kupu-kupu terindah sekalipun.
Aku kembali mendekap buku yang sedari tadi tidak lepas dari genggaman ku. Mengusap perlahan permukaan belakang yang sebenarnya album foto itu. Buku yang menjadi saksi antara Kaktus kecil dan sang Kupu-kupu terindah. Potret lalu yang tidak akan pernah terjadi untuk kedua kalinya.
.
.
.
"Beranjaklah dari masalalu, karena akupun begitu. Kita berpisah bukan karena rasa yang pudar tapi memang bukan jalannya kita untuk bersama. Persamaan memang melekat pada kita, tapi jauh didalamnya perbedaan lebih menguasai kita satu sama lain. Dan aku pikir perpisahan memang menjadi pilihan yang tepat. Meski aku sampai detik ini masih menempatkan mu diseluruh ruang dihatiku."
-Reynaldi
*****************
Tidak ada komentar:
Posting Komentar