"Maaf, tapi aku tidak bisa mempertahankan ini lebih lama lagi. Aku ingin kita berakhir." Gadis itu mendongkang, melempar pandangannya pada lelaki yang baru saja mengucapkan kata yang membuat hatinya berdenyut sakit.
"Tapi kenapa?" Lelaki itu tidak menjawab, dia mendekati gadis mungil dengan balutan mantel abu-abu tua itu, memperpendek jarak yang tercipta beberapa menit yang lalu. Tangan hangatnya menggapai wajah cantik itu, mengusap bulir-bulir bening yang mengalir dipipinya yang mulai memerah entah karena cuaca yang semakin dingin ataupun karena emosi yang ada dalam hatinya.
Lelaki itu menghela nafasnya lelah, lalu tangan kokohnya merengkuh tubuh gadis mungil yang selama 3 tahun itu telah menemaninya, menghiasi harinya. Diusapnya rambut coklat yang menguarkan wangi mint itu, berusaha menenangkan tubuh kecil yang bergetar dalam pelukannya.
"Maafkan aku, sungguh aku benar-benar minta maaf." Bisik suara berat itu akhirnya terdengar ditelinga gadis itu.
"T-tapi.. Kenapa L-Luhan-ah?" Gadis itu terbata karena isakan yang terkadang lolos begitu saja dari mulutnya.
"Maaf aku benar-benar sudah tidak bisa."
Lelaki itu menciumi anak rambut gadis dalam kungkungan kedua tangannya, menenangkan dan menyatakan permintaan maafnya melalui sentuhan manis itu. Sungguh, sebenarnya ini berat untuknya. Tapi ini memang yang harus ia putuskan, dia hanya tidak mau membuat gadis itu semakin sakit hati nantinya.
Luhan melepas pelukannya ketika gadis bersurai coklat itu sudah tidak terisak. Luhan memandang sendu wajah kacau dihadapannya, menyeka lagi airmata yang mengalir tanpa henti dipipi putih itu. Tersenyum menguatkan meski sebenarnya itu malah membuat gadis didepannya semakin sulit untuk melepasnya.
"Jaga dirimu baik-baik, dan tolong jangan benci aku. Kita masih bisa menjadi teman seperti dulu." Luhan beranjak, melepaskan tautan pada tangan mungil yang selama ini selalu ia genggam hangat.
"Dan jika kau perlu bantuan apapun, kau bisa menghubungiku. Sampai jumpa." Luhan mencium kening gadis itu sekilas, kemudian kaki jenjangnya melangkah meninggalkan tempat itu. Meninggalkan gadis cantik itu sendiri, membiarkan kenangan akan dirinya menyiksa mantan gadisnya itu.
"Aku hanya butuh kau, Luhan.." Ucap gadis itu lirih, airmata kembali menggenangi sudut mata sipitnya.
*****************
It's Not Fine
Cast : Kim Taeyeon, Lu Han, and Others.
Genre : Drama, Romance
Rated : T
Author : Aisy Kim
¤ Happy Reading ^_^ ¤
Hari ini matahari memberikan senyuman cerahnya pada bumi, membuat seluruh umat manusia melakukan kegiatannya dengan tekun, tidak perlu menggurutu seperti saat hujan yang menyapa mereka. Hiruk piruk kota juga sudah berjalan sejak pagi mulai menyongsong, mengawali hari dengan semangatnya. Dengan latar kesibukan yang ada disana-sini, membuat hari senin menjadi hari yang paling merepotkan. Tapi tidak sedikitpun mengusik para manusia yang menjalankan perannya itu mengeluh, meski terkadang sedikit gerutuan juga tidak terhindar dari bibir mereka.
Berbeda dengan keadaan bumi yang sibuk dan keadaan langit yang begitu ceria, justru gadis mungil bermata sipit dengan surai coklat itu terlihat murung. Mata kecil berbentuk bulan sabit jika tersenyum itu memancarkan kesedihan yang kentara. Seolah berkata jika yang kini ia rasakan adalah hal paling menyakitkan yang sulit ia terima dan hilangkan begitu saja.
Gadis mungil itu menggenggam satu gembok berwarna biru yang terpasang indah dipagar menara tinggi yang lebih orang kenal dengan Namsan Tower itu. Meneliti tulisan yang tergurat rapi disana, bibir tipisnya menyunggingkan senyuman miris ketika pupil hitamnya menangkap kata yang dulu selalu membuatnya tersenyum namum membuatnya sesak kini.
Digembok biru itu tertera janjinya, sebuah ucapan yang bahkan tidak ia tepati kini. Janji yang telah ia langgar dan ia tinggalkan begitu saja. Kata-kata yang mungkin sekarang sudah ia lupakan. Gadis itu tersenyum kecut. Genggaman pada gembok itu semakin mengencang, merasakan setiap sudut yang terasa menusuk tangannya, dan setiap kata yang menusuk hatinya.
Setetes airmata mengalir dipipi putihnya, kenangan itu berputar lagi dalam ingatannya. Kilas balik yang memaksanya untuk kembali pada masa dimana dia berdiri ditempat yang sama didampingi dengan pria tampan bermata indah bagai rusa yang merangkul pundaknya hangat. Membuat tubuh mungilnya rapat dengan tubuh tegap disampingnya.
"Kau menuliskan apa Luhan-ah?" Gadis mungil berseragam sekolah menengah itu bertanya pada pemuda. Jari lentiknya tengah mencakupkan gembok berwarna merah muda ke pagar menara.
"Entahlah." Pemuda itu menjawab acuh.
"Luhan ayolah, tadi kau melihat punyaku, ingat? Sekarang aku minta ganti ruginya." Luhan hanya memutar bosan matanya. Kemudian kaki jangkungnya melangkah ke arah berbeda, meninggalkan gadis mungil yang mengikuti langkahnya dengan gerutuan-gerutuan kecil.
"Aww.." Luhan menoleh, matanya melebar ketika melihat lutut gadis bertubuh kecil itu berdarah. Dengan langkah cepat Luhan menghampiri gadis itu.
"Dasar ceroboh ! Kenapa bisa sampai terjatuh?"Gadis itu merengut mendengar hardikan Luhan.
"Aku menyamai langkahmu yang lebar itu bodoh ! Lagi pula kenapa kau berjalan cepat sekali sih ? Memangnya kau mau kemana?"
Luhan tidak menjawab, lelaki tampan itu malah menggendong gadis dihadapannya dengan gaya bridal. Lalu melangkahkan kakinya lagi menuju sebuah kursi yang tidak jauh dari sana. Luhan mendudukan gadisnya dikursi itu, kemudian dengan cekatan tangannya membersihkan darah dilutut gadis bername tag 'Kim Taeyeon' itu, menempelkan plester bergambar hati setelahnya.
Luhan bangkit, menarik tangan gadis itu lembut. Lelaki yang sering dijuluki rusa kecil karena mata indahnya itu berjalan pelan. Takut perempuan disampingnya ini kenapa-kenapa lagi, bahkan tangan kokohnya itu merangkul tubuh kecil yang selama ini mengisi kesehariannya, gadis cantiknya.
Mereka berhenti dikumpulan gembok dekat jalan keluar dari Namsan Tower, Taeyeon mengerutkan dahinya memandang lelaki disampingnya heran.
"Kenapa berhenti Luhan-ah?" Luhan hanya menunjuk satu gembok kecil berwarna biru yang terpasang indah diantara warna-warni cerah gembok lain.
"Bukannya kau mau melihat punyaku?"
Taeyeon mendekati gembok kecil itu, meraihnya dan menatap tulisan disana. Dan sedetik berikutnya, senyuman tersungging manis diwajah cantiknya.
'Selalu menjaga dan melindungi peri cantikku, dan selalu disampingnya setiap saat. Pangeran tampanmu, Luhan.'
"Kenapa tersenyum sendiri? Seperti orang gila saja." Luhan berdiri disamping Taeyeon, meraih bahu sempit itu agar mendekat kearah tubuhnya, berbagi kehangatan dimalam yang mulai dingin.
Taeyeon menoleh ke arah Luhan, mengerucutkan bibir tipisnya lucu. Lalu jari lentiknya mencubit pinggang pemuda tampan itu. "Hey, kenapa kau malah mencubitku, Kimmie-ya?"
"Aku tidak gila, bodoh. Dan berhenti memanggilku dengan nama peri yang ada dalam komik kesukaanmu itu." Luhan hanya terkekeh. Begitu menikmati sikap merajuk gadisnya itu.
"Berhenti mengumpat dear, lagipula nama itu cocok untuk wajah cantikmu yang melebihi peri manapun." Taeyeon menundukan wajahnya yang mulai merona, sedang Luhan tertawa renyah dan membawa tubuh kecil itu kedalam pelukannya.
Taeyeon tersentak ketika ada tubuh yang menyenggolnya, membuat pandangannya beralih pada seorang remaja putri yang kini tengah membungkuk.
"M-maaf aku tidak sengaja." Cicitnya takut, sedangkan kedua teman gadis itu juga melakukan hal yang sama. Taeyeon tersenyum, perempuan bermarga Kim itu menyentuh bahu remaja didepannya pelan.
"Tidak apa-apa, aku memaafkanmu." Ketiga gadis berseragam sekolah menengah itu tersenyum berterima kasih dan pergi setelah menyampaikan salam perpisahan pada Taeyeon.
Perempuan itu kembali menggapai gembok biru tadi, mengarahkan kunci kecil kearah lubangnya. Melepaskan kuncian benda kecil itu pada pagar pembatas menara itu selama 6 tahun ini. Dan dengan dorongan rasa sakit dalam hatinya, tangan putih itu melemparkan gembok beserta kuncinya entah kemana, yang penting dia tidak bisa menemukannya lagi.
Dan dalam legenda jika gembok yang telah terkunci disana dibuka, maka janji yang ada didalamnya telah diingkari. Tapi bukankah memang janji manis itu telah dikhianati oleh pemilik gembok biru kecil itu? Taeyeon hanya melepaskan janji yang akan membebani pria itu jika dia melihat kata-kata itu masih tercantum disini bukan?
Taeyeon berbalik meninggalkan tempat dengan ribuan harapan didalamnya, ribuan kata dengan janji terikat disana. Tempat terakhir yang menjadikannya tidak mempercayai sebuah janji lagi, karena seorang pemuda bermata rusa yang telah mengkhianati janjinya, meninggalkan kepercayaan yang telah ia berikan begitu saja. Dan Taeyeon tidak pernah mau lagi menerima manisnya ucapan yang hanya bersifat sementara. Dia tidak memerlukan perkataan dia hanya membutuhkan kepastian, bukti dari seseorang yang telah ia anggap penting dalam hatinya.
.
"Kimmie-ya." Panggilan lembut itu tak mendapat tanggapan.
"Darl"
"Kim Taeyeon!" Luhan mencekal tangan gadis didepannya, menghentikan langkah gadis yang sejak tadi tak menghiraukan panggilannya.
"Hm." Taeyeon hanya bergumam, membuat tatapan kesal tampak dimata bagai rusa itu. "Hei ada apa denganmu?" Luhan menangkup pipi Taeyeon dengan tangan kirinya, sedang tangan kanannya mulai melepas cekalannya ditangan Taeyeon dan menggantinya dengan genggaman hangat.
"Aku tidak apa-apa." Taeyeon menepis tangan lelaki tampan itu dipipinya. "Jangan berbohong Kimmie, lalu kenapa kau menghindariku terus?" Luhan menyelami tatapannya pada manik hitam gadis manisnya itu, mencari sebab apa yang membuatnya resah sejak tadi karena Taeyeon terus menjauh darinya.
Taeyeon memutar matanya malas. "Bukankah seharusnya aku yang bertanya seperti itu?"
Luhan mengangkat sebelah alisnya tidak mengerti, kenapa gadisnya itu malah membalikkan pertanyaan yang dilontarkannya tadi. "Apa maksudmu, dear?" Taeyeon hanya mengangkat bahunya acuh, melepas genggaman Luhan lalu berjalan mendahului pemuda itu.
Luhan menggertakkan giginya karena kesal, pemuda itu paling tidak suka diacuhkan dan juga diabaikan atas semua pertanyaan yang diucapkannya. Luhan menyamai langkah Taeyeon, menahan tangan kecil itu lebih erat dari sebelumnya, sehingga gadisnya meringis pelan. Luhan menyeretnya kearah taman yang ada dipersimpangan depan yang akan mereka lewati, menghempaskan tubuh kecil Taeyeon ke kursi besi berwarna putih disamping sebuah pohon yang berdiri kokoh.
"Katakan dengan jelas Taeyeon-ah!" Nada Luhan berubah menjadi lebih berat dari sebelumnya, dan Taeyeon sangat tahu jika Luhan saat ini tengah menahan emosi.
"Jawab aku Kim Taeyeon!" Taeyeon berjengit kaget ketika Luhan meninggikan suaranya, kemarahan begitu terasa dari setiap katanya. Taeyeon hanya menundukkan wajahnya, sungguh dia paling tidak suka ketika Luhan seperti ini.
Dan kenapa sekarang dia yang mendapat amukan Luhan? Bukankah harusnya dia yang marah kepada Luhan? Bukankah Luhan yang telah menyakitinya?
"Kim Taeyeon, bicara padaku!" Luhan menarik dagu Taeyeon agar gadis itu menatap langsung kearah matanya, berbicara dengan setiap penekanan didalamnya seolah itu adalah perintah yang mutlak dan tak bisa ditolak.
"Memang apa yang harus aku katakan padamu?" Suara lembut itu sedikit bergetar, membuat cengkraman Luhan pada dagu Taeyeon mengendur, hatinya meluluh secara perlahan.
"Kenapa kau menghindariku selama disekolah beberapa hari ini?"
"Bukankah aku yang harus bertanya itu padamu?" Luhan kembali menggeram.
"Jangan membalikkan pertanyaanku Kim Taeyeon!" Suara Luhan kembali meninggi, membuat Taeyeon kembali berjengit. Taeyeon lelah, sungguh ia ingin menangis sekarang. Bukan hanya karena bentakan yang ia dapatkan barusan tapi juga sakit yang disebabkan oleh pemuda disampingnya ini.
"Memangnya apa yang aku balikkan Lu Han? Aku mengatakan yang sebenarnya." Taeyeon membalas tatapan menusuk Luhan, meski dalam hatinya sudah ingin menangis.
"Bukannya kau sendiri yang menjauhiku, tidak membalas pesanku, tidak menggubris semua sapaanku, bahkan hanya mailbox yang menjawab setiap panggilanku." Luhan terdiam ketika suara Taeyeon terdengar lebih bergetar dari sebelumnya, bahkan ia bisa melihat cairan bening disudut mata sipit itu.
"Bukannya kau sendiri yang melupakan aku? Kau hanya sibuk dengan semua urusanmu, dengan segala lomba rumit yang merampas waktumu untukku." Pertahanan Taeyeon runtuh, tatapan tajamnya telah berganti menjadi tatapan yang begitu menyakitkan bagi Luhan. Membuat laki-laki itu menarik Taeyeon dalam pelukannya.
"Dan semua waktumu hanya tersisa untuk dia?" Lanjut Taeyeon ditengah isakkannya. Luhan mengerutkan dahinya tidak mengerti."Dia siapa?"
"Kim Yoojung." Luhan yang mulai mengertipun tersenyum simpul. Dilepaskannya dekapan pada gadis itu.
"Jadi kau cemburu?" Taeyeon membuang muka, melepaskan kontak mata dengan kekasihnya itu. "Tapi kau tahukan jika dia yang menjadi perwakilan sekolah untuk lomba sains denganku?" Taeyeon mengangguk.
"Lalu kenapa kau cemburu?" Taeyeon menepis tangan Luhan yang akan meraih pipi putihnya.
"Siapa yang tidak cemburu jika kekasihmu malah mencium patner lombanya didepan matanya sendiri!" Taeyeon berkata ketus, kesal mengingat kejadian diperpustakaan 3 hari yang lalu, membuatnya ingin membunuh wanita itu saja. Luhan hanya tertawa.
"Jadi kau melihatnya dear? Tapi aku tidak melihatmu saat itu." Taeyeon merasa tertohok oleh ucapan Luhan, jadi Luhan tidak menyangkal atau menjelaskan apapun atas kejadian itu.
Luhan tersenyum ketika melihat raut murung gadisnya. "Dengarkan aku dulu, dear." Luhan menarik nafasnya pelan.
"Saat itu Yoojung memintaku untuk pura-pura menciumnya untuk membuat Junmyeon cemburu karena laki-laki itu sungguh tidak peka. Lagi pula aku tidak menciumnya, aku hanya mendekatkan wajahku, tidak ada satupun bagian wajahku yang menempel padanya, oke." Taeyeon memukul dada Luhan brutal. Bohong kalau dia berkata tidak lega atas ucapan Luhan barusan.
"Tapi kau tidak pernah menanggapi setiap sapaanku." Luhan menangkap tangan Taeyeon yang gencar memukul dadanya, pemuda itu mencuri ciuman dipipi Taeyeon.
"Karena aku takut tidak bisa fokus pada materiku jika membalas senyummu. Kau taukan aku tidak pernah bisa jauh darimu." Taeyeon menubruk tubuh Luhan membuat pemuda itu hampir terjengkang jika saja sebelah tangannya tidak berpegangan pada sandaran kursi.
"Bodoh, bodoh, bodoh ! Kenapa tidak menjelaskannya." Luhan mengelus punggung gadis cantik itu. "Sudahlah, yang penting aku tetap mencintaimu, Kimmie-ya" Luhan mencium dahi Taeyeon.
"Berhenti memanggilku dengan nama konyol itu rusa!" Dan Luhan hanya tertawa renyah saat kekasih mungilnya itu mengumpat lucu.
Taeyeon menatap anak berusia 5 tahun yang sedang menarik ujung kemejanya, menatap heran bocah tampan itu. " Ada apa adik kecil?"
"Bisakah noona membantuku mencari ibu?" Taeyeon mengangguk pelan seraya tersenyum, mengggandeng anak itu untuk pergi dari kursi putih ditaman itu.
Kembali meninggalkan jejak kenangannya bersama laki-laki asli keturunan Cina yang pernah menguasai seluruh hatinya, mengisi segala kekosongan dalam hidupnya. Membiarkan apa yang dulu pernah terekam disana, terhapus secara perlahan, hilang dengan keadaan yang semakin berjalan maju tidak peduli lagi bagaimana masalalu, karena memang itu telah berlalu. Bukankah begitu, Kim Taeyeon-ssi?
.
Taeyeon melangkahkan kakinya masuk ke apartemen yang selama 4 tahun ini ia tinggali. Memang sejak memasuki masa perkuliahan gadis bertubuh mungil itu lebih memilih tinggal sendiri daripada tinggal dengan kedua orang tua dan adik laki-lakinya yang kini telah memasuki salah satu Universitas terbaik di Korea Selatan. Taeyeon membuka sneaker putihnya dan menggantinya dengan alas kaki rumah berwarna biru polos.
Gadis itu merebahkan tubuhnya disofa berwarna putih gading yang berada diruang tv. Mata sipitnya menangkap hiasan meja berbentuk rusa kecil yang terbuat dari kayu dengan pita merah muda dikedua tanduknya. Perempuan itu tersenyum kecil ketika melihat ukiran indah yang tertulis ditubuh rusa itu. Mengingat kembali si pemberi rusa kecil ditangannya.
'Peri kecilku, Lu Taeyeon'
"Hei kapan margaku berganti?" Tanya Taeyeon seraya mengamati pahatan kecil berbentuk rusa itu. Pemuda disampingnya hanya tersenyum simpul.
"Aku berbicara padamu Lu!" Taeyeon mencubit pinggang Luhan pelan, tapi cukup membuat pemuda itu meringis.
"Diamlah Kimmie-ya, aku lelah. Kau pikir menata apartemen ini dengan barang-barang rumitmu itu memakai tenaga sedikit?" Taeyeon mengerucutkan bibir tipisnya mendengar jawaban Luhan.
"Jadi kau tidak ikhlas membantuku?" Luhan menarik tangan lembut itu sehingga tubuh Taeyeon terjatuh tepat didekapan lelaki berdarah Beijing itu.
"Ikhlas membantu apa? Aku tidak membantu apa-apa, karena yang sedari dari bekerja hanya aku sendiri. Justru kau yang membantuku dengan duduk manis."
"Tapi kan dirimu yang tidak mengizinkanku mengangkat barang-barang itu." Luhan tersenyum cerah, tangan kanannya mengacak rambut kecoklatan milik gadisnya. "Karena jika kau membantuku, menyelesaikan ini semua akan terasa lebih lama dear. Kau lupa betapa manjanya peri kecilku ini." Taeyeon menoyor kepala Luhan kesal.
"Aku tidak semanja itu!" Mata sipitnya mendelik ke arah Luhan.
"Lalu siapa yang merengek pegal ketika membawa 5 tumpukan buku, padahal baru melewati 3 anak tangga?" Luhan tertawa menang melihat perempuan itu kembali memanyunkan bibir sewarna cerinya. "Tapi buku-buku itu tebal dan berat Lu?"
"Buku itu sudah yang paling tipis Lu Taeyeon." Luhan memejamkan mata indahnya, dia ingin mengistirahatkan tubuhnya sejenak.
"Jangan mengganti margaku seenaknya rusa kurus." Jika panggilan 'Kimmie' dan 'peri' adalah kata sayang untuk Taeyeon dari Luhan, maka 'rusa kurus' adalah ucapan kesayangan Taeyeon pada Luhan.
"Kau memang akan memiliki marga itu nanti."
Taeyeon kembali menyamankan dirinya dipelukan pemuda tegap itu. "Kita bahkan baru memasuki Universitas Lu." Pemuda bermarga Lu itu hanya diam, lebih memilih menyelami keheningan sementara diantara mereka.
Taeyeon menatap pemuda tampan itu, tanpa berniat mengganggunya. "Hei, Lu." Luhan hanya bergumam sebagai jawaban. "Apa kau akan tetap bersamaku?" Cicit Taeyeon.
Luhan membuka kelopak matanya kecilnya, menatap Taeyeon lama seakan bertanya melalui tatapannya. "Kenapa bertanya seperti itu?"
"Entahlah. Aku hanya merasa takut, kau tahu kan kita tidak satu Universitas, tidak satu lingkungan, bahkan kita belajar dinegara yang berbeda." Taeyeon lebih memilih menatap sendal rumah bergambar kelinci merah muda yang menghiasi kaki putihnya. "Lalu apa masalahnya?" Luhan kembali bertanya, sekarang pemuda itu lebih memilih duduk dengan benar sembari merangkul Taeyeon.
"Aku takut kau tertarik pada perempuan lain di Beijing." Gadis cantik itu berkata lirih.
"Kau meragukan ku?" Taeyeon menggeleng. "Kau percaya padaku?" Taeyeon mengangguk pelan. Luhan mendongkangkan wajah cantik yang selalu terlukis dalam ingatannya.
"Jika kau percaya padaku kau tidak akan merasa takut. Kimmie-ya, aku bersumpah tidak ada satu nama pun selain dirimu dihati ini." Wajah Taeyeon merona ketika mendengar debar jantung Luhan yang seakan berdengung merdu, ketika lelaki Cina itu menarik wajahnya, membuat telinga Taeyeon dapat mendengar jelas detak jantung Luhan karena telinganya yang langsung menempel didada bidang Luhan.
"Aku bahkan selalu percaya padamu Luhan-ah." Taeyeon berkata pelan pada ukiran rusa yang ia pegang. "Tapi kau yang telah tega mengkhianati kepercayaanku, rusa kurus bodoh!" Setetes cairan bening kembali jatuh dari mata sipitnya.
Netra kelam miliknya menatap nanar pada kertas berbentuk segi empat yang tertera dengan tulisan Cina modern yang tidak ia mengerti. Hanya dua tiga kata yang Taeyeon ketahui artinya. Hanya saja kalimat yang ia tahu itu membuat hatinya berdenyut sakit, sungguh, bahkan ketika ia pertama kali menerimanya, airmata terus mengalir begitu saja dari pipi putihnya.
Taeyeon bangkit, tak lupa meraih ukiran rusa kecil dan kertas yang terletak dimeja. Kaki jenjangnya melangkah kearah dapur, lalu dua benda tadi sudah mendarat indah ditempat sampah. Gadis itu benar-benar ingin melupakan segala kenangan yang membuatnya seperti gila. Setiap kenangan tentang pria bermata bagai rusa yang telah mengkhianati cintanya, dan segala kepercayaannya.
Perempuan cantik itu berjalan kearah kamarnya, meninggalkan dapur dan kedua benda yang tidak pernah ingin dia lihat lagi. Sebuah ukiran rusa kecil dengan pita merah muda dan kertas bertulis aksara Cina dengan 3 kata yang memporak porandakan hati gadis mungil itu.
' Menikah, Lu Han & Guan Xiaotong'
.
Jalan berkarpet salju. Itu adalah ungkapan untuk menggambarkan suasana Hwagae saat musim semi tiba, saat bunga-bunga putih yang indah bermekaran. Hwagae yang terletak di Gyeongsangnam-do, Korea Selatan ini adalah salah satu kawasan yang ditumbuhi pohon bunga sakura terbanyak di negeri gingseng ini.Dan Hwagae Cherry Blossoms Festival adalah gelaran paling banyak menyedot perhatian wisatawan.
Yang paling terkenal dari gelaran festival bunga sakura ini adalah The 10ri Blossom Road -“Ri” adalah satuan unit pengukuran tradisional Korea yang setara dengan 4,5 km- Jalan ini disebut juga dengan “marriage road”. Legenda mengatakan jika sepasang kekasih berjalan menyusuri jalan ini sambil berpegangan tangan, mereka akan menikah dan hidup bahagia selamanya. Dan disinilah kedua insan itu, untuk membuktikan legenda daerah itu juga melihat keindahan kelopak sakura putih yang berguguran.
"Kenapa kau jauh-jauh membawaku ke sini hanya untuk melihat gugur bunga sakura Luhan-ah, bukankah disepanjang sungai Han juga ada." Luhan tidak menjawab, lelaki itu hanya mempererat genggaman pada jari-jari lentik gadis mungilnya itu.
"Luhan jawab aku!" Taeyeon melepaskan genggaman Luhan, kesal karena Luhan tidak sedikitpun menggubris pertanyaannya.
Luhan menggeleng pelan, benar-benar gadisnya ini tidak bisa diam barang sedetikpun. Pemuda tirain bambu itu pun kembali meraih tangan Taeyeon. Berjalan pelan melewati ribuan kelopak sakura yang mendarat dijalan yang mereka tapaki. "Kau tidak tahu momen romantis ya?"
Taeyeon melihat kearah Luhan heran. "Apa maksudmu?" Luhan menghentikan langkah mereka, berbalik kearah Taeyeon sehingga kini mereka berdiri berhadapan.
'Tak'
"Aww.. Kenapa malah memukulku?" Taeyeon mengusap dahi yang baru saja mendapat tanda sayang dari kekasihnya. "Kau ini orang Korea asli tapi tidak tahu arti romantis ditempat ini."
"Memangnya apa?"
"Kau tahu kita sedang melewati marriage road, jalan yang jika kita lewati dan bergandeng tangan dengan orang terkasih maka kita akan menikah dan hidup bahagia." Taeyeon terbelalak ketika mendengarnya, dengan otomatis semburat merah menghiasi pipi putihnya ketika menyadari maksud dari penjelasan Luhan.
Luhan tersenyum saat dirasanya Taeyeon telah menyadari arti dari ucapannya. "Sekarang kau tahukan romantisnya disini?" Taeyeon mengangguk sebagai jawaban. Tubuh kecilnya menabrak tubuh kurus Luhan, menenggelamkan pipinya yang masih merona didada Luhan.
"Dan aku berharap legenda itu benar, Kimmie-ya." Luhan berbisik pelan. Setelahnya keduanya hanya terlarut pada keheningan, begitu menikmati momen yang terasa indah dengan hembusan angin yang membawa ribuan kelopak sakura putih yang berjatuhan sebagai backgroundnya.
"Dan ternyata legenda itu sama sekali tidak benar, Luhan-ah." Suara lirih Taeyeon kembali terdengar. Perempuan cantik itu kembali menapaki tempat yang mengukit kenangan lalunya.
Tangan mungilnya ia tengadahkan, telapak tangannya terbuka untuk menampung kelopak sakura yang tertiup angin agar mendarat disana. Kepala bermahkota surai coklatnya ikut mendongkang, menyaksikan guguran sakura yang lebih terlihat seperti butiran-butiran salju.
Bibir sewarna cerinya tersenyum miris. 14 hari lagi, dia benar-benar harus melupakan lelaki itu. Membiarkan Luhan pergi dengan setiap kenangan yang selama ini terus bergelayut dihatinya. Taeyeon tidak mau hadir ke acara sakral pemuda bermata rusa itu dengan berurai airmata, memangnya dia mau mempermalukan dirinya sendiri. Tapi hatinya benar-benar sulit diajak berkompromi, hatinya terlalu dalam berpihak pada mantan kekasihnya itu.
Sejak 3 tahun lalu, sejak Luhan memutuskan untuk mengakhiri ikatan mereka. Hatinya tidak menerimanya, bahkan hatinya semakin menumbuhkan cinta yang semakin besar pada laki-laki Cina itu. Rasa cinta itu masih nyata sampai saat ini, sampai saat pemuda rusa itu mengirimnya sebuah undangan yang menghancurkan hatinya, menghancurkan setiap harapan dalam setiap mimpinya. Entahlah, Taeyeon benar-benar tidak bisa mengekspresikan lagi apa yang ia rasa dalam hatinya.
Taeyeon tersentak ketika sebuah tangan hangat menggenggam tangan mungilnya, lebih hangat dari pemuda rusa itu. "Kau memikirkannya lagi?" Suara berat namun lembut itu menyapa pendengaran Taeyeon.
"M-maaf." Lelaki itu tersenyum maklum, tangan kanannya yang bebas mengelus surai coklat itu. "Kenapa harus meminta maaf? Bukannya aku sudah bilang jika kau memang masih memikirkannya maka pikirkanlah. Aku tidak akan pernah melarangmu, Taenggu-ya." Lelaki bermata bulan sabit itu tersenyum lembut, membuat Taeyeon juga ikut tersenyum.
"Kau terlalu baik, Baekhyun-ah." Taeyeon membalas tatapan lembut pemuda bernama Baekhyun itu, mengucapkan ribuan terima kasih pada lelaki itu karena telah bersedia menemaninya ketika ia terpuruk, menyanggah tubuhnya ketika tangan hangat Luhan melepaskan genggamannya.
"Dari itu kau harus membalas kebaikanku itu." Taeyeon tersenyum miris. "Bagaimana bisa aku membalasnya?"
"Belajarlah mencintaiku, Taenggu-ya." Jawabnya pelan. Taeyeon megusap pipi Baekhyun dan tersenyum. "Tanpa kau minta aku selalu berusaha mencintaimu, Baekoong." Baekhyun tertawa, pemuda itu mencapit hidung Taeyeon gemas.
"Apa-apaan dengan panggilanmu itu huh?" Taeyeon ikut tertawa, lega benar-benar terpancar dari hatinya. Kenyataan bahwa Baekhyun akan selalu setia mendampinginya, dengan senang hati menunggu hatinya sejak Luhan pergi hingga saat ini. Tetap menjaganya meski lelaki itu tahu bahwa bayang-bayang Luhan tetap memeluk gadis itu erat. Baekhyun tidak pernah meninggalkannya sendiri, dia tetap berdiri disini menanti cinta Taeyeon yang terkunci kepada Luhan agar segera terbuka untuknya.
"Kau juga, apa-apaan dengan panggilan Taenggu itu huh?" Taeyeon merajuk, membuat lelaki tampan itu gemas. "Lalu aku harus memanggilmu apa? Mungil? Pendek? Atau Kecil?" Baekhyun mengedipkan sebelah matanya, mencoba menggoda gadis disebelahnya.
"Yak! Itu hinaan bukan panggilan, Byun!" Baekhyun tertawa renyah saat melihat wajah kesal itu. Seolah itu adalah hiburan untuk menguatkan hatinya yang seakan menyerah.
"Mau berjalan dimarriage road, Taeng?"
"Untuk apa?" Taeyeon menjawab ketus, masih sebal sebenarnya ketika tadi laki-laki itu menertawakannya.
"Untuk membuktikan legenda, dimana pasangan yang berjalan disana sambil bergandengan tangan akan menikah dan hidup bahagia." Pemuda itu tersenyum, hingga matanya menyipit membentuk bulan sabit.
"Aku sudah membuktikannya dan itu sama sekali tidak terjadi." Baekhyun menggenggam tangan mungil Taeyeon lagi. "Mau membuktikannya sekali lagi? Aku yakin kali ini tidak akan gagal dan kita akan menikah." Taeyeon memutar bola matanya malas.
"Bahkan kita sudah berstatus suami-istri sejak 6 bulan lalu Byun!" Baekhyun kembali tertawa, dibawanya tubuh Taeyeon kedalam pelukan hangatnya. "Baiklah kalau begitu, legendanya aku ubah saja. Agar pernikahan kita bertahan selamanya, dan kita menjadi pasangan yang saling menyayangi sampai kapanpun, bagaimana?"
"Memangnya sejak kapan kau jadi pengarang cerita?" Baekhyun merangkul bahu sempit Taeyeon dan berjalan pelan. "Saat aku memiliki malaikat cantik sepertimu, Byun Taeyeon." Bisik Baekhyun berhasil membuat Taeyeon bersemu. Tidak Luhan tidak Baekhyun sama saja, sama-sama mempunyai fantasi yang berlebih terhadapnya, peri dan malaikat? Apa-apaan itu? Semua orang juga tahu jika dia itu manusia, bukan peri apalagi malaikat yang ada dalam pikiran kedua pemuda itu.
"Dasar bodoh." Dan umpatan Taeyeon menghadirkan tawa bahagia diwajah Baekhyun.
Keduaanya berjalan menyusuri Marriage Road yang begitu terkenal dengan karpet saljunya itu. Melangkah menuju masa depan mereka, menuju kebahagiaan yang selama ini mereka tunggu. Taeyeon yang ingin lepas dari jerat kenangan tentang laki-laki yang memiliki mata bagai rusa bermana Luhan itu, dan Baekhyun yang menanti hati gadis itu untuk menatapnya, melihat cintanya.
Taeyeon beruntung, benar-benar beruntung. Karena meskipun Baekhyun menginginkannya, dia tidak pernah memaksa. Ketika mereka terikat dalam perjodohan kedua keluarganya, Baekhyun tidak memanfaatkan kesempatan itu untuk menaklukan Taeyeon. Bahkan pemuda itu bertanya dan menyakinkan apa Taeyeon bersedia dijodohkan dengannya. Dan karena meskipun Taeyeon telah resmi menyandang marga Byun didepan namanya, lelaki itu tidak pernah membatasi Taeyeon yang masih mengenang Luhan dalam hati dan ingatannya. Lelaki itu justru selalu menjadi sandarannya ketika ia lelah menangis karena mengingat pemuda Beijing itu.
Dan mungkin saat ini memang saatnya Taeyeon menghentikan penantiannya dan Baekhyun. Menyerah atas Luhan dan mulai menatap Baekhyun. Bukankah memang lebih indah membalas seseorang yang mencintai kita dari pada menanti seseorang yang bahkan enggan untuk menatap kita.
Taeyeon membuktikannya, dia telah membuang setiap kenangan yang selalu mengikat hatinya. Menghapus setiap barang dan tempat yang menjadi saksi atas kebersamaannya dan Luhan. Taeyeon benar-benar akan membuat kenangan baru bersama Baekhyun, pria yang setia bersamanya, yang bersedia menantinya dan suami yang akan membawanya pada kehidupan yang lebih nyata dari sebelumnya.
'Meski awalnya tidak baik-baik saja, ini berjalan lebih baik dari sebelumnya dengan sendirinya. Terima kasih pernah hadir dan membuat kenangan yang indah, walau kini aku harus melepasnya. Luhan-ah, berbahagialah. Dan Baekoong-ah, aku mencintaimu mulai sekarang, Byun Taeyeon.'
-Fin-
************************
Aisy Kim <3
"Tapi kenapa?" Lelaki itu tidak menjawab, dia mendekati gadis mungil dengan balutan mantel abu-abu tua itu, memperpendek jarak yang tercipta beberapa menit yang lalu. Tangan hangatnya menggapai wajah cantik itu, mengusap bulir-bulir bening yang mengalir dipipinya yang mulai memerah entah karena cuaca yang semakin dingin ataupun karena emosi yang ada dalam hatinya.
Lelaki itu menghela nafasnya lelah, lalu tangan kokohnya merengkuh tubuh gadis mungil yang selama 3 tahun itu telah menemaninya, menghiasi harinya. Diusapnya rambut coklat yang menguarkan wangi mint itu, berusaha menenangkan tubuh kecil yang bergetar dalam pelukannya.
"Maafkan aku, sungguh aku benar-benar minta maaf." Bisik suara berat itu akhirnya terdengar ditelinga gadis itu.
"T-tapi.. Kenapa L-Luhan-ah?" Gadis itu terbata karena isakan yang terkadang lolos begitu saja dari mulutnya.
"Maaf aku benar-benar sudah tidak bisa."
Lelaki itu menciumi anak rambut gadis dalam kungkungan kedua tangannya, menenangkan dan menyatakan permintaan maafnya melalui sentuhan manis itu. Sungguh, sebenarnya ini berat untuknya. Tapi ini memang yang harus ia putuskan, dia hanya tidak mau membuat gadis itu semakin sakit hati nantinya.
Luhan melepas pelukannya ketika gadis bersurai coklat itu sudah tidak terisak. Luhan memandang sendu wajah kacau dihadapannya, menyeka lagi airmata yang mengalir tanpa henti dipipi putih itu. Tersenyum menguatkan meski sebenarnya itu malah membuat gadis didepannya semakin sulit untuk melepasnya.
"Jaga dirimu baik-baik, dan tolong jangan benci aku. Kita masih bisa menjadi teman seperti dulu." Luhan beranjak, melepaskan tautan pada tangan mungil yang selama ini selalu ia genggam hangat.
"Dan jika kau perlu bantuan apapun, kau bisa menghubungiku. Sampai jumpa." Luhan mencium kening gadis itu sekilas, kemudian kaki jenjangnya melangkah meninggalkan tempat itu. Meninggalkan gadis cantik itu sendiri, membiarkan kenangan akan dirinya menyiksa mantan gadisnya itu.
"Aku hanya butuh kau, Luhan.." Ucap gadis itu lirih, airmata kembali menggenangi sudut mata sipitnya.
*****************
It's Not Fine
Cast : Kim Taeyeon, Lu Han, and Others.
Genre : Drama, Romance
Rated : T
Author : Aisy Kim
¤ Happy Reading ^_^ ¤
Hari ini matahari memberikan senyuman cerahnya pada bumi, membuat seluruh umat manusia melakukan kegiatannya dengan tekun, tidak perlu menggurutu seperti saat hujan yang menyapa mereka. Hiruk piruk kota juga sudah berjalan sejak pagi mulai menyongsong, mengawali hari dengan semangatnya. Dengan latar kesibukan yang ada disana-sini, membuat hari senin menjadi hari yang paling merepotkan. Tapi tidak sedikitpun mengusik para manusia yang menjalankan perannya itu mengeluh, meski terkadang sedikit gerutuan juga tidak terhindar dari bibir mereka.
Berbeda dengan keadaan bumi yang sibuk dan keadaan langit yang begitu ceria, justru gadis mungil bermata sipit dengan surai coklat itu terlihat murung. Mata kecil berbentuk bulan sabit jika tersenyum itu memancarkan kesedihan yang kentara. Seolah berkata jika yang kini ia rasakan adalah hal paling menyakitkan yang sulit ia terima dan hilangkan begitu saja.
Gadis mungil itu menggenggam satu gembok berwarna biru yang terpasang indah dipagar menara tinggi yang lebih orang kenal dengan Namsan Tower itu. Meneliti tulisan yang tergurat rapi disana, bibir tipisnya menyunggingkan senyuman miris ketika pupil hitamnya menangkap kata yang dulu selalu membuatnya tersenyum namum membuatnya sesak kini.
Digembok biru itu tertera janjinya, sebuah ucapan yang bahkan tidak ia tepati kini. Janji yang telah ia langgar dan ia tinggalkan begitu saja. Kata-kata yang mungkin sekarang sudah ia lupakan. Gadis itu tersenyum kecut. Genggaman pada gembok itu semakin mengencang, merasakan setiap sudut yang terasa menusuk tangannya, dan setiap kata yang menusuk hatinya.
Setetes airmata mengalir dipipi putihnya, kenangan itu berputar lagi dalam ingatannya. Kilas balik yang memaksanya untuk kembali pada masa dimana dia berdiri ditempat yang sama didampingi dengan pria tampan bermata indah bagai rusa yang merangkul pundaknya hangat. Membuat tubuh mungilnya rapat dengan tubuh tegap disampingnya.
"Kau menuliskan apa Luhan-ah?" Gadis mungil berseragam sekolah menengah itu bertanya pada pemuda. Jari lentiknya tengah mencakupkan gembok berwarna merah muda ke pagar menara.
"Entahlah." Pemuda itu menjawab acuh.
"Luhan ayolah, tadi kau melihat punyaku, ingat? Sekarang aku minta ganti ruginya." Luhan hanya memutar bosan matanya. Kemudian kaki jangkungnya melangkah ke arah berbeda, meninggalkan gadis mungil yang mengikuti langkahnya dengan gerutuan-gerutuan kecil.
"Aww.." Luhan menoleh, matanya melebar ketika melihat lutut gadis bertubuh kecil itu berdarah. Dengan langkah cepat Luhan menghampiri gadis itu.
"Dasar ceroboh ! Kenapa bisa sampai terjatuh?"Gadis itu merengut mendengar hardikan Luhan.
"Aku menyamai langkahmu yang lebar itu bodoh ! Lagi pula kenapa kau berjalan cepat sekali sih ? Memangnya kau mau kemana?"
Luhan tidak menjawab, lelaki tampan itu malah menggendong gadis dihadapannya dengan gaya bridal. Lalu melangkahkan kakinya lagi menuju sebuah kursi yang tidak jauh dari sana. Luhan mendudukan gadisnya dikursi itu, kemudian dengan cekatan tangannya membersihkan darah dilutut gadis bername tag 'Kim Taeyeon' itu, menempelkan plester bergambar hati setelahnya.
Luhan bangkit, menarik tangan gadis itu lembut. Lelaki yang sering dijuluki rusa kecil karena mata indahnya itu berjalan pelan. Takut perempuan disampingnya ini kenapa-kenapa lagi, bahkan tangan kokohnya itu merangkul tubuh kecil yang selama ini mengisi kesehariannya, gadis cantiknya.
Mereka berhenti dikumpulan gembok dekat jalan keluar dari Namsan Tower, Taeyeon mengerutkan dahinya memandang lelaki disampingnya heran.
"Kenapa berhenti Luhan-ah?" Luhan hanya menunjuk satu gembok kecil berwarna biru yang terpasang indah diantara warna-warni cerah gembok lain.
"Bukannya kau mau melihat punyaku?"
Taeyeon mendekati gembok kecil itu, meraihnya dan menatap tulisan disana. Dan sedetik berikutnya, senyuman tersungging manis diwajah cantiknya.
'Selalu menjaga dan melindungi peri cantikku, dan selalu disampingnya setiap saat. Pangeran tampanmu, Luhan.'
"Kenapa tersenyum sendiri? Seperti orang gila saja." Luhan berdiri disamping Taeyeon, meraih bahu sempit itu agar mendekat kearah tubuhnya, berbagi kehangatan dimalam yang mulai dingin.
Taeyeon menoleh ke arah Luhan, mengerucutkan bibir tipisnya lucu. Lalu jari lentiknya mencubit pinggang pemuda tampan itu. "Hey, kenapa kau malah mencubitku, Kimmie-ya?"
"Aku tidak gila, bodoh. Dan berhenti memanggilku dengan nama peri yang ada dalam komik kesukaanmu itu." Luhan hanya terkekeh. Begitu menikmati sikap merajuk gadisnya itu.
"Berhenti mengumpat dear, lagipula nama itu cocok untuk wajah cantikmu yang melebihi peri manapun." Taeyeon menundukan wajahnya yang mulai merona, sedang Luhan tertawa renyah dan membawa tubuh kecil itu kedalam pelukannya.
Taeyeon tersentak ketika ada tubuh yang menyenggolnya, membuat pandangannya beralih pada seorang remaja putri yang kini tengah membungkuk.
"M-maaf aku tidak sengaja." Cicitnya takut, sedangkan kedua teman gadis itu juga melakukan hal yang sama. Taeyeon tersenyum, perempuan bermarga Kim itu menyentuh bahu remaja didepannya pelan.
"Tidak apa-apa, aku memaafkanmu." Ketiga gadis berseragam sekolah menengah itu tersenyum berterima kasih dan pergi setelah menyampaikan salam perpisahan pada Taeyeon.
Perempuan itu kembali menggapai gembok biru tadi, mengarahkan kunci kecil kearah lubangnya. Melepaskan kuncian benda kecil itu pada pagar pembatas menara itu selama 6 tahun ini. Dan dengan dorongan rasa sakit dalam hatinya, tangan putih itu melemparkan gembok beserta kuncinya entah kemana, yang penting dia tidak bisa menemukannya lagi.
Dan dalam legenda jika gembok yang telah terkunci disana dibuka, maka janji yang ada didalamnya telah diingkari. Tapi bukankah memang janji manis itu telah dikhianati oleh pemilik gembok biru kecil itu? Taeyeon hanya melepaskan janji yang akan membebani pria itu jika dia melihat kata-kata itu masih tercantum disini bukan?
Taeyeon berbalik meninggalkan tempat dengan ribuan harapan didalamnya, ribuan kata dengan janji terikat disana. Tempat terakhir yang menjadikannya tidak mempercayai sebuah janji lagi, karena seorang pemuda bermata rusa yang telah mengkhianati janjinya, meninggalkan kepercayaan yang telah ia berikan begitu saja. Dan Taeyeon tidak pernah mau lagi menerima manisnya ucapan yang hanya bersifat sementara. Dia tidak memerlukan perkataan dia hanya membutuhkan kepastian, bukti dari seseorang yang telah ia anggap penting dalam hatinya.
.
"Kimmie-ya." Panggilan lembut itu tak mendapat tanggapan.
"Darl"
"Kim Taeyeon!" Luhan mencekal tangan gadis didepannya, menghentikan langkah gadis yang sejak tadi tak menghiraukan panggilannya.
"Hm." Taeyeon hanya bergumam, membuat tatapan kesal tampak dimata bagai rusa itu. "Hei ada apa denganmu?" Luhan menangkup pipi Taeyeon dengan tangan kirinya, sedang tangan kanannya mulai melepas cekalannya ditangan Taeyeon dan menggantinya dengan genggaman hangat.
"Aku tidak apa-apa." Taeyeon menepis tangan lelaki tampan itu dipipinya. "Jangan berbohong Kimmie, lalu kenapa kau menghindariku terus?" Luhan menyelami tatapannya pada manik hitam gadis manisnya itu, mencari sebab apa yang membuatnya resah sejak tadi karena Taeyeon terus menjauh darinya.
Taeyeon memutar matanya malas. "Bukankah seharusnya aku yang bertanya seperti itu?"
Luhan mengangkat sebelah alisnya tidak mengerti, kenapa gadisnya itu malah membalikkan pertanyaan yang dilontarkannya tadi. "Apa maksudmu, dear?" Taeyeon hanya mengangkat bahunya acuh, melepas genggaman Luhan lalu berjalan mendahului pemuda itu.
Luhan menggertakkan giginya karena kesal, pemuda itu paling tidak suka diacuhkan dan juga diabaikan atas semua pertanyaan yang diucapkannya. Luhan menyamai langkah Taeyeon, menahan tangan kecil itu lebih erat dari sebelumnya, sehingga gadisnya meringis pelan. Luhan menyeretnya kearah taman yang ada dipersimpangan depan yang akan mereka lewati, menghempaskan tubuh kecil Taeyeon ke kursi besi berwarna putih disamping sebuah pohon yang berdiri kokoh.
"Katakan dengan jelas Taeyeon-ah!" Nada Luhan berubah menjadi lebih berat dari sebelumnya, dan Taeyeon sangat tahu jika Luhan saat ini tengah menahan emosi.
"Jawab aku Kim Taeyeon!" Taeyeon berjengit kaget ketika Luhan meninggikan suaranya, kemarahan begitu terasa dari setiap katanya. Taeyeon hanya menundukkan wajahnya, sungguh dia paling tidak suka ketika Luhan seperti ini.
Dan kenapa sekarang dia yang mendapat amukan Luhan? Bukankah harusnya dia yang marah kepada Luhan? Bukankah Luhan yang telah menyakitinya?
"Kim Taeyeon, bicara padaku!" Luhan menarik dagu Taeyeon agar gadis itu menatap langsung kearah matanya, berbicara dengan setiap penekanan didalamnya seolah itu adalah perintah yang mutlak dan tak bisa ditolak.
"Memang apa yang harus aku katakan padamu?" Suara lembut itu sedikit bergetar, membuat cengkraman Luhan pada dagu Taeyeon mengendur, hatinya meluluh secara perlahan.
"Kenapa kau menghindariku selama disekolah beberapa hari ini?"
"Bukankah aku yang harus bertanya itu padamu?" Luhan kembali menggeram.
"Jangan membalikkan pertanyaanku Kim Taeyeon!" Suara Luhan kembali meninggi, membuat Taeyeon kembali berjengit. Taeyeon lelah, sungguh ia ingin menangis sekarang. Bukan hanya karena bentakan yang ia dapatkan barusan tapi juga sakit yang disebabkan oleh pemuda disampingnya ini.
"Memangnya apa yang aku balikkan Lu Han? Aku mengatakan yang sebenarnya." Taeyeon membalas tatapan menusuk Luhan, meski dalam hatinya sudah ingin menangis.
"Bukannya kau sendiri yang menjauhiku, tidak membalas pesanku, tidak menggubris semua sapaanku, bahkan hanya mailbox yang menjawab setiap panggilanku." Luhan terdiam ketika suara Taeyeon terdengar lebih bergetar dari sebelumnya, bahkan ia bisa melihat cairan bening disudut mata sipit itu.
"Bukannya kau sendiri yang melupakan aku? Kau hanya sibuk dengan semua urusanmu, dengan segala lomba rumit yang merampas waktumu untukku." Pertahanan Taeyeon runtuh, tatapan tajamnya telah berganti menjadi tatapan yang begitu menyakitkan bagi Luhan. Membuat laki-laki itu menarik Taeyeon dalam pelukannya.
"Dan semua waktumu hanya tersisa untuk dia?" Lanjut Taeyeon ditengah isakkannya. Luhan mengerutkan dahinya tidak mengerti."Dia siapa?"
"Kim Yoojung." Luhan yang mulai mengertipun tersenyum simpul. Dilepaskannya dekapan pada gadis itu.
"Jadi kau cemburu?" Taeyeon membuang muka, melepaskan kontak mata dengan kekasihnya itu. "Tapi kau tahukan jika dia yang menjadi perwakilan sekolah untuk lomba sains denganku?" Taeyeon mengangguk.
"Lalu kenapa kau cemburu?" Taeyeon menepis tangan Luhan yang akan meraih pipi putihnya.
"Siapa yang tidak cemburu jika kekasihmu malah mencium patner lombanya didepan matanya sendiri!" Taeyeon berkata ketus, kesal mengingat kejadian diperpustakaan 3 hari yang lalu, membuatnya ingin membunuh wanita itu saja. Luhan hanya tertawa.
"Jadi kau melihatnya dear? Tapi aku tidak melihatmu saat itu." Taeyeon merasa tertohok oleh ucapan Luhan, jadi Luhan tidak menyangkal atau menjelaskan apapun atas kejadian itu.
Luhan tersenyum ketika melihat raut murung gadisnya. "Dengarkan aku dulu, dear." Luhan menarik nafasnya pelan.
"Saat itu Yoojung memintaku untuk pura-pura menciumnya untuk membuat Junmyeon cemburu karena laki-laki itu sungguh tidak peka. Lagi pula aku tidak menciumnya, aku hanya mendekatkan wajahku, tidak ada satupun bagian wajahku yang menempel padanya, oke." Taeyeon memukul dada Luhan brutal. Bohong kalau dia berkata tidak lega atas ucapan Luhan barusan.
"Tapi kau tidak pernah menanggapi setiap sapaanku." Luhan menangkap tangan Taeyeon yang gencar memukul dadanya, pemuda itu mencuri ciuman dipipi Taeyeon.
"Karena aku takut tidak bisa fokus pada materiku jika membalas senyummu. Kau taukan aku tidak pernah bisa jauh darimu." Taeyeon menubruk tubuh Luhan membuat pemuda itu hampir terjengkang jika saja sebelah tangannya tidak berpegangan pada sandaran kursi.
"Bodoh, bodoh, bodoh ! Kenapa tidak menjelaskannya." Luhan mengelus punggung gadis cantik itu. "Sudahlah, yang penting aku tetap mencintaimu, Kimmie-ya" Luhan mencium dahi Taeyeon.
"Berhenti memanggilku dengan nama konyol itu rusa!" Dan Luhan hanya tertawa renyah saat kekasih mungilnya itu mengumpat lucu.
Taeyeon menatap anak berusia 5 tahun yang sedang menarik ujung kemejanya, menatap heran bocah tampan itu. " Ada apa adik kecil?"
"Bisakah noona membantuku mencari ibu?" Taeyeon mengangguk pelan seraya tersenyum, mengggandeng anak itu untuk pergi dari kursi putih ditaman itu.
Kembali meninggalkan jejak kenangannya bersama laki-laki asli keturunan Cina yang pernah menguasai seluruh hatinya, mengisi segala kekosongan dalam hidupnya. Membiarkan apa yang dulu pernah terekam disana, terhapus secara perlahan, hilang dengan keadaan yang semakin berjalan maju tidak peduli lagi bagaimana masalalu, karena memang itu telah berlalu. Bukankah begitu, Kim Taeyeon-ssi?
.
Taeyeon melangkahkan kakinya masuk ke apartemen yang selama 4 tahun ini ia tinggali. Memang sejak memasuki masa perkuliahan gadis bertubuh mungil itu lebih memilih tinggal sendiri daripada tinggal dengan kedua orang tua dan adik laki-lakinya yang kini telah memasuki salah satu Universitas terbaik di Korea Selatan. Taeyeon membuka sneaker putihnya dan menggantinya dengan alas kaki rumah berwarna biru polos.
Gadis itu merebahkan tubuhnya disofa berwarna putih gading yang berada diruang tv. Mata sipitnya menangkap hiasan meja berbentuk rusa kecil yang terbuat dari kayu dengan pita merah muda dikedua tanduknya. Perempuan itu tersenyum kecil ketika melihat ukiran indah yang tertulis ditubuh rusa itu. Mengingat kembali si pemberi rusa kecil ditangannya.
'Peri kecilku, Lu Taeyeon'
"Hei kapan margaku berganti?" Tanya Taeyeon seraya mengamati pahatan kecil berbentuk rusa itu. Pemuda disampingnya hanya tersenyum simpul.
"Aku berbicara padamu Lu!" Taeyeon mencubit pinggang Luhan pelan, tapi cukup membuat pemuda itu meringis.
"Diamlah Kimmie-ya, aku lelah. Kau pikir menata apartemen ini dengan barang-barang rumitmu itu memakai tenaga sedikit?" Taeyeon mengerucutkan bibir tipisnya mendengar jawaban Luhan.
"Jadi kau tidak ikhlas membantuku?" Luhan menarik tangan lembut itu sehingga tubuh Taeyeon terjatuh tepat didekapan lelaki berdarah Beijing itu.
"Ikhlas membantu apa? Aku tidak membantu apa-apa, karena yang sedari dari bekerja hanya aku sendiri. Justru kau yang membantuku dengan duduk manis."
"Tapi kan dirimu yang tidak mengizinkanku mengangkat barang-barang itu." Luhan tersenyum cerah, tangan kanannya mengacak rambut kecoklatan milik gadisnya. "Karena jika kau membantuku, menyelesaikan ini semua akan terasa lebih lama dear. Kau lupa betapa manjanya peri kecilku ini." Taeyeon menoyor kepala Luhan kesal.
"Aku tidak semanja itu!" Mata sipitnya mendelik ke arah Luhan.
"Lalu siapa yang merengek pegal ketika membawa 5 tumpukan buku, padahal baru melewati 3 anak tangga?" Luhan tertawa menang melihat perempuan itu kembali memanyunkan bibir sewarna cerinya. "Tapi buku-buku itu tebal dan berat Lu?"
"Buku itu sudah yang paling tipis Lu Taeyeon." Luhan memejamkan mata indahnya, dia ingin mengistirahatkan tubuhnya sejenak.
"Jangan mengganti margaku seenaknya rusa kurus." Jika panggilan 'Kimmie' dan 'peri' adalah kata sayang untuk Taeyeon dari Luhan, maka 'rusa kurus' adalah ucapan kesayangan Taeyeon pada Luhan.
"Kau memang akan memiliki marga itu nanti."
Taeyeon kembali menyamankan dirinya dipelukan pemuda tegap itu. "Kita bahkan baru memasuki Universitas Lu." Pemuda bermarga Lu itu hanya diam, lebih memilih menyelami keheningan sementara diantara mereka.
Taeyeon menatap pemuda tampan itu, tanpa berniat mengganggunya. "Hei, Lu." Luhan hanya bergumam sebagai jawaban. "Apa kau akan tetap bersamaku?" Cicit Taeyeon.
Luhan membuka kelopak matanya kecilnya, menatap Taeyeon lama seakan bertanya melalui tatapannya. "Kenapa bertanya seperti itu?"
"Entahlah. Aku hanya merasa takut, kau tahu kan kita tidak satu Universitas, tidak satu lingkungan, bahkan kita belajar dinegara yang berbeda." Taeyeon lebih memilih menatap sendal rumah bergambar kelinci merah muda yang menghiasi kaki putihnya. "Lalu apa masalahnya?" Luhan kembali bertanya, sekarang pemuda itu lebih memilih duduk dengan benar sembari merangkul Taeyeon.
"Aku takut kau tertarik pada perempuan lain di Beijing." Gadis cantik itu berkata lirih.
"Kau meragukan ku?" Taeyeon menggeleng. "Kau percaya padaku?" Taeyeon mengangguk pelan. Luhan mendongkangkan wajah cantik yang selalu terlukis dalam ingatannya.
"Jika kau percaya padaku kau tidak akan merasa takut. Kimmie-ya, aku bersumpah tidak ada satu nama pun selain dirimu dihati ini." Wajah Taeyeon merona ketika mendengar debar jantung Luhan yang seakan berdengung merdu, ketika lelaki Cina itu menarik wajahnya, membuat telinga Taeyeon dapat mendengar jelas detak jantung Luhan karena telinganya yang langsung menempel didada bidang Luhan.
"Aku bahkan selalu percaya padamu Luhan-ah." Taeyeon berkata pelan pada ukiran rusa yang ia pegang. "Tapi kau yang telah tega mengkhianati kepercayaanku, rusa kurus bodoh!" Setetes cairan bening kembali jatuh dari mata sipitnya.
Netra kelam miliknya menatap nanar pada kertas berbentuk segi empat yang tertera dengan tulisan Cina modern yang tidak ia mengerti. Hanya dua tiga kata yang Taeyeon ketahui artinya. Hanya saja kalimat yang ia tahu itu membuat hatinya berdenyut sakit, sungguh, bahkan ketika ia pertama kali menerimanya, airmata terus mengalir begitu saja dari pipi putihnya.
Taeyeon bangkit, tak lupa meraih ukiran rusa kecil dan kertas yang terletak dimeja. Kaki jenjangnya melangkah kearah dapur, lalu dua benda tadi sudah mendarat indah ditempat sampah. Gadis itu benar-benar ingin melupakan segala kenangan yang membuatnya seperti gila. Setiap kenangan tentang pria bermata bagai rusa yang telah mengkhianati cintanya, dan segala kepercayaannya.
Perempuan cantik itu berjalan kearah kamarnya, meninggalkan dapur dan kedua benda yang tidak pernah ingin dia lihat lagi. Sebuah ukiran rusa kecil dengan pita merah muda dan kertas bertulis aksara Cina dengan 3 kata yang memporak porandakan hati gadis mungil itu.
' Menikah, Lu Han & Guan Xiaotong'
.
Jalan berkarpet salju. Itu adalah ungkapan untuk menggambarkan suasana Hwagae saat musim semi tiba, saat bunga-bunga putih yang indah bermekaran. Hwagae yang terletak di Gyeongsangnam-do, Korea Selatan ini adalah salah satu kawasan yang ditumbuhi pohon bunga sakura terbanyak di negeri gingseng ini.Dan Hwagae Cherry Blossoms Festival adalah gelaran paling banyak menyedot perhatian wisatawan.
Yang paling terkenal dari gelaran festival bunga sakura ini adalah The 10ri Blossom Road -“Ri” adalah satuan unit pengukuran tradisional Korea yang setara dengan 4,5 km- Jalan ini disebut juga dengan “marriage road”. Legenda mengatakan jika sepasang kekasih berjalan menyusuri jalan ini sambil berpegangan tangan, mereka akan menikah dan hidup bahagia selamanya. Dan disinilah kedua insan itu, untuk membuktikan legenda daerah itu juga melihat keindahan kelopak sakura putih yang berguguran.
"Kenapa kau jauh-jauh membawaku ke sini hanya untuk melihat gugur bunga sakura Luhan-ah, bukankah disepanjang sungai Han juga ada." Luhan tidak menjawab, lelaki itu hanya mempererat genggaman pada jari-jari lentik gadis mungilnya itu.
"Luhan jawab aku!" Taeyeon melepaskan genggaman Luhan, kesal karena Luhan tidak sedikitpun menggubris pertanyaannya.
Luhan menggeleng pelan, benar-benar gadisnya ini tidak bisa diam barang sedetikpun. Pemuda tirain bambu itu pun kembali meraih tangan Taeyeon. Berjalan pelan melewati ribuan kelopak sakura yang mendarat dijalan yang mereka tapaki. "Kau tidak tahu momen romantis ya?"
Taeyeon melihat kearah Luhan heran. "Apa maksudmu?" Luhan menghentikan langkah mereka, berbalik kearah Taeyeon sehingga kini mereka berdiri berhadapan.
'Tak'
"Aww.. Kenapa malah memukulku?" Taeyeon mengusap dahi yang baru saja mendapat tanda sayang dari kekasihnya. "Kau ini orang Korea asli tapi tidak tahu arti romantis ditempat ini."
"Memangnya apa?"
"Kau tahu kita sedang melewati marriage road, jalan yang jika kita lewati dan bergandeng tangan dengan orang terkasih maka kita akan menikah dan hidup bahagia." Taeyeon terbelalak ketika mendengarnya, dengan otomatis semburat merah menghiasi pipi putihnya ketika menyadari maksud dari penjelasan Luhan.
Luhan tersenyum saat dirasanya Taeyeon telah menyadari arti dari ucapannya. "Sekarang kau tahukan romantisnya disini?" Taeyeon mengangguk sebagai jawaban. Tubuh kecilnya menabrak tubuh kurus Luhan, menenggelamkan pipinya yang masih merona didada Luhan.
"Dan aku berharap legenda itu benar, Kimmie-ya." Luhan berbisik pelan. Setelahnya keduanya hanya terlarut pada keheningan, begitu menikmati momen yang terasa indah dengan hembusan angin yang membawa ribuan kelopak sakura putih yang berjatuhan sebagai backgroundnya.
"Dan ternyata legenda itu sama sekali tidak benar, Luhan-ah." Suara lirih Taeyeon kembali terdengar. Perempuan cantik itu kembali menapaki tempat yang mengukit kenangan lalunya.
Tangan mungilnya ia tengadahkan, telapak tangannya terbuka untuk menampung kelopak sakura yang tertiup angin agar mendarat disana. Kepala bermahkota surai coklatnya ikut mendongkang, menyaksikan guguran sakura yang lebih terlihat seperti butiran-butiran salju.
Bibir sewarna cerinya tersenyum miris. 14 hari lagi, dia benar-benar harus melupakan lelaki itu. Membiarkan Luhan pergi dengan setiap kenangan yang selama ini terus bergelayut dihatinya. Taeyeon tidak mau hadir ke acara sakral pemuda bermata rusa itu dengan berurai airmata, memangnya dia mau mempermalukan dirinya sendiri. Tapi hatinya benar-benar sulit diajak berkompromi, hatinya terlalu dalam berpihak pada mantan kekasihnya itu.
Sejak 3 tahun lalu, sejak Luhan memutuskan untuk mengakhiri ikatan mereka. Hatinya tidak menerimanya, bahkan hatinya semakin menumbuhkan cinta yang semakin besar pada laki-laki Cina itu. Rasa cinta itu masih nyata sampai saat ini, sampai saat pemuda rusa itu mengirimnya sebuah undangan yang menghancurkan hatinya, menghancurkan setiap harapan dalam setiap mimpinya. Entahlah, Taeyeon benar-benar tidak bisa mengekspresikan lagi apa yang ia rasa dalam hatinya.
Taeyeon tersentak ketika sebuah tangan hangat menggenggam tangan mungilnya, lebih hangat dari pemuda rusa itu. "Kau memikirkannya lagi?" Suara berat namun lembut itu menyapa pendengaran Taeyeon.
"M-maaf." Lelaki itu tersenyum maklum, tangan kanannya yang bebas mengelus surai coklat itu. "Kenapa harus meminta maaf? Bukannya aku sudah bilang jika kau memang masih memikirkannya maka pikirkanlah. Aku tidak akan pernah melarangmu, Taenggu-ya." Lelaki bermata bulan sabit itu tersenyum lembut, membuat Taeyeon juga ikut tersenyum.
"Kau terlalu baik, Baekhyun-ah." Taeyeon membalas tatapan lembut pemuda bernama Baekhyun itu, mengucapkan ribuan terima kasih pada lelaki itu karena telah bersedia menemaninya ketika ia terpuruk, menyanggah tubuhnya ketika tangan hangat Luhan melepaskan genggamannya.
"Dari itu kau harus membalas kebaikanku itu." Taeyeon tersenyum miris. "Bagaimana bisa aku membalasnya?"
"Belajarlah mencintaiku, Taenggu-ya." Jawabnya pelan. Taeyeon megusap pipi Baekhyun dan tersenyum. "Tanpa kau minta aku selalu berusaha mencintaimu, Baekoong." Baekhyun tertawa, pemuda itu mencapit hidung Taeyeon gemas.
"Apa-apaan dengan panggilanmu itu huh?" Taeyeon ikut tertawa, lega benar-benar terpancar dari hatinya. Kenyataan bahwa Baekhyun akan selalu setia mendampinginya, dengan senang hati menunggu hatinya sejak Luhan pergi hingga saat ini. Tetap menjaganya meski lelaki itu tahu bahwa bayang-bayang Luhan tetap memeluk gadis itu erat. Baekhyun tidak pernah meninggalkannya sendiri, dia tetap berdiri disini menanti cinta Taeyeon yang terkunci kepada Luhan agar segera terbuka untuknya.
"Kau juga, apa-apaan dengan panggilan Taenggu itu huh?" Taeyeon merajuk, membuat lelaki tampan itu gemas. "Lalu aku harus memanggilmu apa? Mungil? Pendek? Atau Kecil?" Baekhyun mengedipkan sebelah matanya, mencoba menggoda gadis disebelahnya.
"Yak! Itu hinaan bukan panggilan, Byun!" Baekhyun tertawa renyah saat melihat wajah kesal itu. Seolah itu adalah hiburan untuk menguatkan hatinya yang seakan menyerah.
"Mau berjalan dimarriage road, Taeng?"
"Untuk apa?" Taeyeon menjawab ketus, masih sebal sebenarnya ketika tadi laki-laki itu menertawakannya.
"Untuk membuktikan legenda, dimana pasangan yang berjalan disana sambil bergandengan tangan akan menikah dan hidup bahagia." Pemuda itu tersenyum, hingga matanya menyipit membentuk bulan sabit.
"Aku sudah membuktikannya dan itu sama sekali tidak terjadi." Baekhyun menggenggam tangan mungil Taeyeon lagi. "Mau membuktikannya sekali lagi? Aku yakin kali ini tidak akan gagal dan kita akan menikah." Taeyeon memutar bola matanya malas.
"Bahkan kita sudah berstatus suami-istri sejak 6 bulan lalu Byun!" Baekhyun kembali tertawa, dibawanya tubuh Taeyeon kedalam pelukan hangatnya. "Baiklah kalau begitu, legendanya aku ubah saja. Agar pernikahan kita bertahan selamanya, dan kita menjadi pasangan yang saling menyayangi sampai kapanpun, bagaimana?"
"Memangnya sejak kapan kau jadi pengarang cerita?" Baekhyun merangkul bahu sempit Taeyeon dan berjalan pelan. "Saat aku memiliki malaikat cantik sepertimu, Byun Taeyeon." Bisik Baekhyun berhasil membuat Taeyeon bersemu. Tidak Luhan tidak Baekhyun sama saja, sama-sama mempunyai fantasi yang berlebih terhadapnya, peri dan malaikat? Apa-apaan itu? Semua orang juga tahu jika dia itu manusia, bukan peri apalagi malaikat yang ada dalam pikiran kedua pemuda itu.
"Dasar bodoh." Dan umpatan Taeyeon menghadirkan tawa bahagia diwajah Baekhyun.
Keduaanya berjalan menyusuri Marriage Road yang begitu terkenal dengan karpet saljunya itu. Melangkah menuju masa depan mereka, menuju kebahagiaan yang selama ini mereka tunggu. Taeyeon yang ingin lepas dari jerat kenangan tentang laki-laki yang memiliki mata bagai rusa bermana Luhan itu, dan Baekhyun yang menanti hati gadis itu untuk menatapnya, melihat cintanya.
Taeyeon beruntung, benar-benar beruntung. Karena meskipun Baekhyun menginginkannya, dia tidak pernah memaksa. Ketika mereka terikat dalam perjodohan kedua keluarganya, Baekhyun tidak memanfaatkan kesempatan itu untuk menaklukan Taeyeon. Bahkan pemuda itu bertanya dan menyakinkan apa Taeyeon bersedia dijodohkan dengannya. Dan karena meskipun Taeyeon telah resmi menyandang marga Byun didepan namanya, lelaki itu tidak pernah membatasi Taeyeon yang masih mengenang Luhan dalam hati dan ingatannya. Lelaki itu justru selalu menjadi sandarannya ketika ia lelah menangis karena mengingat pemuda Beijing itu.
Dan mungkin saat ini memang saatnya Taeyeon menghentikan penantiannya dan Baekhyun. Menyerah atas Luhan dan mulai menatap Baekhyun. Bukankah memang lebih indah membalas seseorang yang mencintai kita dari pada menanti seseorang yang bahkan enggan untuk menatap kita.
Taeyeon membuktikannya, dia telah membuang setiap kenangan yang selalu mengikat hatinya. Menghapus setiap barang dan tempat yang menjadi saksi atas kebersamaannya dan Luhan. Taeyeon benar-benar akan membuat kenangan baru bersama Baekhyun, pria yang setia bersamanya, yang bersedia menantinya dan suami yang akan membawanya pada kehidupan yang lebih nyata dari sebelumnya.
'Meski awalnya tidak baik-baik saja, ini berjalan lebih baik dari sebelumnya dengan sendirinya. Terima kasih pernah hadir dan membuat kenangan yang indah, walau kini aku harus melepasnya. Luhan-ah, berbahagialah. Dan Baekoong-ah, aku mencintaimu mulai sekarang, Byun Taeyeon.'
-Fin-
************************
Aisy Kim <3
Tidak ada komentar:
Posting Komentar